Pulau Tarian (bagian 1)

Oleh: Saleh Hanan

Bienvinue op het aljazira dance. Selamat datang di pulau tarian.
Pulau para penari. Joget yang dimaksud. Joget ialah tarian. Menari dengan musik.

Pemahaman itu bisa panjang di Wakatobi. Bisa seperti ini: joget ialah menari di jalan, tanah lapang, halaman rumah, ramai-ramai, semalam suntuk dengan iringan musik dangdut dan alunan lagu para biduan. Dilakukan berpasangan, laki-laki dengan perempuan, dalam koreografis berbaris memanjang.

Para perempuan duduk di kursi yang terjejer ketika masuk arena dan setiap jeda musik. Adapun para laki-laki berdiri di luar arena. Di kiri dan kanan jejeran kursi.

Saat musik dimulai, laki-laki berjalan ke depan perempuan yang dituju, menunjukkan rasa hormat seperti membungkukkan badan, untuk mengajak perempuan berjoget. Tidak boleh menolak atau memilih-milih lelaki pasangan jogetnya. Itu adab duduk di kursi dalam arena.

Laki-laki harus berpakaian rapi. Idealnya. Tidak boleh pakai topi, penutup wajah, sandal, dan harus bercelana panjang. Mengenakan kemeja, dan tak boleh sambil merokok.

Baca Jugaย Beka atau Kucing: Unik dalam Setiap Kebudayaan

Joget bagi laki-laki sebenarnya tempat menunjukkan kegagahan yang identik dengan kerapian. Lelaki rapi dalam ingatan sosial berarti pelayar sukses. Berkelakuan baik. Beradat, tidak sedang terjangkit virus menular, bukan buronan, atau sehat jasmani dan rohani. Begitu pula perempuan, berpakaian rapi. Tanda perempuan baik-baik. Jadi joget dalam ide bukanlah pesta jalanan brutal, bukan pula arena ekaploitasi sensualitas.
Sepertinya joget sudah menjadi cara hidup dalam hubungan horizontal orang Wakatobi. Item pokok setelah bekerja, makan, dan bercinta.

Baca Jugaย Paus Mati di Wakatobi: Alaram Ke Masyarakat Global tentang Sampah dan Masa depan Kehidupan

Tiada acara tanpa joget. Dalam pesta pernikahan, joget seolah menjadi ungkapan terima kasih kedua mempelai kepada undangan dan warga yang membantu kelancaran pesta.
Joget dimainkan di desa sampai ramah tamah acara kenegaraan di rumah jabatan pemerintah. Dimainkan anak-anak sampai tua-tua. Berjas, uniform, sampai berjilbab.

Di semua pulau se Wakatobi hampir tiap malam terdapat 1 sampai 2 tempat joget. Musim pesta seperti akhir lebaran lebih lagi. Bisa berlangsung ratusan tempat sebulan penuh. Pesertanya mulai puluhan pasang saja sampai ratusan laki-laki dan perempuan.
Ratusan orang, butuh menari, melantai sepanjang jalan raya, pada hampir tiap malam, untuk hampir tiap orang suka, anak-anak dan tua-tua, dari sore sampai tengah malam.
Bukankah itu berarti Wakatobi pulau tarian.

Baca Jugaย Rusiana Kalambe Binongko: Lagu Wakatobi yang Menggoyangkan Jakarta

Masa’a sebagai Tradisi Bela Diri dalam Masyarakat Wakatobi

Tinjauan Kritis ATAS VISI MARITIM Wakatobi: Belajar dari Norwegia

 

 

One thought on “Pulau Tarian (bagian 1)

  1. Joget atau menari sebagai bentuk kekompakan masyarakat wakatobi, terciptanya hubungan yg harmonis bahkan memperkuat hubungan silaturahim diantara masyarakat wakatobi.
    “I like joget”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *