Tana Yi Landu, Rencana Belanda di Tangan Nippon

Oleh: Saleh Hanan

Dalam beberapa grup WhatsApp, cerita mengenai Wakatobi selalu disebarkan oleh La Ode Muhammad Saleh Hanan, dari berbagai cerita tersebut ada langkah kecil yang kemudian besar di kemudian hari. Dia memperkenalkan Wakatobi dari berbagai cerita singkat tentang berbagai objek wisata baik objek alam ataupun objek dalam bentuk kebudayaan. Cerita-cerita singkat tersebut tentunya dapat menjadi sebuah penuntun bagi siapapun yang akan meneliti tentang Wakatobi. Kali ini kegundahan dia adalah soal Tanah Yi Landu, atau tanah yang dibentuk oleh pemerintah Belanda. Tentunya dari cerita ini beliau banyak berharap agar ada penelitian mengenai sejarah benteng yang menjadi sumber bahan baku tanah ilandu. Demikian cerita itu ditulis oleh Salah Hanan.

*****

Batu-batu pada Kota Wanse, atau dari benteng yang menempatkan perkampungan berada di dalam pagar batu yang tinggi, dirobohkan untuk menimbun pantai. Membuat daratan baru. Tana yi landu namanya. Sejak tahun 1923. Atas perintah Belanda.
Tana yi landu, membujur utara-selatan. Kira-kira 1000 meter panjangnya. Mengikuti bentang pantai Wanci.
Letaknya dari kantor Lurah Pongo saat ini. Di kompleks pelabuhan fery, pada sisi utara, sampai bekas kantor bank daerah, di selatan.
Apa rencana Belanda dengan daratan baru itu?

Tahun 1901, Belanda membangun mercusuar Kanturu Bumbu. Di bukit Waha, belasan kilo meter ke utara pulau. Dari situ sudah jelas tujuannya. Kode navigasi pelayaran masuk-keluar Laut Banda.
Lalu, tahun 1918, pelabuhan Mandati dibuat. Pada masa-masa itu jalan raya terpanjang untuk kategori jalan pulau yang hanya memiliki satu nama dikerjakan. Jalan Belanda. Nama lokalnya Sala Walanda. Mengelilingi Pulau Wangi-Wangi, dan membelah menuju pegunungan. Kira-kira 50 km seluruhnya.
Di atas tana yi landu, pertama-tama dibangun pasar. Menempati sisi selatan. Pasar Pagi sekarang.
Bagian utara masih lapangan kosong. Jepang tiba, tempat Itu kemudian menjadi saksi adegan kekerasan ala Nippon. Antara penduduk yang dianggap melawan, atau sesama penduduk pribumi yang diadu domba.
Rencana Belanda atas daratan baru, terpotong Nippon.
Tapi jejak rencana itu dapat ditelusuri dari kehadiran ekosistem kota pelabuhan: mercusuar, pelabuhan, pasar, di pulau yang berada pada jalur pelayaran rempah. Pulau Wangi-Wangi.
Tana yi landu bagian utara yang kosong baru kembali diisi pemerintah Indonesia sekitar tahun 1959an. Orang-orang mampu dipersilahkan membangun rumah. Modelnya sama. Rumah dua lantai. Dari beton dan kayu. Bergandengan tiap 10 unit. Lebar tiap unit 5 meter. Jumlahnya hampir 100 rumah. Teras lantai dua menggantung, menjadikannya serupa atap untuk sebuah pintu dan dua jendela depan, pada lantai dasar. Bahan kayu dengan gaya sama, dari rumah pertama hingga rumah terujung.

Laguna yang biru persis berada di belakang rumah-rumah itu. Laut tempat berlabuh perahu-perahu dagang. Membuat tana yi landu menyerupai klaster rumah para pelaut – pedagang. Kelas profesi yang mendekati definisi para orang kaya waktu itu.
Tana Yi Landu asli milik orang Wakatobi dari semua pulau sebenarnya. Bukan saja karena dibikin bersama, tapi ekosistem yang persis untuk kultur pelayar – pedagang orang Wakatobi: sebuah kota pelabuhan.

ceritakanwakatobi

wakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *