Resto Nike Ardilla: Legenda dan Inovasi Kreatif

Bagi mereka yang lahir tahun 1970-an sampai 1980-an pasti akan mengenang semua tembang yang pernah dinyanyikan sang legenda, Nike Ardilla. Kalau Anda ke Makassar, di jalan Tamanlandrea, di simpang, di situlah resto ini berdiri.

Masuklah! Saat Anda masuk, telinga Anda akan langsung mendengar tembang cinta yang pernah merajai pop di Asia Tenggara. Saat saya masuk, teks lagu “Malam malam aku sendiri” melantun syahdu mengiringi puluhan orang yang datang rehat siang.

Kalau Anda sudah di dalam, mata Anda akan menyaksikan banyak property Nike Ardilla, baik baju, mesin ketik, televisi, telpon rumah, kaset kaset, semuanya akan mengantarkan Anda untuk terbang ke masa masa ketenaran sang Legenda. Jangan lupa, kisah cinta di masa SMA akan kembali hadir, dengan adanya pemicu informasi mengenai era tahun 1990-an.

Bahkan saya mengenang sahabat kecilku yang memborong semua kaset Nike Ardilla di Malaysia saat mendengar sang legenda kecelakaan dan pergi, karena waktu itu ia bekerja di kapal ikan di Safma Sabah Malaysia. Saya teringat teman Madrasah Aliyah yang mengatakan bahwa “Mengapa bukan nenekku saja yang meninggal”, katanya waktu dunia berduka atas kepergian sang Legenda. Duka itu, kini dirawat menjadi sebuah restoran di kompleks Tamanlandrea Makassar. Merawat kenangan, seperti kota Leiden yang merawat warung kopi Tempat minum Einstein, atau Amsterdam yang merawat legenda Anne Frank.

Era pariwisata memang harus inovatif, memanfaatkan legenda untuk mendasari karya karya mereka. Atau lebih maju lagi, orang orang Korea merawat seluruh legenda mereka dalam film The Legend of the Blue sea, atau Jepang yang merawat kenangan mereka terhadap para Shogun dalam film The Last Samurai.

Banyak pengunjung membawa anak anak mereka, datang ke restoran ini, tentu nya membawa kisah cinta dan kekaguman mereka kepada sang legenda. ingin mengenang masa masa indah mereka dulu, sebuah cara untuk merawat kemudaan kita

Lalu bagaimana dengan desa desa wisata, seharusnya kita banyak belajar dari restoran ini, memanfaatkan legenda untuk sebuah karya kreatif. Sama dengan desa wisata Penglipuran di Bali yang merawat ruang publik desa sebagai ruang wisata. Berbasis legenda cinta, ruang publik itu memiliki cerita. Di sana juga ada kenangan dan norma norma yang ditinggalkannya. Desa desa wisata hendaknya belajar dari inovasi yang dibangun dengan memanfaatkan legenda ini.

Sebagai contoh, desa wisata Sombu, Wakatobi hendaknya mengeksplorasi legenda Wambuliga dan watu towengka sebagai kekuatan budaya dalam inovasi mereka. Kisah cinta Wambuliga hendaknya ditulis dalam bentuk novel, agar kelak bisa di filmkan, sehingga mengundang penonton.

Taj Mahal bisa menjadi destinasi unggulan dunia, karena memiliki legenda. Sebuah cerita sejarah yang sudah lama beredar di masyarakat dan menjadi karya sastra di tangan John Sors, dan kemudian menjadi Jodha Akbar di tangan sutradara hebat.

Indonesia tidak kekurangan apapun, tentang cerita seperti ini. Yang dibutuhkan hanyalah jiwa inovatif dan kreatif untuk mengubah legenda itu menjadi karya kreatif yang bernilai ekonomis dan budaya. Lamunanku, terhentak, ketika tembang sang legenda Nike Ardilla “Mama aku ingin pulang”, eh ternyata aku sudah hampir dua jam di sini.

Semoga kisah lamunanku menginspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *