Rahasia Al Qur’an tentang Konsep Kabupaten Maritim (1)

Lebah (An-Naĥl):14 – Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.

Baca Juga Novel “BAJAK LAUT”: Sebuah Catatan

Kalau merujuk pada ayat di atas, maka ada tiga aspek penting yang dapat jadikan sebagai indikator dalam pengembangan kabupaten maritim, yaitu (1) adanya kekuasaan Allah dalam menentukan larutan agar kita dapat menangkap ikan. Konsep ini dapat dikembangkan untuk membangun dua konsep yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya.  (2) dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai. Sebuah petunjuk bahwa pada larutan itu ada potensi mutiara yang dapat dimanfaatkan sebagai perhiasan. bisa jadi Allah telah mengajarkan kepada umat manusia bahwa di dalam hutan itu ada taman laut yang indah yang juga harus dijaga. (3) lautan sebagai salah satu jalur transportasi. Allah menundukkan lautan agar kamu dapat berlayar di atasnya. Ini adalah karakter dan budaya dari pada masyarakat Wakatobi. Mereka adalah pelaut pelaut ulung, mereka diberi sifat budaya maritim dari satu generasi ke generasi berikutnya. Peran pelayaran di Maluku atau kawasan timur Indonesia sudah disentuh oleh para pengusaha kapal dari Wakatobi menunjukkan bahwa ayat ini sudah hidup dalam kehidupan masyarakat Wakatobi.

Baca Juga Ekowisata Mangrove di Desa Tampara Wakatobi Dilaunching

Sebagai kabupaten maritim, yang terdiri dari 95% adalah lautan, kabupaten Wakatobi harus mampu memahami ayat ini sebagai basis pengembangan kabupaten maritim. Mereka harus mampu mengembangkan perikanan dan kelautan sebagai kekuatan mereka. perikanan tangkap dan perikanan budidaya harus dikembangkan oleh pemerintah daerah agar menjadi kekuatan kabupaten Wakatobi di masa yang akan datang.

Konsep perikanan tangkap yang dikelola berdasarkan ayat ini sebenarnya sudah terimplementasi dalam karakter masyarakat adat Wakatobi, mereka tidak mengambil ikan yang masih ada telur, hal ini dapat dilihat dari tradisi lalo’a ada dalam masyarakat adat Liya. Mereka juga melarang untuk mengambil kerang yang belum sempurna cangkangnya, ini merupakan aturan-aturan adat yang berhubungan dengan perikanan tangkap di kabupaten Wakatobi.

Bagaimana dengan konsep perikanan budidaya? Allah menjanjikan tentang bagaimana larutan dapat ditentukan agar manusia dapat berusaha untuk mendapatkan daging (ikan). konsep budidaya perlu dilakukan terutama dalam rangka memproduksi beberapa kawasan adat. Kalau kita merujuk pada masyarakat adat Wakatobi, banyak ditemukan tempat-tempat keramat yang sebenarnya adalah pusat-pusat inkubasi ikan yang dilindungi oleh masyarakat adat.

Lalu bagaimana dengan masyarakat modern? Apakah perikanan budidaya dapat dikembangkan? Sepertinya ini yang perlu diperhatikan oleh masyarakat maritim Indonesia. Perikanan budidaya dapat menjadi salah satu alternatif pembangunan perikanan yang berkelanjutan, untuk mendukung pengembangan perikanan berkelanjutan perlu adanya riset Dan keberanian untuk mengembangkan konsep perikanan ini. Wakatobi memiliki banyak potensi ikan yang baik, lobster mutiara (loru), kopa kopa, dan berbagai jenis kepiting yang dapat dikembangkan. baru-baru ini Vietnam memperlihatkan bagaimana mereka menikmati keuntungan luar biasa dari budidaya pembesaran lobster mutiara yang bibitnya bisa jadi berasal dari Indonesia, termasuk yang berasal dari Wakatobi. Di sini perlu penelitian dan investasi untuk dapat mengembangkan budidaya lobster mutiara di Wakatobi.

Baca Juga Kota Naga Tempat Mujur di Wakatobi?

Dan yang paling tinggi eksplorasi atau bahkan eksploitasinya adalah potensi cacing palolo atau honingka serta berbagai jenis teripang yang ada di Wakatobi. beberapa jenis cacing laut ini sudah harus mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat desa atau masyarakat kabupaten Wakatobi, agar laut yang ada di desa atau wilayah adat dapat dikelola secara adat melalui tradisi sasi.

Jika satu jenis cacing ini dapat disasi oleh masyarakat desa, ini akan menjadi salah satu konsep perikanan budidaya sebagaimana yang dimaksud oleh ayat Al-Qur’an di atas. Masalahnya adalah tidak jelasnya peraturan untuk eksploitasi honingka oleh masyarakat Wakatobi.

Kebutuhan masyarakat global atau dunia dari jenis cacing laut ini sangat tinggi, karena jenis cacing laut ini sudah diolah sebagai pengganti berasa seperti Ajinomoto. Di Cina, ini sudah diolah sebagai perasa alamiah. Ini artinya bahwa pasar cacing laut yang sangat potensial untuk dikembangkan.IMG_20191203_213056

Baca juga Bungkulawa Ingkar Janji?

Konsep Al Qur’an tentang Pembangunan Kabupaten Maritim (2)

Festival Lalo’a: Kearifan Masyarakat Adat Liya dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut

Membongkar Mitos Kuliah (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *