TIKKIWAA

Oleh: La Ode Boa

Sebuah status di FB tadi malam sangat menarik. Status ini menggelitik rasa ingin tahu saya. Bunyinya begini :
“Pia-pia ewa La Bela, tikkiwaa naana.”

Saya tidak tertarik pada makna kalimat itu secara keseluruhan. Saya hanya menaruh perhatian pada satu kata saja yaitu ‘tikkiwaa.’ Waowโ€ฆ.sebuah kata yang indah dari kampung saya-Tomia. Batin saya berbisik; betapa kayanya kearifan lokan dalam bahasa Tomia.

‘Tikkiwaa’ adalah sebuah kata lama yang mungkin bagi generasi milenial Tomia sudah jarang bahkan mungkin tak pernah lagi didengar, apalagi dipakai. Sementara di Tomia, kata ini dulu sangat populer. Kenapa ? Karena kata ini erat kaitannya dengan keseharian hidup masyarakat. Kata ini akrab dengan laut (tay), ombak (bhomba), arus (finulu), perahu (wangka), ‘sope/lepa-lepa’, sampan (koli-koli), muatan perahu (lea), dan lenggang perahu (ttobu dan golinde).

Demikian populer dan sarat kandungan maknanya sehingga kata ini akhirnya menjadi sebuah istilah yang maknanya mengalami perluasan. Bukan saja dipakai untuk benda yang tenggelam ke dasar laut tapi juga dipakai pada segala sesuatu yang nasibnya jatuh, terpuruk, dan menukik hingga ke dasar.

‘Tikkiwaa’ sesungguhnya tidak identik maknanya dengan tenggelam. Istilah ini merupakan perpaduan dua kata : ‘tikki’ dan ‘waa’. ‘Tikki’ artinya berbunyi seperti denting, benturan atau ketukan. ‘Waa’ adalah wadah yang terletak pada bagian paling bawah suatu kedalaman air. ‘Waa’ di laut, bisa berupa karang, pasir atau lumpur yang ada di dasar laut. Jadi ‘tikkiwaa’ artinya tenggelam lalu jatuh menukik ke dasar laut sampai membentur karang, pasir atau lumpur. Kalau yang mengalami ‘tikkiwaa’ adalah sampan (koli-koli) yang muatannya pasir atau batu, biasanya tidak bisa terapung lagi (kaimo nobhangu), kecuali ada yang menumpahkan muatannya lalu menariknya dari permuakaan laut. Tapi sampan (koli-koli) yang muatannya hanya berupa kapas, gabus dan sejenisnya walaupun terbalik, biasanya tidak akan pernah ‘tikkiwaa.’ Malau justru dia akan terapung.

Kalau yang bernasib ‘tikkiwaa’ dianalogikan pada manusia yang bernasib sial kemudian bangkrut dan terpuruk maka dia hanya bisa bangun kembali jika ada orang lain yang dijadikan tempat meminta pertolongan atau tempat bergantung (hetangguli) atau tempat bersandar (heppeda).

Dalam perjalanan hidup, ini adalah pilihan yang setiap saat dapat kita sampaikan kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Nasib kita tetap terapung (lonto) atau akan mengalami keterpurukan (tikkiwaa) ?

Wallahu a’lam.

                     Ceritakanwakatobi
                     LOB
                     13 Sept. 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *