Virus Corona atau Covid 19 dan Ketahanan Pangan kita (2)

Saatnya kita harus kembali mengingat kata kata mantan Presiden Soeharto 25 tahun yang lalu. Dalam video yang terbagi secara massal itu, beliau menyarankan kepada generasi bangsa untuk mencintai produk produk dalam negeri. Tentunya sebagai seorang presiden yang begitu lama memimpin bangsa ini mengerti apa yang akan terjadi di masa depan. Beliau menyebut angka tahun 2020, sebagai tahun dimana kita harus mencintai produk produk lokal kita, termasuk pangan.

Tentunya sebagai generasi milenia yang saat ini tampil sebagai generasi penerus bangsa, di depan mata kita dan di dalam keputusan kita untuk mengambil langkah bersama untuk membangun bangsa ini. Sebuah keputusan yang harus kita ambil bersama, negeri yang ada di dalam novel atau catatan Plato ini perlu kita sadari bahwa kita memiliki kemandirian di bidang pangan, kalau kita beralih ke pangan lokal kita yang aman.

Sepanjang pantai kita memiliki potensi yang sangat luar biasa. Pantai dengan kelapa yang berjejer itu adalah basis pangan kita selain kelapa sawit. Apa yang terjadi? Kelapa kita tinggalkan, teknologi pabrik santan kita belum olah, pada hal pasar global menanti. Pasar santan kemasan masih didominasi oleh Thailand untuk ekspor tujuan Eropa dan Amerika. Pada asal kelapanya dari Indonesia. Dalam ekspedisi Kawasan Timur Indonesia, yang kami lakukan adalah mendata jejak pelayaran tradisional perahu karoro atau nyangka Wakatobi ke arah Maluku. Hasilnya adalah luar biasa, jutaan pohon kelapa kita yang tidak diremajakan hanya karena pasar kelapa jatuh. Anak anak petani yang pernah berjaya pada era perahu karoro kini meninggalkan lahan lahan kelapa warisan mereka untuk bekerja di tambang. Mereka kesusahan pada pasar kelapa, yang hanya dibuat kopra.

Baca Juga MembangunDesa Wisata Jauh Lebih Berat Dibandingkan dengan Membangun Hotel dan Resort

Apa yang kurang? Teknologi pascapanen yang tidak maksimal. Seorang sepupu dari Taliabu yang menanam kelapa, begitu kaget saat saya membeli kelapa di kota Kendari. Ia bertanya berapa?” Saya menjawab 3 buah dua puluh ribu rupiah. Seketika ia berkata, “ternyata saya cepat kaya kalau di sini’ karena saya bisa menjual hasil perkebunanku dengan harga yang mahal. Tetapi di Taliabu, kelapa tak ada harganya, semua orang punya kelapa, hargnya hanya 500 rupiah perbuah.

Kepala sebagai tanaman multi guna ini, dibiarkan sepi menyendiri tanpa kita peduli teknologi pascapanennya. Mereka dibiarkan berdiri bahkan bukan produk pertanian yang bisa menjanjikan. Anak anak pewaris ditinggalkan begitu saja. Jika ada jaminan harga pasar yang aman serta industri menjamin pengembangan santan untuk ekspor, maka pangan lokal ini akan berjaya. Ia akan mendukung kejayaan kelapa sawit yang sudah siap mandiri, ketika diolah sebagai bahan bakar minyak, mengganti minyak mentah yang selama ini kita impor.

Belum kita bicara tentang pangan lainnya. Sepanjang daratan Indonesia, kelor tumbuh tak terhingga. Kata orang kampungku, kelor itu tumbuh sepanjang tahun dan tidak manja. Mengapa kita tidak olah secara industri oleh negara. Dana desa digunakan untuk anggaran pengembangan bibit kelor, industri menjadi penyedia teknologi pascapanen, negara mendukung, kita bisa mengekspor tepung kelor ke dunia internasional. Desa menyediakan bahan baku yang tak terhingga besarnya. Industri mengambilnya dengan harga yang baik. Mereka hanya membangun SOP pengelolaan tanaman maka semua akan berjalan.

Perjuangan Kesetaraan: Jejak dan Mimpi Haliana

Pangan kita bisa aman dan bergizi, dapat pula menjadi suplai berbagai bentuk gizi, kita bisa meningkatkan imunitas diri kita dan kita bisa melawan corona. Dengan imunitas tinggi, kita bisa lebih kuat dalam memenangkan perang virus dan pangan di masa depan. Kita dapat mengimpor hasil hasil pertanian kita, atau paling tidak, kita bisa mandiri secara pangan.

Tanaman kelor juga banyak manfaatnya, kita bisa mensterilkan air kita dengan kelor, menghasilkan banyak jenis makanan dari turunan kelor. Sebagai contoh, seorang mahasiswa program Pascasarjana di Universitas Halu Oleo mampu menciptakan beberapa jenis kue yang berbahan baku kelor. Ini adalah peluang yang kita bisa kerjakan bersama. Teorinya mereka sudah miliki, tinggal bagaimana keberpihakan kita pada produk produk dalam negeri. Ini butuh komitmen bersama.

Di tengah virus Corona, kita tetap di rumah, dan bagi warga desa bisa di kebun, karena virus ini aman kalau di kebun. Kita harus mampu mengerjakan apa yang bisa kita lakukan dengan tidak mengambil tindak beresiko, seperti kumpulan orang orang. Bekerja di kebun, dengan tetap menanam, sehingga keberlanjutan pangan juga tetap terjaga. Kita tidak perlu panik, hanya kita harus tetap siap untuk menjalankan program pemerintah.

Dengan wabah ini, kita bisa menyadari, betapa pangan lokal kita kaya, semoga bisa kita menemukan misi bersama untuk membangun pangan kita secara bersama sama. Kita tidak punya musim gugur dan dingin, kita memiliki 365 hari pertahun,dan tanaman kita tumbuh selama 24 jam perhari.

Bersambung …..

Perpustakaan Desa: Titik Awal Membangun Peradaban

ย 

Harga Kelapa Terjun Bebas: Bagaimana Nasib Petani di Desa?

ย 


Desa Masalili: Pesta Rakyat dan Launching Wahana Bermain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *