Rewu dan Reso: Masalah Lingkungan yang Menentukan

Oleh: Saleh Hanan

Dua kata itu, rewu dan reso, dalam percakapan orang pulau (Wakatobi) bisa diartikan sampah. Potongan kecil, atau sisa-sisa barang juga disebut rewu-rewu. Bagian-bagian kecil, item-item remeh-temeh yang masih berguna. Tetapi awan tipis, sepoi, ombak lemah, selepas badai juga dilukiskan sebagai rewu-rewu angin. Intinya rewu adalah bagian sisa. Sampah. Sama dengan reso.
Tetapi jika ditambahkan imbuhan ‘ma’ pada kata rewu akan menjadi marewu. Artinya galau, pusing, stres, kacau, ricuh.

Baca Juga Membongkar Mitos Kuliah (9)

Dalam story masyarakat pulau, reso dan rewu dipakai untuk menyebut dedaunan, sisa kulit buah, potongan-potongan kayu atau bambu, yang dulu menjadi sampah di rumah-rumah. Di halaman. Dibuang ke kebun atau pekarangan dengan tujuan agar melapuk jadi pupuk. Kulit jagung, kacang merah, dibuang ke jalan atau sisi jalan. Tujuannya untuk dilihat pemangku adat yang bertanggungjawab atas kesuburan tanaman biji-bijian bahwa panen bagus. Pemangku adat itu pejabat yang tepat artinya. Sukses lahit bathin, sebab tugasnya berdoa pagi sore untuk kesuburan tanaman biji. Sikapnya jaga perilaku diri di rumah dan luar rumah terlihat.

Kegagalan panen atau serangan hama dan penyakit, bahkan cuaca yang tidak bersahabat, tamsil bahwa pemangku itu cacat lahir bathin. Jadi reso atau rewu kulit buah di pinggir jalan ialah pesan terima kasih dari petani kepada pemangku adat.

Sekarang, sosiologi rewu dan reso, telat termodifikasi. Zaman berubah ke masa kemasan. Kebutuhan rumah tangga dipenuhi barang penghasil kemasan plastik. Karena kelasnya sisa, rewu dan reso plastik tadi ditinggalkan di halaman. Juga dibawa ke kebun yang sama. Tentu fatal. Plastik meracuni tanah, racun larut ke air dan disedot akar ke tubuh tumbuhan.

Resolusinya adalah penggambaran sosial baru. Pendidikan ulang. Reso adalah sebutan untuk sampah yang organik, berguna di kebun. Sedang sampah plastik harus disebut rewu. Kenapa? Dia sesuatu yang bikin marewu. Bikin pusing dan kacau.

Baca Juga HIPMI Wakatobi Yogyakarta: Ruang Kekeluargaan yang Damai
Bagaimana dengan orang-orang, pemuda-pemudi yang meninggalkan plastik bekas bungkus makanan dan minuman di Marina Bay Wangi-Wangi, Wakatobi, itu?

Mereka menyimpan pesan untuk kita. Bahwa para pasangan cinta itu, atau para jomblo yang duduk menikmati pesona marina bay, sesungguhnya sedang galau, kacau, ricuh, tidak bahagia? Entah terancam putus, bosan menjoblo, mau kawin tak ada duit? Segala-gala.

Tugas kita menginstal software sosial baru: buang sampah di tong sampah artinya hati sedang penuh cinta.

Baca Juga Mati Sunyi

Ara Nobhae na Gendi: Nokoru Nawokirano (Kalau beringin itu masih berbuah, merpati mutiara akan banyak yang datang)

Algoritma La Morumoru (bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *