Tuan Guru Isa dan Persiapan Musim Kelaparan

(Bagian 2, fiksi wabah kolera 1970, adaptasi dari potongan-potongan fakta wabah korona 2020)

Oleh: Saleh Hanan

Luar biasa, Tuan Guru Isa kembali. Lebih karena memimpin sholat subuh ini; ialah kabar yang dibawanya lain. Sebuah rencana melawan wabah dengan bertani. Menanam bahan makanan untuk persiapan musim kelaparan. Belajar mensiasati lahan tandus pulau-pulau Tukang Besi, seperti pertanian bangsa Arabu dan Isirail yang menaklukan padang pasir.

Masih ada satu kejutan. Tentang tukang azan tadi, pelaut Kaledupa. Jarang-jarang kita bertemu pelaut dari pulau sebelah itu di langgar. Ketika berlabuh, mereka paling suka datang ke kedai kopi di pasar pelabuhan, setelah atap rumbia muatan perahunnya dibongkar pedagang langganan.
Tak cuma itu azan, ternyata atap langgar yang telah bocor berbulan-bulan, sudah diperbaikinya menggunakan atap rumbia muatan perahunya sendiri.
Pelaut itu dan temannya yang memanjat, naik langsung mengikat lembaran-lembaran atap pada kaso-kaso kayu, kemarin sore. Tujuan akhir pelayaran mereka ke Pulau Sula untuk membeli kopra.
Tentang kedai kopi, halaman kedai setiap pagi menjadi center point para penjual ayam dari kampung-kampung dalam pulau ini, tempat pedagang pisang dari Kolensusu di daratan Buton, tempat pedagang gula cair dari Rote dan Binongko. Termasuk tempat menjual gaple, sagu, keladi yang dibawa pelayar Wangi-Wangi dari Pulau Seram, Buru atau Banggai. Juga ini, tempat bongkar garam dari Bima yang dibawa pelayar Tomia. Ada pula pedagang tembakau leta dalam tabung bambu. Orang Selayar. Merangkap tukang mas.
Kue wajik pucat karena kurang ketan dan gula merah, kue terang bulan dan pisang goreng, tiga menu utama kedai kopi.
Masih dalam ekosistem pasar komoditi antar pulau itu, warung nasi satu-satunya milik Mama Jawa. Pelanggannya setingkat di atas kedai kopi. Bisa dilihat dari beberapa honda dan sepeda yang parkir di halaman sampingnya. Honda ialah sebutan sepeda motor merek apa saja. Kelas warung juga terlihat dari pakaian para tamunya. Pemilik baju safari dan berkopiah hitam, itu tuan guru kepala sekolah. Pangkat tinggi kedua setelah camat disini ialah kepala sekolah. Sedangkan yang bersongkok putih, itu para haji, para pelaut senior. Mereka tak berlayar lagi. Tinggal mengurus toko dan memegang buku nota bon, yang lembarannya dipenuhi nama-nama para kepala sekolah.
Meski tak ikut berlayar, kapal-kapal para haji keluar masuk Surabaya, Singapura atau menjelajahi pulau-pulau timur nusantara.
Namun, sebulan terakhir semua suasana riuh dan jenaka di pasar telah beku oleh wabah. Beku ialah campuran sunyi dan mencekam.

Adapun subuh ini di langgar kami, salah seorang dari lima pemuda yang biasanya hanya datang saat siang sampai petang, tiba-tiba hadir berjamaah. Rupanya yang ini tidak termasuk yang suka ikut latihan karate lepas isya, yang membuat mereka lelah dan terlambat bangun. Ini yang ingin melanjutkan sekolah guru, bukan tes tentara. Karena itu tak perlu latihan kebugaran fisik.
Tuan Guru Isa, sebenarnya bukan guru, atau bukan guru biasa. Beliau baru kembali dari Malaoge. Nama untuk tanjung, muara, sungai, kampung dan kawasan pertanian di timur Pulau Buton, yang paling dekat dengan Pulau Wangi-Wangi, tempat ini.
Orangnya kuat, bertubuh tinggi besar. Panjang telapak kakinya lebih sejengkal. Matanya tajam. Hidupnya kenyang makam asam garam. Zaman gerombolan, begitu tuan guru mengisahkan masa pemberontakan tahun 1953, tuan guru sudah hampir disembelih oleh gerombolan. Di lahan pertanian milik kelompok taninya di Malaoge, tuan guru dan teman-temannya tertuduh mengembangkan pertanian komunis, yaitu sistem mengolah lahan bersama-sama, mengelola hasilnya bersama pula. Untung tuan guru bisa lolos bersembunyi dalam lubang hollow pada batang pohon besar. Atas kepemimpinannya mengorganisir petani itulah kira-kira asal muasal muncul panggilan tuan guru padanya.
Terakhir ketika masa revolusi tahun 1965, tuan guru sempat diintetogasi tentara.
Setelah itu, Tuan Guru Isa kembali ke pulau. Sempat mengisolasi diri beberapa pekan, tapi pagi ini kembali.

Rencana Tuan Guru Isa yang disebutnya sebagai persiapan musim kelaparan, mengingatkan pesan-pesan leluhur akan tibanya suatu masa huru-hara. Konon kelaparan terjadi dimana-mana, pencurian merajalela. Orang lapar dan orang rakus sama mencuri, lalu orang-orang lapar menyerang orang-orang rakus.
Ciri dari masa horor tersebut, memang kelihatan saat wabah seperti ini. Pergerakan orang terbatas, bahan makanan makin kurang. Semua orang baru tersentak merasa, punya lahan tapi kurang menanam. Punya laut tapi sampan-sampan lebih banyak tertelungkup di pantai, tak dipakai mencari ikan. Bahan makanan hanya selalu dibeli.
Orang-orang menggunakan banyak waktunya membahas politik. Lebih sering menghadiri rapat, pawai, diskusi, dari pada bertani atau melaut.
Kini gagasan Tuan Guru Isa untuk membuat persiapan menghadapi musim kelaparan memerdekakan. Membangkitkan bahkan dari perburuan surga dan ketakutan pada neraka. Memperbaiki tujuan-tujuan hidup kami, bahwa tugas manusia berikhtiar.
Saya, 25 tahun setelah pensiun dari dapur umum para bekas romusha yang mengerjakan lapangan pesawat Mandai, lalu pulang mengolah kopra di pulau, ini kali pertama saya merasa kuat.
Tergoda, bagai melihat sehelai bulu sayap malaikat subuh turun di atas bumbungan langgar kami, mengabarkan persiapan menghadapi musim kelaparan.
Menggetarkan.

CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *