Site Wandoka: Keindahan Alam Bawah Laut Wakatobi

Wakatobi memang kaya sumber daya alam bawah lautnya. Sebuah kawasan Biosfer bumi dan taman nasional Wakatobi. Memiliki ratusan jenis terumbu karang yang indah. Sepanjang karang Wakatobi keindahan itu terpampang. Semuanya menjadi anugerah bagi masyarakat Wakatobi dan dunia.

Saat tahun 1980-an, sampai dengan pertengahan tahun 90-an, karang karang di Wakatobi masih sangat indah. Kerusakan karang hanya pada wilayah-wilayah tertentu, orang-orang kampung mesin menggunakan air tuba untuk menangkap ikan. Dampak tidak terlalu besar, namun awal 90-an, ada penggunaan bom yang luar biasa. Setiap hari kita mendengar bunyi bom ikan di karang karang Wakatobi. Identifikasi sederhana, seseorang berenang sendirian di pinggir karena, dan tiba-tiba bunyi bom meledak, air laut kelihatan naik ke permukaan.

Hampir satu dekade bawah laut Wakatobi dihancurkan. Rumah keanekaragaman hayati ini dibombardir tanpa ampun. Semua orang hampir terlibat. Ikan melimpah didapatkan nelayan. Cara tangkap yang tidak berkelanjutan ini berdampak sangat luar biasa pada kehidupan ekosistem hayati di laut Wakatobi. Sebelum era pemboman itu, orang Wakatobi memiliki cadangan sumber daya di luar biasa. Di saat masih kecil dulu, kalau lapar bawa saja suami ke pantai, lauknya sudah siap di sana. Anda tinggal memilih, mau makan bulu babi, kerang kerangan, atau sejenis cacing laut. Saat itu alam masih menyediakan makanan yang luar biasa melimpah di Wakatobi.

Saya masih teringat, ketika suatu waktu musim telur ikan sarden, ikan ikan sarden itu bermain di pantai, bermain di tepian pantai mengikuti ombak ombak kecil. Anak-anak Wakatobi membawa ember ke pantai untuk mengambil ikan yang sedang bermain di bibir pantai. Serang mereka terdampar di pasir putih, sehingga beberapa ember kita bisa kumpulkan di pinggir pantai. Di musim air laut turun atau kente, hampir semua tempat-tempat yang ada airnya dipenuhi dengan ikan sarden. Masyarakat beramai-ramai untuk menangkap ikan di laut, tidak perlu jaring atau alat tangkap lainnya. Ikan bisa ditangkap dengan tangan dan alat sederhana.

Hanya dalam beberapa hari, seorang nelayan yang memegang bom mendapatkan pusat ikan sarden bertelur. Tidak lama kemudian setelah ia mendapatkan pusat ikan sarden itu, bunyi bom meledak beberapa kali. Semua masyarakat turun kalau laki-laki perempuan, mulai dari anak anak sampai orang dewasa, semuanya membawa tempat untuk mengambil ikan sarden. Banyak sekali jumlahnya. Mulai dari tempatnya dangkal, sampai kedalaman 3 meter. Sebuah pengelolaan lingkungan yang tidak berkelanjutan.

Sisa sisa dari tindakan itu, masih ditemukan di beberapa tempat, diving dan snorkeling yang bisa dinikmati di Wakatobi. Mari mabok atau Tadu di Tomia merupakan wilayah konservasi yang sampai hari ini masih dapat dinikmati oleh para penikmat Taman Nasional bawah laut Wakatobi. Di sekitar Longa, beberapa wilayah konservasi adat juga masih memberikan pemandangan yang indah. Demikian pula dengan wilayah Waha Raya, menyediakan beberapa tempat untuk diving dan snorkeling, terutama di wilayah kawasan konservasi adat Untu Wa Ode, serta beberapa kawasan lain di sekitarnya yang masih memiliki keindahan bawah laut yang luar biasa.

Sebagai salah satu tim pengelola, guide diving dan snorkeling, Guntur membagikan beberapa foto bawah laut yang luar biasa indahnya. Sebuah pengabdian dari konteks bawah laut yang sangat luar biasa. Sehingga di abadikan di dalam uang rupiah. Guntur sebagai fotografer bawah laut memiliki karya tari yang perlu diapresiasi, sekaligus fotografer yang berbakat.

Beberapa karyanya dapat kita nikmati, pada beberapa postingannya yang ada di media sosial. Ini merupakan salah satu cara untuk mempublikasikan Wakatobi sebagai salah satu tujuan wisata bawah laut tingkat internasional.

Karya Guntur yang luar biasa, site kawasan Untu Wa Ode

Di satu sisi, foto-foto yang diposting oleh Guntur adalah salah satu media edukasi pada anak-anak Wakatobi, minimal mereka-mereka dapat mensyukuri nikmat dan karunia Allah atas keindahan alam bawah lautnya. ini juga dapat menjadi ruang untuk melatih masyarakat desa yang ada di Wakatobi untuk memprogramkan ruang-ruang konservasi berbasis desa. Apa yang dilakukan oleh La Asiru di desa Kulati Tomia Timur, dalam upaya konservasi wilayah adat, yang kemudian mendorong konsep bank ikan dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman desa untuk membangun kawasan kawasan konservasi di wilayah desa mereka. Sama dengan yang dibangun oleh Waha Tourism Center (WTC) dapat pula menjadi inspirasi untuk desa-desa yang lain sehingga pemanfaatan karang sebagai taman nasional bawah laut dapat dimaksimalkan untuk mendukung desa desa wisata yang ada di Wakatobi saat ini.

Kita perlu meng sosialisasikan kepada seluruh publik, bisa mengadopsi konsep konservasi berbasis masyarakat yang dilakukan di beberapa tempat di Bali. Konsep adopsi karang, dilakukan oleh yayasan lestari di Bali dapat menjadi inspirasi teman teman desa yang ada di Wakatobi untuk membangun konservasi lingkungan berbasis masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *