Tiga Literasi: Kesiapan untuk Memasuki era Industri 4.0 (bagian 1)

Saat ini dunia sedang berada pada era industri 4,0, dan kita harus bersiap-siap untuk mampu membaca era industri 5,0. Apa yang dapat kita persiapkan untuk berada pada era industri 4,0? Sebuah pertanyaan yang ada di kepala semua pemimpin negara dan pemimpin dunia. Namun, kita merujuk pada gagasan untuk kita siap memasuki era industri 4,0 yang memiliki beberapa ciri, yaitu big data, artificial intelligence, robotik, semuanya akan menuntut kita untuk memiliki beberapa aspek dalam hal kemampuan membaca atau kemampuan literasi. Berdasarkan apa yang akan terjadi pada era industri 4,0, siapa pun harus mampu memiliki kemampuan dalam tiga jenis literasi, yaitu: 1) literasi data, 2) literasi teknologi, 3) literasi humanities.

Literasi data, merupakan kemampuan yang dituntut oleh peradaban era industri 4,0 kepada siapapun. Karena sesungguhnya manusia berada pada era di mana fenomena, sebagai basis data harus mampu dibaca oleh siapapun. Sesungguhnya Allah akan menciptakan apa yang ada di langit dan di bumi sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikir. Itu artinya bahwa, sesungguhnya seluruh fenomena yang ada merupakan data yang harus dibaca dan dipahami oleh siapapun untuk bisa berada pada era industri 4,0. Era ini, merupakan era dimana setiap orang harus memiliki kemampuan untuk membaca, berbagai data yang ada di sekitarmu baik dalam bentuk hard copy maupun soft copy. Manusia harus mampu menggunakan panca inderanya untuk menangkap atau membaca berbagai data yang ada di sekitarnya.

Di era industri 4,0, semua data itu hampir tersajikan dengan baik dalam berbagai industri internet yang ada di dunia. Google, Facebook, berbagai perusahaan internet di dunia akan mengumpulkan data dan akan disajikan kepada kita. Semuanya kita bisa baca dan kita sajikan dan hadir dalam kehidupan kita sesuai dengan selera kita. Berbagi perusahaan besar raksasa internet  dunia itu akan memberikan data yang pernah kita akses pada mereka. Itu adalah kerja algoritma yang menjadi basis artificial intelligence. Pertanyaannya adalah kita sudah memiliki kesiapan untuk membaca semua data yang ada? Tidak salah kalau 14 abad yang lalu, ajaran yang pertama kali diterima oleh Rasulullah adalah ajaran untuk membaca yaitu iqra.

Baca Juga Mengenal Manfaat Daun Sirsak: Obat Alternatif untuk Warga Desa

Literasi kedua adalah literasi teknologi. literasi teknologi merupakan tuntutan dimana manusia dituntut untuk mampu membaca dan bermain pada mesin teknologi, seperti coding, artificial intelligence, robotik. Tiga aspek yaitu harus mampu dimiliki oleh manusia ketika berada pada daerah industri 4,0. Perkembangan kebudayaan akan mengubah manusia, kemampuan mereka memainkan atau membaca literasi teknologi. Universitas harus mampu mengajarkan kepada seluruh mahasiswa nya untuk mampu membaca, mampu menggunakan, mampu menerapkan gagasan gagasan mereka dalam bentuk coding, artificial intelligence, aspek robotik. konsep-konsep ini akan mampu membantu manusia untuk memahami dan melakukan inovasi dalam kehidupan mereka. mereka akan mampu membangun kebudayaan mereka sesuai dengan pemanfaatan tanah yang berbasis teknologi informasi atau IT.

Baca Juga Ara Nobhae na Gendi: Nokoru Nawokirano (Kalau beringin itu masih berbuah, merpati mutiara akan banyak yang datang)

Literasi ketiga adalah kemampuan kita untuk membaca aspek humanities atau kebudayaan. Di era industri 4,0, seperti apapun kemampuan artificial intelligence dalam membaca berbagai data yang ada. Sisi terlemahnya adalah memahami manusia sebagai insan yang memiliki perasaan. Aspek robotik sangat lemah pada aspek ini, itu aspek rasa atau perasaan manusia. Yang memiliki kelemahan dalam hal cinta, kalau kasih sayang yang sifatnya sangat manusiawi.

Pada tanggal 15 yang lalu, lembaga Nobel bidang ekonomi memberikan penghargaan kepada peneliti ekonomi yang mencoba melihat Inpres SD sebagai salah satu aspek penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Yang menjadi titik dari penghargaan itu adalah adanya harapan dari ekonomi pembangunan, yaitu adanya metode penelitian lapangan yang panjang dan intens dengan informan akan memberikan data yang baik dan berguna untuk rancangan teori pembangunan di masa depan. Itu adalah harapan di mana penelitian penelitian kebudayaan masih akan tetap eksis di masa depan. Karena upaya untuk memahami sebuah kebudayaan atau kemanusiaan merupakan upaya yang harus dilakukan secara intensif untuk berinteraksi dengan berbagai kebudayaan yang ada di dunia. Kita masih membutuhkan waktu yang panjang untuk mampu membaca berbagai karakteristik kebudayaan yang dimiliki oleh setiap individu. Bagaimana suatu budaya bekerja dan mempengaruhi perilaku seseorang individu. Ini mungkin bisa dilakukan oleh artificial intelligence, tetapi interaksi yang dalam bukan hanya menyajikan tentang data, tetapi interaksi yang dalam dan panjang dengan informan akan mampu memberikan kita pemahaman mengenai perasaan mereka, harapan hidup mereka, cinta mereka, kebencian dan kekesalan dalam kehidupan mereka.

Baca Juga Hari Guru: Mengenang Guru-Guru Kita yang Hebat

Pengalaman penelitian yang panjang akan mampu menuliskan bagaimana manusia atau suatu kebudayaan memandang kehidupan ini. Dengan demikian, humanities yang diinginkan oleh peradaban modern adalah literasi untuk mampu memahami manusia dengan segala keunikan dan karakteristik nya. Ini sangat penting untuk membangun peradaban masa depan, karena pada akhirnya sebuah akhir dari sebuah peradaban atau puncak dari peradaban adalah ketika manusia berada pada kesejahteraan adil dan makmur (udu01)

Bersambung****

Baca juga UNIVERSITAS MUSLIM BUTON GOES TO SCHOOL (Menjawab Problematika Pendidikan)

Tiga Ekonom Menang Nobel: Salah Satu Riset Mereka tentang Impres SD di Indonesia

UMU Buton: Solusi Generasi Milenial untuk Menempa Dirinya Menjadi Pribadi Tangguh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *