Welcome Perpustakaan Maritim Wakatobi

Oleh: Saleh Hanan

Saya baru saja berdiskusi dengan Doktor Sumiman Udu. Sudah sering diskusi, tapi kata kunci ini baru muncul tadi ketika kami membahas Yayasan Wakatobi+ (plus). Sebuah yayasan trans unsur. Trans dari kearifan, teknologi, manusia, ide.
Rekan ini dulu, harus ke perpustakaan di Belanda untuk mencari literatur penelitiannya di Indonesia. Sudah lama saya tau.
Tapi kata kuncinya ini baru rampung: Belanda itu mengumpul, membarter, bahkan membawa lari naskah dan benda pusaka dari nusantara ini dengan skenario ratusan tahun lalu itu, untuk mempertahankan jumlah kunjungan orang ke Belanda dikemudian hari.
Dan sudah terjadi.
Bahasa pasarnya mempertahankan jumlah kunjungan wisatawan.
Hampir empat tahun saya dan beberapa kawan bertahan dengan ide perpustakaan berbasis literatur kemaritiman di Wakatobi. Sebuah perpustakaan maritim.
Isinya mula-mula akan dikumpul dari seluruh dokumen hasil penelitian ekologi, ekonomi, sosial, budaya, di Wakatobi yang dilakukan masyarakat lokal dan komunitas nasional dan internasional, paling tidak dalam 40 tahun terakhir di Kepulauan Tukang Besi ini.
Juga karena orang Wakatobi suka berlayar dan memiliki ketergantungan terutama dengan daerah-daerah yang sama-sama berhalaman di Laut Banda, isi Perpustakaan Maritim Wakatobi, bisa merepresentasikan region Laut Banda.
Belanda banget? Keren habislah.
Mengapa Belanda lakukan itu ratusan tahun lalu? Belanda sadar tak punya cukup potensi alam untuk biaya negara, sehingga menggunakan potensi otak. Sayangnya yang kita review tiap tahun adalah kisah 350 tahun adegan. Mulai perang dan penindasan.
Kita jarang sampai pada skenario otak mereka.
Bagaimana Wakatobi? Pesona laut, pemandangan, kultur, mungkin banyak saingan.
Perpustakaan akan menjadi monumen diversifikasi pasar. Pembeda.
Isu Wakatobi dan Laut Banda itu saja, perpustakaan ini sudah sangat seksi.
Ide asalnya adalah meniru iklan teh botol sebenarnya, “Makan apa saja, minumnya teh ini.”
Ya, kuliah di mana saja, risetnya di Wakatobi.
Pembelajaran untuk ini adalah perjalanan para peneliti dan mahasiswa yang diorganisir Operation Wallacea selama puluhan tahun ini ke Pulau Hoga, Wakatobi. Juga perjalanan mahasiswa KKN Nusantara, KKN UGM, UHO, dan perguruan tinggi lokal lainnya.
Rumah makan, rumah penduduk, hotel, restoran, pasar, rental, ojek, akan dipenuhi para pengunjung perpustakaan. Dari dalam dan luar negeri.
Uang mahasiswa itu tidak sebanyak biaya liburan pasangan cinta nan kaya semisal Irwan Mursyi dan Maiya Estianti. Tetapi para mahasiswa yang jumlahnya akan ribuan itu akan memberi efek promosi dari ketukan jari mereka tiap menit. Gratis lagi untuk Wakatobi.

Diskusi hari ini dengan kata kunci skenario akal Belanda dalam mempertahankan wisatawan dengan mengumpul semua barang yang di kita boleh jadi jaman dulu dianggap tak berguna, telah memberi bobot ilmiah atas ide Perpustakaan Maritim Wakatobi.

Kapan?
Ah siapa?

CeritakanWakatobi

Wakatobi+

Visit-Wakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *