Teluk Binongko di Labuan Bajo

Bagi banyak orang, melihat ini adalah hal yang biasa, tetapi bukan Camat Togo Binongko, Arifin. Ia melihat ini sebagai sesuatu, nama Binongko salah satu pulau di Wakatobi, menjadi nama sebuah teluk di kota yang sedang digenjot pembangunan pariwisatanya tersebut. Ia lalu bertanya, Ada apa dengan nama itu?

Pertanyaan pak Camat Togo Binongko dapat mengantarkan kita untuk menengengok ke belakang. Bagaimana jalur itu adalah jalur pelayaran tradisional masyarakat Wakatobi di masa lalu. Jalur yang harus disinggahi oleh perahu manapun yang pulang dari pulau Jawa terutama pulang di musim timur. Mereka harus menelusuri pulau Jawa bagian timur, menuju selat Bali, pulau Bali, Selat Lombok, Sumbawa sampai, Alor dan pulau pulau lainnya di NTT baru menuju kepulauan Tanimbar baru ikut angin menuju Wakatobi. Perjalanan yang ditempuh berpuluh puluh hari itu, dijalani dengan jalan zikzak, atau opa-opala, terutama pada waktu siang hari, mereka akan mengambil cara berlayar seperti itu, mengharapkan angin dan arus laut. Pada malam hari, mereka memanfaatkan angin darat, sehingga mereka menggunakan cara berlayar paletanga, atau perahu menuju ke depan tanpa zikzak, tetapi lurus.

Saat saat berlayar zikzak itulah, para pelayar ini terkadang berteduh, mengambil air, mengambil makanan, memancing ikan, memperbaiki perahu, semua bisa tejadi. Hingga kakekku dulu pernah cerita tentang kehebatan orang Binongko yang berhasil mengusir wabah tikus yang membuat gagal panen. Orang itu turun mengambil air dan makanan, tetapi makanan tak ada, karena wabah tikus yang merajalela. Ia mendapatkan kabar itu dari koki dan sawinya. Di kali terakhir ia mengambil air, juragan itu yang turun sendiri ke darat menemui kepala suku. Setelah ia bertemu kepala suku, maka ia diminta untuk berdoa membantu kepala suku itu, mengusir tikus dari kampungnya. Lalu ia sanggupi, dan setelah ia pulang ke perahu, seluruh tikus ikut berenang menuju perahu, terbebaslah kampung itu dari hama itu.

Itu hanyalah salah satu kisah, yang bisa menjelaskan mengapa Binongko bisa ada namanya di sana. Yaitu adanya jejak masyarakat Binongko yang melakukan perjalanan ke berbagai kawasan di Indonesia.

Kedua, teman saya Yapi Taum seorang ahli tradisi lisan, yang berasal dari NTT, mengakui bahwa tradisi bati bati banyak dipengaruhi oleh tradisi lisan masyarakat Binongko. Di Wakatobi, tradisi itu kita kenal dengan nama bhanti bhanti. Sebuah jejak kebudayaan yang sudah terbangun cukup lama antara masyarakat Wakatobi khususnya Binongko dengan masyarakat NTT.

Bahkan dalam sejarah, ketika parompa yang dilakukan oleh Ternate dan Tobelo di zaman dahulu, Sultan Buton pernah minta bantuan kepada Alor untuk memperkuat pertahanan di pulau Kapota. Ini diakui sendiri oleh orang orang Kapota saat saya wawancarai mereka. Kebanyakan dari mereka adalah etnis Alor NTT, ini semua adalah bentangan sejarah panjang hubungan peradaban kita dengan NTT.

Bahkan ketika saya bercerita mengenai persahabatan abadi orang Buton dan NTT atau Timuru, maka dijelaskan bahwa sampai hari ini, kalau ada konflik konflik antar geng di batam, maka orang Buron dan orang Timuru (NTT) selalu bergandengan tangan. Jarang berkelahi.

Sementara kalau kita melihat sisi tradisi tarinya, ada hubungannya yang menarik. Mulai dari kostum, gendang dan cara lompatan masih memiliki kesamaan, sebagai contoh gerakan sajo moane dan sajo wowine memiliki kesamaan dengan tarian cakalele pada suku suku bangsa Melanesia. Memiliki gerakan kaki yang hampir sama, dengan gendang yang juga hampir sama. Demikian juga dengan gerakan lengko dan tarian makanjara pada masyarakat Wakatobi, semuanya memiliki kesamaan. Ini perlu riset antropologi lebih dalam mengenai adanya kesamaan fakta fakta seperti ini.

Binongko sebagai pusat pelayaran masyarakat Wakatobi di zaman dulu, membuat semua orang Wakatobi dikenal sebagai Binongko. Dan bisa jadi nama teluk itu adalah sebuah penanda jejak Masyarakat Wakatobi di masa lalu, khususnya masyarakat Binongko. Jejak peradaban yang panjang yang terbangun atas hubungan perdagangan antar pulau, yang saat ini semestinya menjadi visi Bupati Wakatobi.

Tahun lalu, warga NTT membawa kambing saat bulan Haji ke Wakatobi, kambingnya bagus dan sehat, akhirnya tak laku karena telinganya di robek. Maka akhirnya kambing kambing itu, dititip pada salah seorang asal NTT yang menikah di Wakatobi, kebetulan juga istrinya orang Binongko.

Jejak peradaban itu, bisa menguntungkan kalau dikelola dengan baik, gula, kambing, pisang, bisa dibawa dari NTT sementara Wakatobi harus membangun produk seperti parang Binongko yang merupakan komoditas utama sejak dahulu bisa menjadi komoditas bisnis yang saling menguntungkan.

Bersambung ……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *