Pulau Matahora: Wisata Paling Favorit Anak Muda Pasca Covid 19

Kalau Anda jalan jalan ke Wakatobi, pas Anda mendarat di Bandara Matahora, beberapa menit sebelum Anda mendarat, jika arah angin dari barat, di sebelah kanan pesawat Anda akan melihat tiga buah pulau yang sangat eksotis, Nua Ponda, Nua Taparo’o dan Matahora. Beberapa menit sebelum Anda mendarat, lihatlah sejenak mata Anda akan menatap ketiga pulau itu, dan beberapa menit kemudian, pesawat akan mendarat dengan sempurna di bandara Matahora. Jangan takut, landasan pesawat sangat mulus, Anda seperti mendarat di bandara internasional Hasanuddin Makassar. Mulus dan sempurna. Setelah itu, keluar bandara, Anda harus ke arah kanan melalui Melai One, di sana Anda akan lewat pinggir tebing, mata Anda dapat melihat pulau itu dari kanan jendela mobil. Perlambat sedikit mobilnya, biar ada waktu Anda memotret, untuk jepretan pertama Anda setelah keluar dari Bandara. Tentunya akan menjadi kenangan Anda yang indah untuk Wakatobi.

Di sana ada beberapa lokasi strategis untuk memotret keindahan alam itu, terutama di saat sunrise, pulau itu menjadi idola. Di musim barat, pulau itu sangat teduh, Anda bisa snorkeling dan diving di belakang pulau itu, hanya saja banyak ikan pari atau masyarakat lokal mengenal nya dengan sebutan wara wara. Sekali Anda tertusuk, sakitnya luar biasa. Tapi kalau Anda tidak injak, maka ia bisa jadi objek pemotretan bawah lautmu.

Pasca covid 19, anak anak muda melepas kepenatan pikiran mereka selama karantina, mereka menuju ke tiga pulau itu. Anak-anak muda dari Longa, Patuno dan Waelumu sekarang berwisata ke sana. Anak anak muda menyediakan bodi bodi untuk transportasi ke pulau itu. Mobil dan motor bisa di simpan di jembatan pelangi Matahora. Anda menyebrang ke sana.

Harga satu kali jalan PP Rp.100.000, dengan mampu memuat enam sampai 10 orang. Jadi tidak mahal. Di sana juga akan disediakan air minum. Makanan belum di siapkan, sehingga pengunjung bisa menyiapkan dari rumah, sambil menunggu kesiapan anak anak muda dari Wangi-wangi Timur Baru yang siapkan akomodasi dan konsumsi.

Beberapa anak muda yang sedang menikmati makan siang yang mereka sendiri sudah siapkan

Hanya butuh beberapa menit atau lebih kurang 12 menit Anda sudah bisa menginjakkan kaki di pasir putih pulau Matahora, pulau yang menjadi asal usul nama bandara Matahora. Ucapkan salam kepada pulau itu, dengan sama “Akan kujaga kebersihan dan keindahan alammu” karena Anda tidak boleh mengotori pulau itu dengan sampah, karena belum ada petugas kebersihan, masyarakat juga belum siap. Peganglah sampah Anda, dan bawa pulang, nanti di pulau Wangi-wangi baru Anda buang di tong sampah. Itu akan lebih arif, karena pulau itu baru dibuka dan belum dikelola.

Saat ini, ada tiga bodi yang siap mengantar Anda dan sahabat Anda ke tiga pulau itu. Mereka adalah pemain baru, tadinya mereka adalah nelayan. Jadi Anda bisa berdiskusi dengan mereka tentang cara mengembangkan bisnis ini.

Anda tiba di pulau Matahora, berjalan kakilah ke ujung bagian timur laut, di atas pulau itu, Anda berjalan di atas batu cadas, tanpa tumbuhan, tetapi keindahan senja akan sempurna kalau anda saksikan percikan ombak laut Banda di bagian timur pulau pada musim timur. Di ujung Matahora, anda belum bisa menyebrang ke pulau Nua Taparo’o, di sana pada musim timur banyak garam yang Anda dapatkan di atasnya. Di situlah kakekku dulu mengambil garam kalau membuat perahu di Nua Ponda, pulau yang banyak tanamannya. Di barat daya pulau itu, ada manggorow, tempat saya bermain mencari ikan dan berbagai jenis lauk saat ikut kakek ke pangkalan perahu di pulau itu.

Wisata pulau ini kalau dikelola berbasis masyarakat, akan menjadi warna lain konsep pariwisata Wakatobi. Masyarakat berpartisipasi, dan hasilnya bisa gunakan untuk pembangunan desa. Pemerintah memberikan fasilitas berupa tempat parkir, jembatan dan jalan menuju ke pantai. Masyarakat yang kelola hasilnya nanti dibagi sebagaimana desa desa wisata lainnya di pulau Bali, seperti Penglipuran, Tanah Lot, semua punya sistem pembagian.

Dengan dikelola oleh masyarakat, desa bisa hidup, dan masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Universitas bisa diajak kerja sama. Hari ini, geliat wisata ini sudah bisa terasa dan pelakunya adalah orang orang lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *