Pulau Mahar

Oleh: Saleh Hanan

Belasan pemuda kerap ke pulau mahar. Memilih melewati malam minggu dalam pulau kecil. Delapan diantaranya bujangan. Antara belum memikirkan menikah atau belum berani menikah. Bisa juga karena sudah lusinan kali gagal jatuh cinta. Yang tiganya mempelai muda. Belum lama menikah.
Pagi, sore, siang dan malam-malam lainnya, waktu mereka tercurah di pulau mahar. Sebenarnya apakah mereka melarikan diri, kesepian, atau sebuah imajinasi? Salah satu diantaranya atau semua alasan itu bisa benar. Yang jelas pulau mahar tempat mereka merdeka dari pertanyaan-pertanyaan baku di lingkungan seperti, kapan menikah? Bagi yang belum menikah, atau kerja apa? Dan seterusnya, bagi kesemuanya.

Baca juga Permandian Bantimurung: Sumber Devisa Kabupaten Maros

Pulau mahar tempat mereka merdeka dengan hobi mereka. Menulis, membuat film, foto, dan bermain tangan menyentuh potongan kayu dan plastik yang terdampar dengan rasa seni. Satu-persatu flora dan fauna, land scape dan histori pulau mahar didokumentasikan.
Saat lelah, mereka terbaring dalam hammock. Bergelantungan di antara batang pohon kelapa. Saat lapar, ikan yang tersangkut jaring yang mereka bentang di laut dekat pantai menjadi santapan. Saat mereka duduk di pantai, matahari terbit dan tenggelam sama terlihat.

Pulau mahar ialah Pulau Sumanga. Menjadi mahar La Gansalange, putera Ratu Surubaende untuk melamar Wayiriabe, puteri Raja Liya. Sejarah belasan abad lalu.
Ratu Surubaende datang dari timur. Dari rumpun Melanesia. Bermigrasi dari pulau-pulau Maluku, melayari Laut Banda. Pada mulanya untuk mencari jejak ayahnya, seorang lelaki dari Pulau Koba. Pulau pada arah siowa atau matahari tenggelam menurut petunjuk ibunya. Pulau Koba adalah nama asli Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, di mana Pulau Sumanga yang menjadi mahar cinta itu berada di tenggaranya.

Baca Juga Ara Nobhae na Gendi: Nokoru Nawokirano (Kalau beringin itu masih berbuah, merpati mutiara akan banyak yang datang)

Sekarang, ada belasan pemuda dan kisah cinta La Gansalange dan Wayiriabe bertemu di pulau mahar. Semua tidak kebetulan. La Gansalange, putera nan flamboyan, seperti kesan pada namanya. Lange harfiahnya langit, memberi image Gansalange laksana anak angsa yang turun dari langit. Wayiriabe, puteri yang memesona seperti yang tersirat dari namanya. Yiri artinya semacam angin sepoi yang merebahkan. Sedangkan belasan pemuda itu juga bukan orang sembarangan. Bukan karena beberapa diantaranya sarjana. Ke pulau mahar bukan karena tidak ada tempat untuk mereka dalam kota yang tumbuh membangun. Bukan karena cafe kopi tempat anggota club dan komunitas-momunitas kota menunjukkan maskulinitas di luar angan mereka. Akan tetapi belasan pemuda ke pulau mahar untuk sebuah ide yang terbang semegah anak angsa turun dari langit, seringan angin sepoi yang menusuk.

Belasan pemuda itu bercita-cita mengajak para guru, dosen, lalu para ayah dan ibu, membawa anak sekolah, mahasiswa, dan putera-puteri mereka ke pulau mahar. Bertamasya edukasi.

Baca Juga Harga Sesuatu: Tergantung Siapa yang Mengenalnya bagian (1)

Intrik Kuasa: Memicu Seteru, Memacu Konflik Wuna–Buton

PANTAI DAMALAWA COCOK UNTUK DI JADIKAN TEMPAT REFRESHING

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *