Semangat Re A

Oleh: Saleh Hanan

Seri 11 : Dunia Desa Wakatobi

Rea, dieja Re A, sebuah dusun. Sepotong semangat. Model untuk melihat Indonesia yang kuat.

Dusun Rea berada di Desa Waginopo, di lereng utara ekosistem situs keramat alami puncak Tindoi, Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi.

Penduduk Re A gemar merantau. Ke Maluku terutama. Merantau itu salah satu motif ekonomi mereka.
Namun di dalam dusun, sebenarnya sudah lama penduduk memproduksi lempengan kaopi. Bahan pangan dari singkong parut yang dipadatkan, sampai kering.
Untuk menjadi makanan, kaopi dihancurkan lagi, diayak menjadi tepung, lalu dikukus menjadi soami, atau kasoami, makanan pokok penduduk pulau.
Lempengan kaopi yang dibungkus daun pisang dijual ke pasar. Satu bungkus berdiameter 30 senti, tebal 10 senti bisa seharga ratusan ribu. Kaopi sejumlah itu hasil dari parutan ubi tiga pohon singkong yang tumbuh pada lahan setengah meter persegi.
Kaopi selalu diproduksi dan sangat prospek. Dari dulu.
Tanah tempat menanam singkong cukup subur.

Meski berada di bukit, akses penduduk dusun ke laut sangat terbuka.
Selain dari laut itulah orientasi pelayaran-perantauan dimulai, penduduk Re A adalah bagian dari masyarakat adat Wanse yang memiliki wilayah kelola laut bersama.
Laut tempat mendapatkan ikan. Tempat menemukan arus. Tempat pantai yang didefinisikan sebagai labusa atau pelabuhan.
Dari pantai itu mereka merindu, sejak mengantar sampai menjemput orang-orang tersayang yang berlayar.
Rea sendiri adalah kosa kata yang berarti laut surut pagi, sebelum matahari terbit. Hidup dalam memori kearifan lokal sebagai tanda permulan bulan baru kalender hijriah.

Sinar matahari melimpah di dusun. Bersama arus itu, sinar matahari menitip potensi energi terbarukan.
Adapun oksigen, tercurah murni dari hutan di belakang rumah penduduk, yang dipenuhi pohon-pohon. Akar-akarnya memeluk air hujan yang lembut menghujam tanah.

Pada salah satu ruas, sisi kiri dan kanan jalan yang membelah dusun, diapit dua bongkah batu, hampir seukuran city car.
Batu itu terkesan tumbuh bagai dua gunung kecil.
Dari dulu penduduk dan kontraktor pelebaran jalan tak berminat menyingkirkannya, meski beberapa bagian telah mengurangi badan jalan.

Tak perduli dengan keyakinan apa yang dipercaya dalam dua batu itu, ketika melewatinya justru terlihat monumen kekokohan semangat.
Begitupula mendengar kisah penduduk memproduksi kaopi, bahkan meskipun mereka merantau meninggalkan dusun, tetap terlihat kegigihan semangat.

Mainlah ke dusun Re A.
Dari sini, untuk Indonesia, negeri pemilik bumi, air, penduduk dan kekayaan padanya, kita mau melihat Semangat Re A.

CeritakanWakatobi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *