Virus Corona dan Ketahanan Pangan (3)

Perang melawan Corona tetap berjalan, kita harus tetap waspada. Kita dukung pemerintah untuk memotong penyebaran virus dengan tetap menjaga berkumpul bersama orang banyak. Di tengah kondisi itulah berbagai masalah timbul. Kalau tinggal di rumah, bagaimana kalau mencari bahan makanan? Bagi warga desa, pergi ke kebun, atau ke laut, asal berangkat sendirian tidak masalah. Karena virus Corona bekerja dari manusia ke manusia.

Pada krisis 1997, ketika dolar melonjak dari 2500 rupiah ke 15 ribu rupiah, petani justru panen besar. Harga cengkeh melompat jauh, coklat juga begitu. Di sini sisi positif dari sebuah krisis. Ketika semua panik, karena virus dan jatuhnya rupiah, maka pertahanan kita sebenarnya adalah pangan lokal kita.

Beberapa daerah yang memiliki lumbung makanan seperti Sulawesi Selatan, beras banyak dan bahan makanan lainnya cukup. Pandemi ini tidak membuat panik, karena ketersediaan makanan bagi masyarakat cukup, dan tidak perlu menumpuk bahan makanan. Berbeda dengan daerah daerah lain seperti Wakatobi, bahanan makanan banyak disuplai dari luar daerah seperti Baubau, Kendari dan Buton, Buton Utara.

Baca Juga

Virus Corona atau Covid 19 dan Kemandirian Pangan Lokal

Kalau pangan lokal dikelola dengan baik, sebenarnya masyarakat Wakatobi memiliki kebun singkong sebagai bahan baku soami. Ada juga jagung yang bisa diandalkan. Namun, karena pertanian ini membutuhkan waktu yang panjang dan tidak diusahakan secara industri, maka kebanyakan masyarakat juga sudah tidak memiliki kebun singkong. Akibatnya, potensi langkanya bahan pangan sangat besar. Tetapi kekacauan ini, membuat para petani singkong akan panen. Demikian juga dengan petani sayur. Jadi pandemi ini juga harus dilihat dari sisi positif, bahwa pangan lokal, bisa menguntungkan para petani.

Kalau pangan lokal kuat, maka kita tidak perlu panik soal bahan makanan. Karena pembatasan sosial tidak melarang petani dan nelayan untuk beraktivitas. Masyarakat bisa memproduksi pangan lokal sebagai cadangan makanan kita. Model pemasaran soami dan opi (bahan baku soami) dapat dijual melalui online. Sehingga tidak mesti kumpul ke pasar.

Bagi para nelayan juga dapat terus memancing atau tetap beraktivitas. Asal dilakukan bukan dalam bentuk berkelompok. Karena ini akan memberikan ketahanan pangan kita. Demikian juga dengan petani, mereka kasih bebas untuk bekerja di sawah, ladang dan kebun.

Mengapa Korea Selatan mampu cepat keluar dari pandemi Corona, karena kesadaran masyarakat untuk distanting social merata. Di samping itu, mereka sudah memiliki SOP untuk menghadapi pandemi dengan belajar dari virus sars beberapa tahun yang lalu. Yang dapat kita siapkan sehubungan dengan pangan adalah, perlunya persiapan pangan agar bangsa kita tetap survive dalam berbagai pandemi global. Ketahanan pangan kita harus dirumuskan dalam bentuk strategis nasional yang bisa bertahan dalam setiap situasi.

Pelajaran yang diberikan oleh Corona, yang dapat kita ambil adalah pangan harus mandiri, alat kesehatan dan obat-obatan. Ini semua harus mandiri. Jangan tergantung dengan impor dari negara lainnya. Apalagi kondisi saat ini, terjadi kombinasi yang rumit, yaitu virus Corona yang telah berdampak pada jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar. Membuat kita sadar bahwa infrastruktur pangan, obat dan alat kesehatan kita begitu lemah. Budaya impor sudah harus dihentikan dan menghidupkan pangan lokal, obat obatan dan bahkan alat alat tradisional.

Bersambung โ€ฆ…..

Virus Corona atau Covid 19 dan Ketahanan Pangan kita (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *