Pesona Cinta di Balik Kejeniusan Albert Einstein (bagian 1)

Ada semacam, istilah yang selalu muncul dalam kebudayaan apapun, bahwa dibalik kejeniusan (otak kiri) seseorang, ada kejeniusan otak kanan selalu mengimbanginya. Otak akan sangat familiar dengan cinta. Jika Otak kanan dan otak kiri dapat bekerja secara paralel, maka akan melahirkan kecerdasan yang luar biasa.

Lalu bagaimana dengan seseorang legendaris Albert Einstein? Dia adalah seorang jenius, dan juga seorang sang pencinta. mungkinkah hukum relativisme yang membuatnya terkenal adalah produk dari pemahamannya mengenai cinta dan kebahagiaan?

Albert Einstein sebagai sosok yang cerdas dan pemrakarsa teori relativitas. tidak semua orang mampu mengenal siapa dia sesungguh nya, terutama dalam hal cintanya. Ia adalah seorang lelaki yang memiliki cinta, bukan hanya pada satu orang, tetapi juga pada beberapa orang wanita.

Menurut Huffington Post, Kamis (17/10/2013), mereka menulis  bahwa Einstein ternyata sosok yang populer di kalangan wanita. Pada masa mudanya, fisikawan itu termasuk dianggap tampan dan menjalin hubungan dengan banyak perempuan. Ia adalah sosok lelaki yang mampu memikat banyak wanita.

Baca Juga KEUTAMAAN WARGA NEGARA: MENOLAK BUPATI

Hal ini dapat dilihat dalam sejarah cintanya, dimana pada tahun  1923, Einstein menjalin hubungan dengan wanita bernama Betty Neumann. Hingga saat emigrasinya ke Amerika Seriat tahun 1933, ia mengencani wanita pirang Austria bernama Margarete Lebach, sosialita bernama Estella Katzenellenbogen, dan seorang janda kaya bernama Toni Mendel.

Selanjutnya, kisah cintanya juga dapat dilihat sebelum menikahi seorang wanita bernama Mileva Maric, Einstein juga pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan hingga memiliki anak perempuan di luar nikah. Nasib anak itu tidak jelas. Fakta ini, menunjukkan bahwa beliau adalah manusia biasa, yang memiliki kecerdasan dalam hal otak kanannya, cintanya. Paling tidak, ia memiliki hasrat untuk mencintai.

Baca juga Hafis Qur’an, Menjadi Tawaran kepada MAN Wangi-Wangi untuk Kuliah dengan Beasiswa di UMU Buton

Tahun 1903, Einstein menikah dengan Mileva Maric. Dari pernikahan itu, Einstein punya dua anak, Hans Albert dan Eduard. Pernikahan Einstein dan Mileva tak bisa dibilang romantis. Pasangan itu akhirnya bercerai setelah Perang Dunia I, pada tahun 1919.

Fakta mengejutkannya, selama pernikahan, Einstein membuat aturan-aturan aneh untuk Mileva. Einstein mengharuskan Mileva untuk menyediakan makan 3 kali sehari, berhenti bicara bila Einstein menginginkan, serta tidak mengharapkan keintiman dari Einstein.

Fakta mengejutkan lain adalah istri kedua Einstein, Elsa Eisntein, yang ternyata adalah sepupunya. Hubungan Elsa dan Einstein bahkan dimulai sejak pernikahan pertama Einstein belum berakhir.
Elsa dan Einstein menikah pada tahun 1919. Elsa adalah orang yang merawat Einstein selama sakit, menemani Einstein selama tahun-tahun pertamanya memberikan kuliah serta menerima Nobel Fisika. Elsa meninggal tahun 1936 karena sakit jantung dan hati (dikutip dari https://sumsel.tribunnews.com/2013/10/23/fakta-mengejutkan-tentang-einstein-dan-wanita.

Itu adalah fakta-fakta bahwa sebagai seorang jenius, Albert Einstein memiliki sisi otak kanan yang luar biasa. Ia memiliki pengalaman bercinta yang cukup menarik perhatian ketika kita berbicara mengenai hubungan cinta dengan kecerdasan.

Banyak orang yang menghubungkan orang orang cerdas dengan kerja otak kanannya. Mungkinkah cinta adalah pemantik keseimbangan antara kerja otak kiri dan otak kanan yang menunjang kejeniusan seseorang? Banyak fenomena orang orang hebat, adalah mereka juga yang hangat di atas ranjang, dalam arti mereka adalan mereka yang memiliki kecerdasan otak kanan, terutama dalam hal cinCoba tebak, organ mana yang sistem kerjanya sangat kompleks? Kamu yang menjawab otak, tetap jawabanya. Otak tersusun dari 100 miliar lebih sel saraf yang berkomunikasi dalam satu sistem dengan triliunan koneksi. Nah, sudah kebayangkan betapa kompleks dan rumitnya sistem kerja otak?

Baca Juga ITB Menyematkan Doktor Honoris Causa untuk Jusuf Kalla: Sebuah Apresiasi yang Menginspirasi

Hasil penelitian ahli di University of Utah tidak menemukan bukti-bukti teori dominan otak kiri atau otak kanan. Dengan kata lain, kedua sisi otak saling berkomunikasi dan terhubung. Penelitian tersebut membenarkan bahwa bagian otak punya fungsinya masing-masing.

Contoh, otak kanan berfungsi mengikuti arahan, sedangkan otak kiri berperan dalam fungsi bahasa. Namun, bukan berarti salah satu sisi otak jadi lebih dominan. Kesimpulannya, otak kiri dan kanan berperan aktif bagi manusia di dalam kehidupan.

Dengan demikian, mungkinkah kejeniusan Albert Einstein, merupakan kombinasi antara otak kanan dan otak kiri nya. Adakah peran pesona cinta nya, untuk riset-riset ilmiah dan rumus relativisme. Mungkinkah ini dapat dijadikan sebagai model dalam pembelajaran di sekolah, bahwa untuk mendapatkan anak-anak yang jenius, mereka juga harus dilatih untuk anaknya dalam hal cinta. Mungkinkah kasih sayang orang tua dapat menjadi sarana untuk mengembangkan pesona cinta di setiap otak manusia?

Saat ini, sekolah harus diarahkan untuk menanamkan atau mengembangkan pesona cinta pada setiap otak anak didik, karena keterpaduan antara otak kanan dan otak kiri akan menghasilkan generasi generasi yang cerdas dan jenius.

Belajar dari pesona cinta Albert Einstein, kita bisa membangun sebuah paradigma pendidikan bahwa cinta dan kasih sayang, adalah aspek penting dalam membangun kejeniusan atau kecerdasan seorang manusia.

Kalau artificial intelligence dapat menggantikan peran otak kiri, maka pesona cinta yang dimiliki oleh otak kanan, tidak akan mampu diperankan artificial intelligence. Sisi kelemahan artificial intelligence, kasih sayang dan cinta. Lalu yang menarik adalah sebuah pertanyaan, apakah saat ini pendidikan harus diarahkan untuk memberi kesempatan kepada otak kiri dan otak kanan untuk mampu berkembang secara seimbang pada diri setiap anak didik?

Baca Juga Catatan Ringan: *MENYONGSONG KURIKULUM BARU*

Lalu bagaimana mengajarkan cinta pada anak-anak SD? Ajarkanlah mereka untuk mencintai dirinya, cintai temannya, mencintai lingkungannya. Mereka akan mengaktifkan sel otak kanan mereka, itu sangat penting untuk membangun kejeniusan mereka (su001).

Bersambung**”

Baca Juga Intrik Kuasa: Memicu Seteru, Memacu Konflik Wuna–Buton

Metode La Uge: Konsep Survival dalam Era Industri 4.0 (1)

PIDATO MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PADA UPACARA BENDERA PERINGATAN HARI GURU NASIONAL TAHUN 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *