Tak Ada Rotan Abas Pun Jadi

Oleh: Saleh Hanan

Ibarat pepatah, Abas menjadi sesuatu di jalan sunyi. Tak pernah mengeluh, tak pernah bergantung. Di desa itu ia sebenar-benarnya menjadi orang desa masa lampau: mengurusi urusannya sendiri. Mencari benih, menanam, merawat, memanen, menjual, sendiri.

Mungkin bahkan ia tak tahu bagaimana jalan ke kantor desa, apalagi kantor kecamatan dengan level pejabatnya yang kian borju. Akan tetapi orang-orang, mahasiswa, turis, peneliti, pegawai pemerintah datang menemuinya.

Pak Abas ini petani sekarang. Menanam beberapa jenis sayur secara organik. Beberapa hari lalu ia difavoritkan untuk mensuplai sayur organik, kebutuhan sebuah resort.

Kebunnya di sebuah lembah padang rumput, dimana tiga bukit, tiga lembah ke utaranya, terdapat bukit Koa. Bukit tempat hidup hikayat Sipanyong, dan La Timbarado bersama istrinya yang disembunyikan dalam kulit kima raksasa untuk menghindari cinta segi tiga.

Kebun Abas yang menjadi ruang edukasi di Pulau Tomia Wakatobi

Seperti Sipanyong, Abas memulai dari laut.
Tahun 2004, Abas adalah representasi nelayan pada serangkaian event konsultasi publik taman nasional. Lalu menjadi peserta kelas belajar community organizing dari Roem Patimasang, raja NGO Asia Tenggara, di Pulau Hoga sepanjang tahun 2005 – 2007.

Setelah kapal ikanya hancur, Pak Abas dan sekumpulan anak muda bermain di pantai. Membentuk komunitas La Playa. Mengelola semacam tempat minum kopi di pantai. Warung kopi namanya, namun sebetulnya, menu utamanya ialah mengajak pengunjung meramu sampah-sampah plastik menjadi barang seni atau digunakan ulang.

Dari pantai itu, Abas naik ke kebun. Bukan dengan tangan kosong. Dibawanya sampah tali-temali ke kebun. Tali-temali disambung, diikat pada tiang-tiang kayu yang ditanam seperti pagar paralel. Saat batang tanaman tumbuh, merambat menyusuri temali, hingga keseluruhannya membentuk lorong canopi.

Siapa Sipanyong? Sebagian nara sumber menyebut dia pelaut Spanyol. Terdampar di Pantai Huntete, Pulau Tomia. Perahunya karam. Di pantai Sipanyong bertemu La Timbarado, yang hanya berdua dengan istrinya.
Suatu hari, La Timbarado membuat perjanjian dengan Supanyong. Isinya, jika anak La Timbarado lahir sebagai perempuan akan dinikahkan dengan Sipanyong. Sampai disitu, takdir berjalan sesuai perjanjian itu.

Abas dan Sipanyong berasal dari zaman yang jauh berbeda. Akan tetapi sama titik starnya: berangkat dari laut ke darat membangun kehidupan.

Orang-orang mulai menemui Pak Abas di Desa Timu, Pulau Tomia, Wakatobi. Mahasiwa Jawa, Makasar, Kendari, bahkan volunter dari Amerika dan Eropa. Semua kagum dengan ide Pak Abas.

La Playa Cafe, tempat yang sangat sederhana, tetapi orang-orang pintar dari kota itu datang ke La Playa karena ingin menyantap ide orang-orang desa.
Tak tertulis, tetapi Pak Abas dan kawan-kawan sedang di jalan bernama wisata edukasi. Sesuai karakter alam, dan histori tourisme Wakatobi, yang kelihatannya ber-DNA wisata edukasi.

Mari kita beri dukungan untuk Pak Abas. Mendukungnya agar orang-orang tak hanya datang memujanya, tapi pulang memikul kewajiban menjual ide Pak Abas, menjadi sales, promotor, agen, untuk mengajak teman berikutnya datang ke tempat Pak Abas lagi.

Tak ada dalam pikiran kita, tapi Pak Abas lakukan.
Diam-diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *