WA IMPO: Perempuan yang Menjaga Pepohonan

Oleh: Abas

Tersebutlah seorang perempuan tangguh yang mendiami bukit (fungka) dengan dataran kecil di kaki benteng Rambi Randa tepat di sebelah utara timur laut perkampungan Tiroau.
Bukit ini lebih tinggi kedudukannya dari bukit Waruu atau puncak yang berada di sebelah barat dayanya.
Dari bukit ini kita bisa menikmati hamparan savana di Salantowaha yang merupakan areal perkebunan dan peternakan masyarakat Tiroau.
Wa Impo demikianlah namanya di ceritakan dan di wariskan ke kami orang tiroau.

baca Juga Pohon Kelor: Makanan Tradisonal Masyarakat Wakatobi

Ia adalah penjaga kaki benteng Rambi Randa merawat, menjaga pepohonan dan tanaman lokal lainnya. Di sela pepohonan di buatnya jalan setapak kecil yang menghubungkan benteng Rambi Randa, Salantowaha dan perkampungan Tiroau, tak dibiarkannya rumput tumbuh menghalangi jalan kecil itu, di kiri kanannya dijejernya bebatuan kecil dengan rapi sebagai batas bagi siapapun yang melewatinya agar tidak merusak pohon ataupun tanaman di bukit itu, dibiarkannya daun daun kering memenuhi jalan itu dengan maksud ketika dilewati oleh sang maha guru yang bergelar Awaluddin pembawa syiar Islam di Kawati Timu dan pengikutnya tidak terantuk atau menendang batu dalam menjalankan misi kenabian Muhammad Saw.


Kuliah Dua Tahun Empat Bulan: S3 Kedokteran Unhas Dituntaskan

Di kiri kanan sepanjang setapak tersebut ditanaminya dengan berbagai jenis buah salah satunya adalah munte (jeruk) patani dan tanaman lainnya agar bisa menghilangkan rasa haus dan lapar dari sang maha guru beserta pengikutnya.
Saat musim penghujan disiapkannya wadah dari kulit kima untuk menampung air hujan yang dijejer atau diatur di bawah pohon bhakara yang berdaun lebat yang berfungsi semacam kampengalo (seperti fungsi paralon di atap rumah) hal ini dimaksudkan agar pada musim kemarau selalu ada persedian air untuk masak, minum dan air wudhu bagi sang maha guru dan pengikutnya.

Malang tak dapat ditolak, bencana itu datang tak di sangka bukit tersebut dilalap api, membakar dan menghanguskan pepohonan dan tanaman lain yang dirawat dan dijaganya, semua persediaan air yang ditampungnya pada kulit-kulit kima raksasa habis dipakai untuk menyiram api yang tak kunjung padam.
Wa Impo berlari sekuat tenaga menuruni lembah, melewati bukit sambil menjunjung kulit kima ke arah pantai untuk mengambil air dengan harapan bisa memadamkan api yang berkobar di bukit itu, tergesa-gesa diisinya kulit kima tersebut dengan air dan dibawanya kembali melewati bukit dan lembah yang telah dilaluinya menuju bukit itu.

Sayang beribu sayang sesampainya di bukit itu tak setetespun air tersisa di kulit kima yang dijunjungnya tertumpah sedikit demi sedikit dalam perjalanannya menapaki bukit dan lembah, panik, letih, lapar dan haus melandanya. Matanya nanar menatap bukit yang terus dilalap api semuanya berubah tak ada pepohonan dan tanaman lagi bukit itu gundul dan hitam dipenuhi arang dan abu.
Kegundahan melanda jiwanya air matanya turun deras menyatu dengan peluh keringat di badannya, tak ada lagi pepohonan tempat beristrahat dan berteduh sang maha guru, tak ada alang-alang tempat ia duduk mendengar kisah Sitti Hajar, Maryam, Sitti Khodijah dan lain-lain dari sang maha guru.

Di tengah kegalauannya berlarilah ia ke tengah kobaran api sambil berteriak
“Ooo Waopuuu kawasa Moori Alammo iyaku, Sumano Bhara Ualae Kene Parainufu I Hu’u Nu Lava Iso’
“Wahai Tuhanku, Ambil Saja Nyawaku Asal Jangan Kau Bakar dan Hanguskan Pepohonan Di Pintu Masuk Benteng Rambi Randa”
Dan kisah Wa Impo pun berakhir bersamaan dengan padamnya api di bukit itu, Ia adalah legenda Sitti Hajar di pulau karang ini, Abadilah namanya di bukit itu dengan sebutan “Fungka Wa Impo”

Jum’at 21 Feb 2020
Di tulis oleh Abas ๐Ÿ™

Editor: Admin

One thought on “WA IMPO: Perempuan yang Menjaga Pepohonan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *