Tumpukan Sampah di Wakatobi telah Mengkhawatirkan

Wakatobi sebagai salah satu kabupaten yang menjadikan wisata sebagai leading sektornya, telah berhadapan dengan perkembangan masyarakat yang tidak menyadari akan adanya bahaya dari sampah. Pengelolaan sampah yang belum terlalu maksimal, rupanya telah memberikan pengaruh yang besar terhadap lingkungan yang ada di Wakatobi.

Jika pengelolaan sampah di Wakatobi tidak dilakukan inovasi, maka di masa yang akan datang Wakatobi bukan lagi kepulaun yang indah, tetapi kepulauan yang penuh dengan sampah. Saya teringat pada peringatan seorang turis dari Rusia yang saat itu berlibur di Patuno Resort, ia berjalan di pantai dan melihat banyak orang yang bertamasya di pantai. Ia melihat perilaku masyarakat yang tidak peduli dengan pantai, mereka membuang sampah plastic sembarang di pantai, mulai dari kantong plastic, gelas plastic hingga botol-botol plastic. Melihat pengunjung itu yang bergegas pulang dan meninggalkan sampah mereka berserakan begitu saja, teman tersebut kemudian mendekatiku dan mengakatakan dengan bahasa Indonesia yang sangat terbatas.

“Pak, saya melihat Bapak sangat berbeda dengan mereka, Bapak menyimpan sampahnya. Tetapi mereka tidak” matanya menatap sampah-sampah yang berserakan, dan juga melihat ibu ibu yang bergegas mau pulang karena sudah sore hari. Saya hanya melongo melihat perilakunya mengumpulkan sampah di sekitarnya, kemudian balik kepadaku, “Kalau bisa tolong sampaikan kepada seluruh pengunjung agar mereka memungut sampah yang ada di sini. Karena anda bisa membayangkan, kalau setiap hari pantai ini diperlakukan seperti ini, maka bayangkan kalau 50 sampai 100 tahun yang akan datang. Kita ke sini bukan lagi mendapatkan pantai yang indah dan bersih, tetapi kita akan mendapatkan berton-ton sampah”, tatapnya seakan memakan seluruh pengunjung.

Dari Peristiwa itu ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil, bahwa dalam 50 sampai 100 tahun yang akan datang, Wakatobi yang indah ini sudah tidak ada. Semuanya sudah berubah menjadi tumpukan sampah. Maka, sejak tahun 2013 yang lalu, saya berdiskusi dengan temanku yang bekerja di Jepang. Ia mengatakan bahwa masalah sampah itu harus dikelola dengan teknologi modern. Kita tidak boleh mengelola sampah setengah-setengah dan kita harus mengelola sampah sampai di ujungnya, yaitu sampah plastic harus sampai ke daur ulang, dan sampah organic harus sampai pada akhir pengelolaan menjadi pupuk organic. “temanku itu memintaku untuk melobi pemda Wakatobi agar membeli mesin yang dapat mengolah sampah sampai dua akhir sampah tadi. Namun, tidak ada tanggapan. Akibatnya, pengelolaan sampah kita hanya mengumpulkan sampah yang tidak dipisahkan organic dan unorganik yang kemudian diantar ke sekitar Watu Kapala, dan ada juga masyarakat yang membeli sampah mentah tersebut, kemudian ditumpah di tengah hutan lindung (padangkuku), dan mereka mulai menanam tanaman jangka pendek, sementara tidak diketahui betapa beresikonya menghasilkan sayuran pada tumpukan sampah mentah yang belum terolah.

Sampah-sampah mentah tersebut masih bercampur dengan berbagai sampah kimia, terutama pada sampah plastik, dan berbagai sampah unorganik lainnya. Jika dijadikan pupuk tanaman sebagaimana kebiasaan tradisional kita yaitu (hereso) maka akan beresiko bagi kesehatan.

Baca Juga Kacang Jodoh dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Di sisi yang lain, ketika saya tinggal di Yogyakarta, pengelolaan sampahnya sedikit lumayan, terutama kesadaran masyarakatnya. Suatu waktu, seorang anak TK menegur seorang mahasiswa yang membuang sampah sembarangan. “Kak, kalau abang membuang sampah sembarang, dan sampah itu lari ke sungai, maka kita akan kebanjiran”, tergur anak itu. Ini menunjukan bahwa pengelolaan sampah harus ditempuh dari pembentukan karakter hidup bersih sejak kecil. Dengan demikian, Wakatobi membutuhkan pengelolaan sampah dengan teknologi tinggi, pembentukan karakter hidup bersih dan sehat melalui pendidikan, serta upaya untuk mendorong peraturan daerah tentang pengelolaan sampah, karena jika tidak terkelola dengan baik. 50 sampai 100 tahun yang akan datang, Wakatobi adalah wilayah yang penuh dengan sampah (su001).

Baca juga Potensi Pengembangan Desa Wisata Posalu

2 thoughts on “Tumpukan Sampah di Wakatobi telah Mengkhawatirkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *