Rasa Hormat yang Mulai Memudar Kepada Guru

945af5b2-94e2-4dc4-a00e-e3498249e681
Penulis Dariono

Wangi-Wangi – Dunia pendidikan Indonesia menangis, seoarang guru harus terbunuh di tangan siswanya sendiri. Kamis 1 Februari 2018, akan menjadi sejarah duka pendidikan Indonesia. Guru honorer mata pelajaran seni rupa di Sekolah Negeri menengaah (SMA) Negeri 1 Torjun, Sampang, menjadi korban pembunuhan.

Bermula dari ruangan kelas ia mengajar, guru muda itu, menegur seorang siswanya agar tidak mengangu teman temanya, tapi siswa tersebut seakan akan tidak mendengar larangan guru tersebut. Bukanya siswa tersebut diam, entah apa dalam pikiran siswa tersebut sehinga memukul kepalanya gurunya sendiri hingga mengakibatkan gurunya tewas.

Bukan hanya itu saja, belum lama ini, tersebar vidieo yang mempertontokan seorang siswa yang memukul gurunya. Masalahnya hanya sepeleh, guru tersebut hanya menegur siswa tersebut agar mencukur rambutnya. Rupanya siswa itu tidak menerima terguran guru itu, dan langsung memukul guru bersangkutan.

Baca Juga Peran SMK di Era Industri 4.0

Saya sempat dengar curhatan seorang guru, beliau bercerita ketika akan mengajar untuk sekedar membuat anak tenang saja membutuhkan waktu cukup lama, banyak anak yang berbicara kasar tidak sama dengan jaman kalian yang masih memiliki rasa hormat kepada guru. Bahkan murid-murid dulu masih menghargai guru sebagai orang tuanya sendiri. Demikian pentingnya guru bagi murid di masa lalu.

Dua permasalahan tersebut, menandakan bahwa karakter siswa-siswi di Indonesia memiliki krisis adab. Hal ini jangan dibiarkan terus-menerus, tapi harus menjadi tagung jawab pemerintah pusat maupun tingkat daerah untuk mengembalikan karakter rasa hormat kepada seorang guru. Juga harus ditanamkan sejak dari dalam keluarga, bahwa menghargai orang lain itu adalah salah satu sifat yang paling penting untuk dimiliki oleh seorang siswa. Di Jepang, siswa harus memiliki sikap yang kuat baru dapat mendaftar di sebuah sekolah, artinya keluarga dan masyarakat bertanggung jawab terhadap sistem pendidikan. Saya kira peran orang tua begitu penting. Dalam medidik anak di masa tumbuh kembangnya, orang tua harus memberikan teladan yang baik, anak akan mempunyai tingkah laku, karakter dan akhlak yang mulia. Selain itu, orang tua merupakan sosok yang patut teladani. Jangan sampai anak salah mengidolakan seorang tokoh. Mereka harus mendapatkan contoh dari dalam rumah, karena inti dari pendidikan di dalam rumah adalah sikap, bukan hanya pengetahuan.

Baca Juga Makanan Buka Puasa dan Perubahan Orientasi Akademik

Mengembalikan rasa hormat Siswa, melalui Teladan Orang Tua

Saya memiliki cerita, pada saat saya masih meduduki bangku SMA negeri 1 Wangi Wangi seorang guru memukul saya, rasa sakit pun aku rasakan, tak tangung-tanggung, rasa sakit di perutku, aku rasakan selama seminggu lamanya, lalu aku melaporkan kepada orang tua, bukanya aku dibela, tetapi malahan tambah dipukuli. Dua hari kemudian guru itu, datang ke rumahku, orang tuaku pun meminta maaf, karena anaknya sudah memperlihatkan tindakan yang tidak semestinya. Orang tuaku juga berterima kasih kepada guru tersebut karna ia telah mencubit perut anaknya.

Aku yakin betul dengan apa yang dilakukan orang tuaku. Tanpa seorang guru, seseorang yang sukses dalam bidang apapun, tidak terlepas dari didikan seorang guru. Apa yang dilakukan seorang guru merupakan bentuk kasih sayang kepada siswanya agar menjadi anak yang membanggakan orang tuanya. Tapi sangat ironis dunia pendidikan saat ini, tak sedikit guru dilaporkan oleh orang tua siswa karena tindakan seorang guru yang memberikan sanksi kepada siswanya sebagai bagaian dari proses pendidikan. Saya kira ini merupakan salah satu hilangnya rasa hormat seorang siswa kepada guru. Orang tua mestinya, memberikan kewenangan kepada guru untuk mendidik anak-anak mereka, selama masih dalam konteks yang mendidik.

Menurutku, faktor keteladanan orang tua memiliki pengaruh besar terghadap jiwa anak. Kedua orang tua, adalah utama dalam mecetak perilaku anak paling kuat. Keteladan merupakan sarana paling efektif menuju sebuah keberhasilan pendidikan. Oleh sebab itu, orang tua dituntut untuk menjadi teladan yang baik, karena anak-anaknya akan mengamati perilaku mereka dan perkataan mereka. Anak biasanya bertanya-tanya tetang alasan orang melakukan sesuatu, jika ia lakukan itu baik anak pun akan membaik. Saya berpikir bahwa kekurangan sistem pendidikan kita adalah masih terlalu berkutat pada konsep, belum diarahkan kepada masalah kehidupan yang nyata. Demikian juga dengan sistem pendidikan di rumah, dan masyarakat. Anak-anak harus mendapatkan teladan dari rumah dan masyarakat.

Baca Juga Kenta-Kenta: Drama Tradisional Masyarakat Wakatobi

Aku yakin sungguh melalui tulisan ini pasti orang akan bertanya lantas bagaimana, kita membangun kembali rasa hormat itu? Maka saya akan menjawabnya semua kembali pada bagaimana cara keluarga mendidik dan membangun rasa hormat itu tumbuh dalam diri anak. Saya ingat betul didikan orang tua khususnya di tanah Buton, mereka selalu mengatakan kepada anaknya ” Hoto Adati” yang artinya jadilah manusia beradat atau beradab. Kalau kita merujuk pendidikan Islam, adab adalah hak pertama dan utama sebelum anak anak itu diberi ilmu pengetahuan yang lainnya, mereka harus memiliki adab terlebih dahulu. Adab kepada orang tua, guru, teman, lingkungan, dan adab terhadab ilmu. Saya yakin betul apa bila adab telah lahir dari kebiasan dalam lingkungan keluarga maka rasa hormat guru akan kembali pula.

Bukan saya mengurui, dikala kita sebagai orang tua tidak membangun kedekatan emosional dengan anak, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang sulit untuk diatur atau mengatur dirinya sendiri. Maka sebagai orang tua, mulai saat ini sudah harus memulai untuk membangun kedekatan dengan anak. Karena komunikasi yang baik, akan menentukan kesuksesan sang anak di masa depan. Sesibuk apa pun, seharusnya orang tua harus tetap melakukan kegiatan yang membuat anak-anak merasa bahwa ayah dan ibu sangat memperhatikan mereka dan menyayanginya. Dengan kasih sayang, anak akan tumbuh menjadi orang orang yang beradab dan mampu menumbuhkan rasa hormat kepada orang tua, teman, lingkungan dan gurunya.

Siswa-siswi merupakan penerus bangsa, aset bangsa dan merekalah yang akan menjadi agen perubahan bangsa ini kedepan. Untuk menjadi agen perubahan maka sudah semestinya kita memiliki pemuda-pemudi yang memiliki karakter beradab. Berbagai permasalahan yang menimpa pemuda-pemudi bangsa ini, narkoba, pembunuhan, dan rasa hormat yang mulai hilang ini menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. Saya yakin, bangsa ini akan maju, kalau sistem pendidikan kita dimulai dengan membangun karakter, mulai dari dalam keluarga, masyarakat, pemerintah, partai politik, semuanya harus mengambil peran penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang memadai dan beradab (dgl005).

Editor: Sumiman Udu

Baca Juga Tradisi Bhanti-bhanti sebagai Kekuatan Budaya dalam Pengembangan Desa Wisata Wakatobi

Komala Tergenang Air, Butuh Kebijakan Alternatif

3 thoughts on “Rasa Hormat yang Mulai Memudar Kepada Guru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *