Tradisi Lisan sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan

Kalau merujuk pada buku Jan Vansinna yang berjudul Oral Tradition as History di situ dijelaskan mengenai metodologi tradisi lisan yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber dalam penulisan sejarah. Dalam buku tersebut, dijelaskan mengenai pentingnya tradisi lisan sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan. Buku ini mengantarkan banyak penelitian di daerah daerah yang tidak memiliki dokumen tertulis. Hadirnya buku ini memberikan ruang kepada para sarjana untuk melakukan penelitian sejarah atau ilmu budaya lainnya di daerah daerah yang hanya memiliki tradisi lisan. Buku ini sekaligus melemahkan doktrin sejarah no documen no history dari sejarahwan Mary Ritter Beard yang sangat berpengaruh hingga akhir abad dua puluh.

Begitu luasnya wilayah kajian tradisi lisan, melingkupi sejarah, permainan rakyat, adat istiadat, sastra lisan, sampai dengan pengobatan tradisional, maka tradisi lisan memberikan ruang yang luas kepada para sarjana untuk melakukan riset mengenai berbagai hal yang ada dalam tradisi lisan.

Setelah dua puluh tahun meneliti tentang tradisi lisan dan tradisi tulis (naskah Buton) khususnya di Wakatobi, maka proposal awal disertasi saya ketika melamar S3 di UGM berjudul Obat dan Pengobatan Masyarakat Buton: Kajian atas Kesadaran Dalam Tradisi Lisan Masyarakat Buton, tentunya saya berharap banyak yang perlu diriset mengenai obat dan pengobatan tradisional yang ada dalam masyarakat Buton. Impian saya waktu itu, bahwa pengetahuan tradisional yang ada dalam tradisi lisan atau kebudayaan masyarakat Buton dapat dikaji melalui kajian akademik sehingga dapat berguna bagi pengembangan kesehatan dan masyarakat Buton dan Indonesia di masa yang akan datang.

Di Tengah Ketegangan Ancaman Virus, Anti Bodi Alami Diperlukan

Keinginan untuk melanjutkan proposal itu rupanya bermasalah dengan proses penyelesaiannya nanti ketika dijadikan sebagai disertasi. Masalahnya adalah pada uji formula dari setiap obat yang harus dilakukan melalui laboratorium. Pembimbing akan ada dari kesehatan atau medis, sementara dari sisi tradisi lisan dan budaya akan ada dari fakultas ilmu budaya. Muncul masalah di sini, akhirnya saya meninggalkan judul disertasi itu dan konsentrasi pada kajian budaya Wakatobi.

Tetapi niat saya untuk melihat, sisi tradisi lisan muat banyak hal dan sangat penting untuk kehidupan masyarakat tidak redup. Reset reset lapangan saya yang sudah hampir 20 tahun tentunya memiliki hubungan dengan berbagai informan. Pertumbuhan dengan berbagai informasi lapangan yang dilakukan dengan cara etnografi mungkinkan terbukanya berbagai informasi termasuk hal yang berhubungan dengan obat dan pengobatan tradisional. Sebuah ruang atau sisi dari tradisi lisan yang berubah jadi ungkapan.

Pada 2 bulan yang lalu, saya menjadi penguji utama sebuah tesis yang berjudul obat dan pengobatan tradisional masyarakat Muna. Tesis itu sangat luar biasa karena mampu mengungkap resepsi masyarakat Muna berobat di dokter dan berobat kepada dukun dalam masyarakat. Itu juga menjelaskan berbagai tanaman yang menjadi bahan obat tradisional yang ada dalam masyarakat Muna. Saya berpikir bahwa tesis ini dapat dijadikan buku sebagai awal pengembangan obat dan pengobatan tradisional yang ada dalam masyarakat di Sulawesi Tenggara.

Minum Madu: Upaya untuk lMeningkatkan Daya Tahan Tubuh dari Serangan Virus

Kalau kita melihat kepanikan global akibat virus Corona, China sudah mampu menimbulkan lebih dari 6000 pasien. Rupanya Cina menggunakan dua model pendekatan pengobatan yaitu pengobatan tradisional dan pengobatan modern ala barat. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Kita harus mampu mengidentifikasi lebih awal berbagai potensi tanaman atau bahan obat tradisional yang mampu menangkal virus Corona. penelusuran berbagai pengetahuan lokal yang ada dalam kesadaran masyarakat harus dilakukan sesegera mungkin. Karena bisa jadi banyak obat dan obat tradisional yang dapat menangkal virus Corona.

Indonesia harus menyediakan ruang riset kepada seluruh generasi muda hanya untuk melakukan penelitian mengenai obat dan pengobatan tradisional yang ada di dalam masyarakat. Sebagai contoh, vaksin rabies hari ini hanya dapat di produksi oleh Amerika Serikat, tetapi bagi masyarakat Buton, virus rabies bukan sesuatu yang menakutkan bagi mereka. Dengan mengambil sepucuk daun, bisa selamat dari virus yang ditularkan anjing rabies. Pertanyaannya adalah apakah ada pengetahuan lokal masyarakat Buton dan Indonesia pada umumnya yang bisa menangkal virus Corona? Ukuran terakhir menunjukkan bahwa kurkumin dapat menangkal virus Corona. Sementara pasien dari Inggris sembuh dari virus korona hanya mengkonsumsi madu.

Tentunya banyak hal yang perlu di lakukan ke depan untuk mengantisipasi berbagai wabah atau epidemi yang ada di dalam masyarakat. Dalam masyarakat tradisional Wakatobi, kalau epidemi nya berubah wabah ulat atau flu ayam (flu burung), mereka dapat membatasi persebarannya hanya dengan digaris oleh orang tua. Ini tentunya tidak masuk akal, tetapi bagi mereka yang berpikir, ini bisa jadi dapat melakukan pembatasan mengenai datangnya wabah virus ke Indonesia. Ya, kita mesti berdoa dengan mendorong pengetahuan lokal untuk diidentifikasi sehingga dapat digunakan untuk bisa mengobati berbagai bentuk virus termasuk virus Corona.

Penelitian akademik juga perlu didorong, sehingga ditemukan kandungan berbagai obat tradisional yang ada di dalam masyarakat. Jika penelitian mengenai pengetahuan lokal ini dikembangkan, tidak menutup kemungkinan untuk menjadi temuan inovatif yang bernilai ekonomis. Sebagai contoh, sejak kecil saya sudah diberikan daun gantu galaga atau pegagan. Puluhan tahun kemudian pegagan sudah dibuat dalam bentuk kapsul yang harganya Rp.90.000,-.

Dengan demikian, penelitian mengenai pengetahuan lokal masyarakat mengenai obat dan pengobatan tradisional sebagai bagian dari tradisi lisan, mesti didorong untuk membangun pengetahuan berkelanjutan, budaya berkelanjutan. Dalam bukunya China Menggenggam Dunia, Martin Jaques mengatakan bahwa China bukan hanya negara bangsa, tetapi negara peradaban. Mengapa karena apa yang kita lihat di China hari ini adalah untaian peradaban yang telah terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun.

Baca Juga

Inovasi Desa Wisata: Menuju Power Society Wakatobi Indonesia

Untuk itu, jika Indonesia ingin maju, membangun negara peradaban harus menjadi fokus dan perhatian kita. Artinya bahwa tradisi lisan, harus mampu dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai inovatif sehingga dapat mendukung upaya untuk memecahkan masalah masalah sosial saat ini, termasuk menyelesaikan persoalan-persoalan virus saat ini.

Virus Corona dari Hewan Laut, Potensi Penelitian Vaksin dari Hewan Laut Wakatobi

Resto Nike Ardilla: Legenda dan Inovasi Kreatif

Kampus Merdeka Diluncurkan Menteri: UMU Buton, Ruang Inovasi Semakin Terbuka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *