Resto Desa Berbasis Hutan Adat Kadhia Wanse

Wangi-Wangi – Komitmen pemerintah dalam pengembangan desa sebagai salah satu kekuatan masyarakat Indonesia dibuktikan dengan adanya Program Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) yang diberikan kepada seluruh desa yang ada di Indonesia. Dengan adanya program ini, desa-desa yang ada telah merencanakan pengembangan desa sesuai dengan potensi desa mereka.

Desa Posalu Kecamatan Wangi-Wangi kabupaten Wakatobi merupakan salah satu desa yang memiliki potensi wisata yang cukup kuat. Desa Posalu memiliki hutan adat yang disebut kaindea (hutan) kadhia Wanse yang merupakan salah satu bukti kearifan lokal masyarakat kadhia Wanse dalam melakukan konservasi terhadap lingkungan. Di samping itu, desa Posalu juga memiliki potensi wisata berupa benteng Tindoi dan benteng Maleko. Selanjutnya, desa ini juga memiliki situs watu lumba-lumba atau batu lumba-lumba, serta situs talubha la mainaka (sandal lamainaka) yang berbentuk Batu.

Baca Juga Tiga Tempat yang Paling Dirindukan Mantan di Wakatobi

Di sisi agrowisata, desa Posalu juga memiliki peluang pengembangan agrowisata. Namun, untuk menuju pengembangan desa wisata Posalu, Kades La Ode Jamaluddin mengatakan bahwa “Kita harus memulai melakukan langkah-langkah konkrit, dengan membangun resto desa berbasis hutan adat (kaindea sara Wanse). Kita harus mengembangkan resto desa yang dikelola dibawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) desa Posalu. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan ekonimi kreatif, dan juga dapat mengembangkan pemanfaatan hutan nonkayu, tetapi kita menjual oksigen dari hutan tropis yang telah berumur ratusan tahun tersebut,” tuturnya saat diskusi dengan suaradesa.com.

Ia menambahkan bahwa “Kami juga sedang merencanakan pelaksanaan workshop pembentukan desa wisata, sehingga kami mendapatkan legalitas untuk ditetapkan sebagai salah satu desa wisata yang ada di Wakatobi. Kami berharap, dengan ditetapkannya sebagai desa wisata, akan memberian motivasi warga desa untuk berpartisipasi dalam pengembangan desa wisata Posalu. Harapannya adalah dapat menciptakan lapangan kerja, dan dapat meningkatkan penghasilan bagi warga desa” harapnya.

Baca Juga TUJUH TEMPAT WISATA DI MUNA YANG PALING MENAKJUBKAN

Pengembangan resto desa yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mempercepat desa wisata Posalu, terutama setelah masyarakat dapat merasakan manfaatnya, baik secara sosial maupun secara ekonomi. Untuk itu, berbagai bentuk pelatihan, pendampingan dapat dilakukan sehingga pengelolaan resto desa ini dapat berjalan dengan baik.

“Kami juga berharap, setelah pengembangan resto berbasis hutan adat ini, dapat dikembangkan potensi wisata lainnya, seperti pengembangan kopi Posalu yang memiliki citra rasa yang khas. Ini juga dapat mendorong pengembangan makanan tradisi yang khas Wakatobi, seperti helo’a sira, kambalu, soami, serta beberapa sajian alami,” kata kades Posalu.

Ia juga berharap, pemerintah daerah dapat memberikan bantuan dalam hal pelatihan manajeman, serta bantuan promosi, sehingga resto desa Posalu dapat menjadi salah satu tujuan wisatawan yang datang ke Wakatobi. karena resto desa ini sekaligus pusat konservasi hutan tropis yang berbasis masyarakat desa (su001).

Berita Terkait

Padat Karya Desa Wungka: Meningkatkan Daya Beli Masyarakat

Inovasi desa Wisata dan Pengembangan Sultra Menjadi Bali Alternatif

Pantai Bhela’a, Potensi Pengembangan Wisata Pulau Binongko

3 thoughts on “Resto Desa Berbasis Hutan Adat Kadhia Wanse

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *