Watu Towengka atau Sombu Dive Icon Desa Wisata Sombu

Watu Towengka merupakan salah satu kawasan perlindungan alam yang dilakukan oleh masyarakat adat kadia wanse. Untuk melindungi kawasan ini, masyarakat adat kadhia Wanse mengenal mitos pelabuhan waliullah yang memiliki hubungan dengan motika Wa Bue-bue, Untu Wa Ode. Dalam kesadaran masyarakat kadhia Wanse, wilayah ini adalah wilayah yang keramat, sehingga harus dihormati oleh masyarakat setempat.

Dewasa ini, kawasan Watu Towengka sudah dijadikan sebagai salah satu site yang ada di pulau Wangi-Wangi, karena kawasan yang dilindungi masyarakat adat ini memiliki karang yang indah. Namun pembangunan pelabuhan perikanan yang ada di kawasan ini telah memberikan ruang public baru, sekaligus ruang wisata yang saat ini dikelola oleh masyarakat yang berasal dari desa Sombu.

Namun, perubahan nama Watu Towengka menjadi Sombu Dive secara kultural akan memberikan perubahan makna bagi masyarakat yang tidak mengenal daerah ini sebagai daerah karamah. Istilah lokal Watu Towengka memiliki makna kultural yang tentunya berhubungan dengan perilaku masyarakat setempat, terutama dalam memberikan perlakukan terhadap laut di kawasan ini. Mereka akan memberikan penghargaan, terutama ketika mereka melewati wilayah Watu Towengka. Beberapa kebiasaan masyarakat kadhia Wanse adalah tidak mendayung dengan menyentuh sampah, sehingga tidak menimbulkan bunyi ketika melewati daerah ini. Mereka juga akan membuang daun sirih atau makanan jika melewati daerah ini. Konon kabarnya, masyarakat kadhia Wanse percaya bahwa kawasan Watu Towengka dihuni oleh mahluk halus yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan sebagaian masyarakat yang ada di daerah ini.

Dengan demikian, dalam mendukung pengembangan desa wisata Sombu, istilah Watu Towengka sebaiknya dipertahankan oleh pemerintah kabupaten Wakatobi, karena itu akan memberikan makna histori dan budaya terutama dalam mendukung pembangunan desa wisata Sombu yang berkelanjutan. Sebaliknya, jika Sombu Dive yang diperkenalkan, maka masyarakat lokal juga akan kehilangan makna histori dari kawasan ini. Akibatnya, mereka tidak akan peduli terhadap keberlanjutan terumbu karang. Bahkan beberapa bulan yang lalu, mahasiswa KKN dari Universitas Sebelas Maret yang meninggal di kawasan ini karena mereka tidak mengetahui kondisi arus yang ada di kawasan Watu Towengka. Pada hal, kalau destinasi wisata ini menggunakan istilah lokal, maka wisatawan yang akan melakukan diving dan snorkeling di kawasan Watu Towengka akan memahami keadaan arus laut yang keras, potensi ikan hiu yang berada di kawasan ini.

Kita bisa berharap, untuk mendukung pembangunan desa wisata yang ada di kawasan ini, istilah Watu Towengka hendaknya dihidupkan kembali, karena di dalam istilah itu melekat norma-norma sosial yang berhubungan dengan Watu Towengka sebagai salah satu wilayah konservasi laut berbasis masyarakat adat (su001).

Baca jugaย Potensi Pengembangan Desa Wisata Posalu

One thought on “Watu Towengka atau Sombu Dive Icon Desa Wisata Sombu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *