“Sampah atau Bumi? Saya Pilih Bumi”, kata Rustam Awat

Sampah atau Bumi? Saya pilih Bumi, kata Rustam Awat dalam sebuah status singkat di Facebook miliknya, tetapi padat makna. Ada kesadaran untuk memilih kehidupan yang berkelanjutan. Pilihan ini sebenarnya adalah gambaran jiwa dan kebudayaannya, yaitu kebudayaan Buton yang mencerminkan nilai nilai kangkilo yang merupakan hakikat dari naskah kangkilo patanguna.

Dalam prespektif pariwisata berkelanjutan, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan pariwisata lingkungan berkelanjutan. Upaya untuk sebuah pilihan, bumi yang bersih adalah manifestasi dari konsep pariwisata berkelanjutan. La Asiru, salah seorang pegiat lingkungan di desa Kulati Tomia Wakatobi pernah berkata bahwa pariwisata berkelanjutan itu adalah pariwisata yang masih ada besok.

Baca Juga Virus Corona: Tantangan Global untuk Menemukan Obatnya

Pilihan bahwa bumi, dibandingkan sampah adalah upaya untuk memberikan bumi yang bersih untuk besok, yaitu suatu kehidupan mendatang yang merupakan milik anak cucu kita. Pilihan bahwa bumi dibandingkan sampah adalah pilihan untuk kehidupan, sebagaimana konsep kangkilo dalam kebudayaan Buton.

Dunia hari ini, berhadapan dengan juta-an ton sampah yang menganggap laut sebagai tong sampah terbesar di dunia. Laut tidak pernah mengeluh, tetapi paus mati karena makan plastik di Wakatobi adalah teriakan alam, bahwa pilihan untuk memilih bumi sebagaimana pilihan Rustam Awat adalah harus menjadi pilihan bersama dari masyarakat dunia. Semua orang sudah harus peduli dan punya habitus untuk melihat sampah sebagai musuh.

Baca Juga Daun Pepaya: Obat Alternatif Demam Berdarah bagi Warga Desa

Saya teringat ketika kuliah di Yogyakarta, di dusun Papringan, seorang anak kecil bernama Noni kelas nol besar di paud, mengatakan bahwa Zian jangan buang sampah sembarangan, nanti sampah ke sungai dan kita akan banjir. Di sana juga melarang untuk meracun sungai atau telaga, termasuk mestrom sungai kalau menangkap ikan. Bisa memancing dengan menggunakan alat pancing. Karena racun dan Strom akan membunuh kehidupan, atau bumi.

Di Kendari, untuk mengendalikan nyamuk, cukup membuat ikan di telaga atau got hidup, jangan juga gunakan racun dan Strom. Aturan itu dipatuhi, nyamuk berkurang, bisa duduk santai di teras rumah karena nyamuk tidak banyak lagi. Mengapa? Karena alam bekerja dengan baik, nyamuk ke air, ikan menunggu, jentik nyamuk disantap. Akibatnya, nyamuk dapat dikendalikan, pestisida tak perlu, udara segar, buah dari pilihan bahwa saya memilih bumi, udara yang segar, nyamuk terkendali, manusia menyatu dengan alam.

Pilihan Rustam yang memilih bumi dari pada sampah, dan melibatkan publik seperti gambar merupakan proses memilih bersama. Dan ini bisa diusahakan sebagai pilihan bersama di tengah gelombang sampah yang sudah sangat mengkhawatirkan. Bumi harus tetap menjadi pilihan karena bumi sebenarnya hanyalah titipan generasi mendatang, bahwa kita harus hidup untuk pariwisata berkelanjutan, yaitu masih ada besok.

Penulis: Sumiman Udu

Baca Juga Tujuh Obat Tradisional Asam Urat: Potensi Pengembangan Apotik hidup di setiap desa wisata

Lantik Pengurus BEM dan UKM, Warek III : Gebrakan UMU Buton dalam Oganisasi Kemahasiswaan dan Leadership

UMU Buton, Masuk Siompu Motivasi Siswa Untuk Lanjut Kuliah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *