Tradisi Bhanti-bhanti sebagai Kekuatan Budaya dalam Pengembangan Desa Wisata Wakatobi

Wangi-Wangi – Kalau melihat adanya geliat pengembangan desa-desa wisata di kabupaten Wakatobi, maka itu didukung oleh adanya potensi wisata alam dan wisata budaya yang ada di Wakatobi. Namun, kalau kita melihat lebih jauh, maka ada satu tradisi yang menjadi kor dari hampir seluruh performansi tarian yang ada di Wakatobi. Tradisi itu adalah tradisi bhanti-bhanti Wakatobi yang sudah lama tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Wakatobi.

Kalau kita merujuk pada konsep pengembangan pariwisata, maka satu aspek yang perlu dikembangkan adalah aspek pengembangan pementasan atau performasi, baik dalam bentuk tradisi, kesenian, maupun dalam bentuk permainan yang lainnya. Dengan demikian, performansi tradisi bhanti-bhanti Wakatobi, sangat penting untuk dikembangkan oleh setiap desa wisata yang ada di Wakatobi. Karena di dalam performansi tradisi bhanti-bhanti dapat melibatkan penonton secara langsung. Ini akan mengundang ketertarikan kepada turis atau wisatawan untuk merasakan suasana pementasan tradisi bhanti-bhanti.

Baca Juga Kenta-Kenta: Drama Tradisional Masyarakat Wakatobi

Di samping itu, performansi bhanti-bhanti merupakan ruang komunikasi kultural masyarakat Wakatobi, yang selama ini telah tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Wakatobi.  Bahkan kalau kita merujuk pada fenomena masyarakat Wakatobi dua dasawarsa yang lalu, kebanyakan mereka masih ditidurkan dengan lantunan bhanti-bhanti. Setelah mereka memasuki masa remaja, mereka juga melantunkan bhanti-bhanti sebagai ruang komunikasi cinta remaja. Oleh karena itu, menghidupkan kembali tradisi bhanti-bhanti di setiap desa wisata yang ada, akan mengundang wisatawan untuk menikmati kekayaan leluhur tersebut.

Selanjutnya, kalau merujuk pada berbagai tarian yang ada di Wakatobi, hampir setiap performansinya selalu menggunakan bhanti-bhanti sebagai bagian dari performasinya, misalnya Pajogi Pookambua, Lariangi Liya, lariangi Kaledupa, Lariangi Longa, Kenta-Kenta, hingga tradisi Mpalimpali yang ada ada di Kapota, tradisi balumpa, tradisi badendang semuanya menggunakan bhanti-bhanti sebagai bagian dari performansinya.

Baca Juga Kacang Jodoh dan Pengembangan Ekonomi Kreatif

Pada beberapa desa yang memiliki sarana air, mereka dapat menghidupkan kembali tradisi tuhuntuhu, dengan menggunakan bhanti-bhanti sebagai lantunan sebelum melompat ke dalam air, yang di dalam masyarakat Wakatobi dikenal dengan istilah tuhuntuhu. Selain itu, tradisi hekomba dan kabuenga harus kembali dikembangkan disetiap desa wisata, bila perlu masuk dalam kalender ivent yang ada di dinas pariwisata Kabupaten Wakatobi.

Ini menunjukan bahwa tradisi bhanti-bhanti Wakatobi merupakan salah satu produk wisata budaya yang berpeluang dikembangkan di desa-desa wisata yang ada di Wakatobi, karena melalui tradisi ini, ada interaksi yang terjadi antara turis dengan masyarakat lokal. Bahkan pemerintah daerah dapat menangkap keresahan masyarakat melalui teks bhanti-bhanti Wakatobi. Misalnya, jika sara melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan hukum adat, maka dimasa lalu akan selalu menyanyikan teks bhanti-bhanti /timbangi labhonto timbangi/ “buat keseimbangan la bhonto, buat keseimbangan” /te goto nolingka-lingkamo/ “kampung sudah mulai miring” yang merupakan kritik atau peringatan kepada pihak pemerintah untuk kembali ke jalan yang sesuai aturan (su001).

Baca Juga Potensi Pengembangan Desa Wisata Posalu

Transformasi Mitos ke Konsep Konservasi Modern: Bank Ikan pada Desa Wisata Kulati

Watu Towengka atau Sombu Dive Icon Desa Wisata Sombu

Pentingnya Daun Kelor untuk Buka Puasa

6 thoughts on “Tradisi Bhanti-bhanti sebagai Kekuatan Budaya dalam Pengembangan Desa Wisata Wakatobi

  1. Maaf kalau sy baru tau kalau ternyata ada ruangan untuk tempat bermeditasi sehingga kita kembali sadar saat kita mulai melupakan jati diri yg leluhur telah torehkan. Terimakasih kepada pemilik ruang ini dan para penulis rubrik di dalamnya semoga semuanya menjadi berkah dan orang2 sukses. Teruslah berkarya karna banyak generasi yg butuh pencerahan dari perspektif yg berbeda dengan cara pandang mereka sehingga ada pembanding agar lahir keseinbangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *