TINDOI:BUMDES Bikin Mudah Masyarakat Sejahtera

Oleh

Saleh Hanan

Semua pengangguran bisa diatasi, semua yang ditanam petani terbeli, semua yang ditangkap nelayan terbeli. Semua ide lama itu bertemu di Tindoi 14 Desember 2019.
Tindoi, nama desa, kawasan, dan hikayat tentang keberkahan, di tempat paling tinggi, di tengah pulau Wangi-Wangi Wakatobi.
Tapi apakah semua itu aktif dalam imajinasi bersama untuk mempermudah kesejahteraan masyarakat?
Mari, begini skenarionya: semua desa memiliki BUMDES. Jika semua BUMDES menjadi produsen, maka para pengangguran bisa menjadi distributor. Simpel, BUMDES membeli alat produksi dan memproduksi, lalu distributor memasarkan hasilnya. Logikanya jika produksi lancar, kebutuhan bahan baku juga lancar. Makin simpel.

Menjadi Sarjana Invovatif: Membutuhkan Keberanian dan Semangat

Simulasinya bisa dilihat pada projek pabrik pakan unggas milik BUMDES Desa Tindoi, dan efek kereta apinya pada petani, nelayan, dan anak muda pengangguran.
Pabrik pakan ini butuh bahan baku jagung dan ikan. Maka petani yang semula hanya menanam 1 liter jagung karena pasar hasil pertanian terbatas, akhirnya melipatgandakan potensi lahannya. Bahkan anak muda yang malas bertani, bergairah untuk menanam sebab jaminan pasar jagung sudah jelas. Kebun, pekarangan, bahkan sempadan jalan raya akan ditanami jagung. Demikian juga nelayan, tak perlu khawatir ikannya membusuk tak terbeli. Pabrik pakan sudah menunggu. Anak-anak muda yang tak mencantumkan pekerjan nelayan sebagai cita-citanya, akan merubah pilihan.
Selama ini, banyak ide bagus dimiliki banyak anak muda. Mereka rata-rata berpendidikan tinggi dan memahami dunia digital.
Misalnya keinginan memiliki kapal ikan, pabrik pakan, atau sarana lainnya untuk menjadi pelaku usaha produktif. Akan tetapi karena sarana tersebut butuh modal besar, itu sulit dilakukan.

Baca jugaย Perpustakaan Desa: Titik Awal Membangun Peradaban

Skenario pabrik pakan Tindoi mempertemukan semuanya. Anak-anak muda yang memiliki ide tapi tak punya modal, BUMDES yang ambil alih. BUMDES menjadi produsen, BUMDES yang buat sarana, dan anak-anak muda dengan kemampuan 4.0 mereka menjadi distributor utama. Anak muda tak perlu bikin pabrik yang mahal, biarkan BUMDES yang punya modal itulah yang bikin pabrik. BUMDES tau beres terima harga barang.
Dalam skenario Tindoi, semua yang ditanam petani, dan ditangkap nelayan, terbeli. Ratusan anak muda yang semula antri minta jadi honorer kantor pemerintah, berubah jadi pengusaha, seperti skenario anak muda RRC menguasai dunia.

Baca jugaย Novel โ€œBAJAK LAUTโ€: Sebuah Catatan

Wa Saridi: Yang Selalu Tau Cara Pamit Dengan Indah, Senja

Kota Naga Tempat Mujur di Wakatobi?

Bungkulawa Ingkar Janji?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *