Togo Motondu: Kutukan atau Patahan

Kalau kita jalan-jalan ke pulau Buton, khususnya di sekitar La Salimu, kita akan menemukan suatu situs Togo Motondu, jam saat ini sudah ramai dikunjungi oleh orang-orang yang ada di sekitar Togo Motondu, sebagai salah satu situs perkawinan inses.

Dalam kebudayaan masyarakat khususnya masyarakat La Salimu, tersebar sebuah cerita bahwa konon kabarnya di zaman dahulu ada seorang putri yang cantik jelita dan disukai oleh seorang putra mahkota dari kerajaan Luwu. cinta seorang pangeran yang kebetulan lewat di daerah Lasalimu disambut hangat oleh gadis cantik yang ada di sana. Kisah cinta itu kemudian berlanjut ke jenjang perkawinan.

Baca juga Pantai Bhela’a, Potensi Pengembangan Wisata Pulau Binongko

Setelah selesai pesta perkawinan yang sangat meriah, terjadilah ritual malam pertama. Maka sejak saat itu dunia dilanda oleh badai Dan hujan yang keras. Maka tinggalkanlah kampung itu, sebagai kutukan atas perkawinan itu.

Sebuah orang datang ke situs Togo Motondu, dengan membawa sebuah cerita cinta. Mereka menyaksikan situs itu dengan kesadaran bahwa situs itu terbentuk karena adanya perkawinan inses. Orang datang ke situ sini, mungkin sama dengan pikiran orang-orang yang datang berkunjung ke situs Taj mahal di India, di kepalanya ada artefak yang besar sebuah masjid sebagai lambang cinta. Ketika orang datang ke Taj mahal, mereka membayar dengan mahal, tetapi ada kesadaran dalam pendapat mereka tentang hakikat cinta yang ada di balik masjid Taj mahal itu. Mereka tetap membayar harga yang mahal itu, demi sebuah perwujudan mimpi atas imaji mereka tentang cinta yang abadi, kesucian dan ketulusan cinta seorang permaisuri Mumtaz Mahal, dan berbagai intrik politik yang bermain di dalam istana, semua itu, akan memenuhi seluruh imaji calon wisatawan yang berkunjung ke Taj Mahal India.

Baca Juga Festival Benteng Tindoi Maleko: Mendorong Pariwisata Desa dalam Merawat Alam

Jika ada generasi dari kabupaten Wakatobi yang berkunjung ke situs Togo Motondu, gambar di otaknya adalah peristiwa yang kacau balau di mana pertama sebagai kutukan dari perkawinan inses. Dalam cerita rakyat versi Wakatobi, dijelaskan bahwa gadis cantik yang disukai oleh putra mahkota kerajaan Luwu itu adalah adik kandungnya sendiri. Mereka menikah tanpa tahu kalau si gadis itu adalah adik kandung, jangan pernah diambil oleh kerajaan lasalimu sebagai anak angkat, kata persahabatan antara kerajaan  Luwu dan Kerajaan Lasalimu. Mereka akan datang menyaksikan betapa cinta abadi, terhalang oleh aturan yang ada dalam wilayah kerajaan Lasalimu.

Situs Togo Motondu, sekaligus artefak tentang pranata sosial mengenai larangan kawin inses dalam masyarakat Buton. Sebuah situs yang menceritakan tentang bagaimana masyarakat adat melawan Inses. Dalam masyarakat Buton perkawinan inses, bukan hanya saudara kandung, tapi saudara Elo Ina Elo Ama juga masuk dalam kategori inses. Elo ina elo ama, artinya sepupu satu kali atau sepupu dua kali tidak boleh menikah dengan kemenakan atau anak sepupu satu kali atau anak sepupu dua kalinya.

Di dalam masyarakat Wakatobi, hubungan perkawinan ini selalu diperiksa melalui tradisi kadhandio syarat terjadinya proses posombui, yaitu pemberian antara laki-laki dan perempuan yang sedang menjalin hubungan cinta. Laki-laki memberikan sesuatu kepada calon istrinya atau tunangannya. Saat pemberian itulah, sara atau lembaga adat memeriksa hubungan kekerabatan dalam perjodohan itu. Jika hubungan kekerabatan itu mengandung ikatan elo ina elo ama,  maka sara harus membaca doa tolak bala.

IMG_20191125_080613

Kisah togo motondu, atau situs togo motondu, merupakan situs alam yang didalamnya ada kisah cinta yang ditolak oleh masyarakat adat, karena adanya hubungan inses. Sebuah situs alam yang dapat dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata yang ada di kabupaten Buton.

Baca juga Hutan Lambusango: Potensi Wisata Ilmiah yang Belum dikelola Maksimal di dalam Negeri

Namun, kalau kita melihat melihat pada peta geologi, situs Togo Motondu, bisa jadi adalah bekas patahan di masa lalu. Karena selat Lasalimu, antara antara banci dan pulau Buton adalah wilayah cincin api, di mana secara geologi terdapat tumbukan, kerak bumi, yaitu lempeng Australia dan lempeng Asia.

Jika ini benar, maka situs ini adalah referensi alam mengenai potensi patahan di wilayah ini, yang dapat dijadikan sebagai ruang riset ilmiah mengenai sejarah patahan yang menyebabkan tsunami di daerah Buton. Wilayah yang secara ekonomi bernilai wisata budaya wisata ilmiah (su001).

Baca juga

Kaudhawa atau Kelor: Sumber Gizi Masyarakat Wakatobi

Janji Pantai Oro Binongko & La Promesse de Plage Chatelaillon

Poco-poco di Wungka Toliamba: Pemicu Tumbuhnya Ekonimi Kreatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *