TENANGNYA SEORANG JOKOWI

Beberapa hari yang lalu, Najwa Shihab mewawancarai Presiden Jokowi soal banyak hal yang terjadi di bangsa ini. Sebuah wawancara yang luar biasa, yang bisa memberikan pandangan kepada masyarakat dari seorang pemimpin di tengah badai.

Banyak diskusi setelah diskusi itu, ada yang menyoroti soal makna mudik dan pulang kampung, soal transportasi, soal ekonomi, dan tentunya juga soal politik, menjadi banyak sudut pandang sebagai respon atas wawancara itu. Dinamika berfikir tersebut tentunya ditentukan oleh adanya dinamika pemikiran yang semuanya dibangun atas paradigma paradigma tersendiri. Jika dialetika kesadaran itu dibangun, maka kita bisa melihat bagaimana perbedaan kesadaran dalam melihat sebuah fenomena yang terjadi pada bangsa ini.

Setelah beberapa hari, Wawancara yang dilakukan Najwa Shihab itu, berbagai tanggapan tentunya sesuai dengan tingkat kesadaran dan paradigma yang diambil masing-masing. Berikut ini tanggapan Deni Siregar atas wawancara itu. Ia menulisnya sebagai berikut.

“Saya habis nonton wawancara Najwa Shihab dengan Jokowi..

Dan saya harus angkat kopi mendengar jawaban-jawaban Jokowi, ditengah ganasnya pertanyaan Najwa yang dikenal sering menjebak lawan bicaranya itu.

Dari wawancara itu terlihat bagaimana Najwa hanya melihat dari satu sisi, sesuai informasi yang dia dapat dari pembicaraan di media sosial, sedangkan Jokowi harus mempertimbangkan banyak sisi sebelum mengambil keputusan.

Seperti contoh, Najwa bertanya, apa Jokowi setuju dgn keputusan Menhub untuk tidak memberhentikan KRL ?

Jokowi menjawab dengan sangat menarik. “Seandainya Pemda yang meminta KRL diberhentikan punya solusi untuk para pekerja harian yg menggunakan KRL karena murah, saya akan hentikan KRL sekarang juga. Pemda jangan cuma minta KRL dihentikan, tapi solusinya apa ?”

Dari satu sisi ini saja, Jokowi sebenarnya berfikir tentang banyak hal. Bukan hanya masalah kesehatan, tapi bagaimana dengan ekonomi pekerja harian yang butuh transportasi untuk mencari uang ?

Sesuatu yang jelas tidak bisa dijawab Gubernur-Gubernur yang hanya sibuk dengan masalah kesehatan, tapi abai dengan ekonomi warganya. Apalagi Gubernur yang konpers mulu tanpa solusi apa2.

Itulah perbedaan kelas Jokowi dgn para kepala daerah dalam mengambil sebuah keputusan.

Begitu juga ketika Najwa bertanya, apa beda mudik dan pulang kampung ?

Jokowi kembali menjawab dengan elegan, “pulang kampung itu orang yang mencari uang di kota dan pulang ke rumahnya yang ada di kampung lain. Sedangkan mudik, khusus pulang untuk iedul fitri..”

Dan Jokowi kembali menjelaskan, bahwa jika sejak awal orang tidak boleh pulang ke kampungnya, sedangkan di kota sudah tidak ada kerjaan, maka mereka akan menimbulkan masalah baru, yaitu masalah sosial.

Sedangkan khusus orang yang mudik, orang itu tidak punya masalah dgn ekonominya dan memutuskan untuk pulang saat iedul fitri. Ini yang dilarang karena tidak berkaitan dgn masalah ekonomi dan sosial.

Jokowi tentu bisa menjawab dengan baik pertanyaan Najwa, karena setiap hari dia harus menemui Menteri-Menteri dari segala bidang dengan segala masalahnya. Yang menteri ekonomi bicara ekonomi, yang kesehatan bicara kesehatan dan banyak lagi.

Tentu tidak mudah mengambil keputusan dengan mempertimbangkan banyak hal.

Karena seperti Jokowi bilang, di masa pandemi ini keputusan yang diambil itu dari pilihan yang buruk dan buruk, bukan yang baik dan buruk. Semua keputusan tidak ada yang sempurna dan menyenangkan banyak kepala.

Jadi kita harus bisa mengerti, jadi Presiden itu tidak mudah..

Tidak semudah kita yang cuman bisa menulis di media sosial dan teriak2 seolah kita ahli segala hal, sampai memaksa Presiden, seolah kita setiap menit mendapat data dari lapangan, dari 34 provinsi, 98 kota dan 416 kabupaten. Ditambah data 213 negara sebagai perbandingan..

Kalau kamu yang ada di posisinya sekarang ini, rambutmu jelas rontok dan kepalamu botak sebelah.

Jadi, percayakan pada pemerintah. Kita sudah punya Presiden yang bagus sebagai anugerah. Orang yang kita percaya untuk menangani masalah sedemikian rumitnya.

Kita ?

Cukup rebahan di rumah, sambil seruput kopi dan memaki-maki di media sosial karena kita adalah ahli dari segala ahli, inti dari segala inti, core of the core..

Seruput kopinya..

Sementara Prof. Maksum yang ahli linguistik melihat makna kata mudik dan kata pulang kampung, yang tentunya juga dari paradigma semantik, yang dia ambil dari sisi linguistik. Paradigma berbeda akan menghasilkan sudut pandang yang berbeda pula. Pesan yang diberikan oleh Prof. Maksum sebagai ahli linguistik, tentunya dilakukan dari sudut pandang semantik, yang melihat makna dari dua dimensi, yaitu makna heuristik dan makna heremeutik (istilah Riffatere), atau makna kamus dan makna signifikan (Priminger). Namun, penjelasan Jokowi dalam wawancara itu, memberikan makna yang lebih luas dan berterima dalam konteks covid 19 saat ini. Bahwa orang pulang kampung tentunya berbeda dengan orang mudik, sebagaimana tanggapan Deni Siregar, bahwa mudik adalah orang yang pulang saat lebaran dan tidak berhubungan dengan masalah sosial dan ekonomi, sementara pulang kampung merupakan orang yang pulang dari kota ke kampung karena tidak ada lagi pekerjaan di kota. Di desa ada anak istrinya, dan Jokowi menambahkan dalam wawancara tersebut dapat menambah masalah sosial baru di kota.

Makna yang pulang kampung dan mudik, dapat menjadi perluasan makna mudik dan pulang kampung sesuai dengan konteks. Karena konteks covid 19 makna kata itu bisa berkembang menjadi lebih luas. Dan pesannya bisa berterima karena konteks yang membentuk makna baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *