Wa Saridi: Yang Selalu Tau Cara Pamit Dengan Indah, Senja

Oleh: Saleh Hanan

Wa Saridi nama mata air dalam goa vertikal di Desa Liya Onemelangka. Letaknya 50 meter dari jalan raya ke arah barat, atau 50 meter di timur pantai.
Dari pusat kota Wangi-Wangi, Wakatobi, jarak Wa Saridi sekitar 6 km. Air Wa Saridi jernih, banyak udang kecil hidup dalam airnya, berenang dan bermain di antara bebatuan. Diameter permukaan airnya tidak luas. Keseluruhan ruang dalam goa kira-kira seluas kamar tidur rumah dan lingkaran mulut goa mungkin dua kali lingkaran ban sepeda ontel. Penduduk terutama anak-anak sering memancing udangnya dengan umpan potongan daging kelapa. Bukan untuk dimakan udang itu, tetapi hanya untuk disimpan dalam botol dan dilihat-lihat anak-anak. Letaknya yang jauh dari pemukiman dan di bawah rindang pohon kelapa, membuat lingkungan air Wa Saridi sejuk, indah. Akan tetapi 5 tahun terakhir, persis disamping mulut goa sudah dilalui jalan rabat semen. Rumah dan fondasi rumah sudah merubah suasana lingkungan Wa Saridi yang hijau alami.

Baca:ย Icon Perahu Pinisi: Simbol Maritim di Pantai Losari
Banyak mata air diantara runtuhan batu atau dalam goa seperti Wa Saridi, yang berukuran besar dan menjadi permandian, di Wakatobi. Masalahnya semua sama, tidak mendapat perlindungan, seperti menetapkan zona hijau di lingkungan mata air. Akibatnya pembangunan rumah dan jalan menekan kwalitas lingkungan mata air.
Seperti juga ratusan mata air lain, Wa Saridi akan menghilang dari hidup kita, perlahan seperti senja sampai-sampai kita tidak sadar telah berakhir, sebab kita abaikan.
Ah, yang selalu tau cara pamit dengan indah, senja.

Refleksi atas Tulisan Saleh

Tulisan Sholeh yang terdiri dari 231 kata, merupakan sebuah catatan penting untuk konsep pengelolaan sumber daya. Banyak air gua seperti Wa Saridi ada di Wakatobi, tetapi tidak pernah mendapatkan perhatian yang penuh dari masyarakat maupun pemerintah.

Di tengah kota Wanci, kasus yang mirip kasus Wa Saridi, terjadi pada satu salah satu situs sumber daya yaitu mata air laut dan mata air Tope. Di kelurahan Wanci ada juga 1 air yang bernama Te’embangka hampir tidak bisa digunakan, pada hal itu adalah sumberdaya yang merupakan hadiah Allah untuk kita semua.

Untuk konteks Wakatobi, berbagai sumberdaya ini merupakan titipan generasi mendatang. Oleh karena itu, perlu kebijakan dan kesadaran masyarakat untuk melestarikan berbagai sumberdaya yang ada.

Bacaย Jaka, sang Inovatif: Pemenang karya Inovasi dalam Wakatobi Wave

Di desa Tindoi, debet air mata air Seru sudah mulai berkurang. Masyarakat sudah mulai antri. Terlebih pada sore hari, akibat debet air yang kurang, akhirnya sudah menjadi keruh. Dengan demikian, upaya konservasi lahan yang ada di atasnya, perlu dilakukan, sehingga bisa dijadikan ruang konservasi mata air.

Kita bisa tidak makan satu hari satu malam, tetapi tidak mungkin kita tidak bisa bertahan tanpa air. Untuk itu, tulisan Saleh merupakan bentuk kepedulian atas keadaan sumber daya, yang bisa saja pergi dengan indah. Karena situs situs sumberdaya itu akan pergi dengan indah, dan kita gagal merawat sumber daya titipan generasi masa depan.

Editor: Sumiman UduIMG_20191205_123411

Baca:ย Cara Hebat Konservasi: Pantai Sousu di Sulap Menjadi Ruang Publik Wisata Desa

Watu Towengka atau Sombu Dive Icon Desa Wisata Sombu

Kota Naga Tempat Mujur di Wakatobi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *