Surat Putih Serly untuk Presiden Jokowi

Oleh: Saleh Hanan

Serly, belia dari Papua. Kini murid kelas VI SDN 3 Pongo, Wakatobi. Akan tetapi ia tidak bisa mengikuti ujian nasional.
Tak ada data tentang dirinya dari sekolah asal di Papua. Tak punya akte kelahiran dan KK. Sekolah yang sudah 2 tahun mendidik Serly di Wakatobi sedang kesulitan menolongnya. Guru-guru, kepala sekolah, tak kuasa berhadapan dengan teknologi Dapodik.
Di sekolah siang ini, peserta rapat yakni para orang tua murid sukar menerima. Menggerutu setelah keluar ruangan. Terutama ibu-ibu. Pokoknya Serly harus ikut ujian, kata mereka.

Baca Juga KEUTAMAAN WARGA NEGARA: MENOLAK BUPATI

Serly datang ke Wanci, Wakatobi, bersama orang tua angkatnya, penduduk asli Wakatobi. Kisah itulah pangkal empati ibu-ibu peserta rapat, ketika negara mensyaratkan deretan birokrasi dalam kronologis hidup seperti Serly. Orang tua angkatnya tidak bisa mengurus administrasi kependudukan untuk Serly. Kantor catatan sipil juga tidak punya pilihan menghadapi perangkat data kependudukan.

Dia itu datang menyelamatkan nyawanya, kata seorang ibu.
Ceritanya, Serly oleh ibu kandungnya di Papua, suatu hari diberikan kepada tetangga yang kemudian membawanya ke Wanci sebagai tindakan penyelamatan dari kesulitan tertentu.

Sampai tadi, sebelum rapat orang tua murid dimulai, Serly masih sekolah. Semua nampak seperti biasa bagi dia dan teman-teman sekolahnya. Seperti kertas putih tanpa huruf, angka, garis, baris dan kolom-kolom formulir.

Baca Juga Universitas Muslim Buton: Tebar Beasiswa untuk Temukan Mahasiswa Berkualitas

Sementara itu ujian nasional SD tinggal 3 bulan. Maka sebelum ujian 2020 tanpa Serly di kursi peserta, pada selembar kertas putih itu Presiden Jokowi perlu membubuhkan cap: bahwa negara memberi jaminan hak menempuh seluruh proses pendidikan, sampai Serly dewasa dapat memilih menentukan sendiri administrasi kependudukannya.
Artinya, siapa, mana, apa, tentang Serly diabaikan. Serly dan yang lain, pada masalah seperti itu, dinyatakan dalam jaminan negara statusnya.

Editor: Sumiman Udu

Baca Juga UNIVERSITAS MUSLIM BUTON: Jawaban atas Keresahan Generasi Milenial

BAKAR UANG: Buruknya Pelayanan Publik.

ITB Menyematkan Doktor Honoris Causa untuk Jusuf Kalla: Sebuah Apresiasi yang Menginspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *