Perpustakaan Desa Sombu: Kunci Menuju Peradaban Modern (Bagian 1)

 

34743698_319942738540940_1473270148709220352_n.jpg
La Ode Aydin dan La Ndilu (baju Kuning) sedang berada di Purpustakaan Desa Wisata Sombu

Sombu, Wakatobi – Kalau melihat perjalanan kebudayaan manusia, maka semuanya ditentukan oleh sejauhmana kebudayaan itu memiliki kekuatan literasinya. Lihatlah, sebelum bangsa-bangsa Eropa memilik kemajuan seperti sekarang ini, pusat kemajuan peradaban manusia masih terdapat di timur tengah. Berbagai perpustakaan di timur tengah telah memberikan pengaruhnya kepada peradaban manusia. Perpustakaan Alexsanderia yang ada di Mesir merupakan tempat berkumpulnya para ahli di dunia untuk melakukan berbagai kegiatan ilmiah.

Begitu pula dengan hadirnya Baitul Hikmah di pusat peradaban Islam.  Peradaban Islam mencapai puncak kejayaanya pada masa Dinasti Abbasiyah. Di masa ini, Islam menjadi kiblat peradaban dunia. Penyebabnya bukan karena luas wilayah kerajaan yang mencapai 2/3 dunia, tapi karena penguasaan ilmu pengetahuan yang tidak ada tandingannya. Di sanalah puncak peradaban Islam itu. Pada masa itu seniman, teknokrat, ilmuwan, pujangga, filsuf, dan saudagar berkontribusi terhadap perkembangan di bidangnya masing-masing. Ilmu agama, kesenian, industri, hukum, literatur, navigasi, filsafat, sains, sosiologi, dan teknik mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada masa ini juga lahir sebuah institusi keilmuan modern pertama di dunia yang menjadi cikal bakal perkembangan ilmu pengetahuan ini, Baitul Hikmah.

Baca Juga Lanskap Daragundi: Potensi Wisata Alam Po’okambua

Kalau mengikuti alur sejarah peradaban manusia, maka bangsa-bangsa barat kemudian melakukan upaya pengambilan berbagai bahan perpustakaan di Bagdad, Mesir dan dunia timur lainnya, dan kemudian mereka membangun perpustakaan di berbagai belahan bumi di Eropa. Dampaknya kemudian menjadikan eropa mampu mengambil alih peradaban manusia, sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia dan menguasai dunia sampai sekarang. Mereka menanamkan bahwa membaca adalah pintu masuk memasuki peradaban manusia.

Baca Juga Desa Wisata Kulati Memiliki Fasilitas Home Stay yang Layak Huni

Kesadaran ini kemudian ditemukan oleh La Ndilu, kepala desa Sombu kecamatan Wangi-Wangi kabupaten Wakatobi. Ia mendirikan perpustakaan desa wisata Sombu dengan harapan bahwa “Untuk membangun sumber daya manusia, maka salah satu jalannya adalah harus menyiapkan mereka untuk dapat membaca. Karena baginya membaca itu membuka wawasan”. Mungkin ia tidak pernah membaca gagasan Sultan Harus Al Rasyid saat membangun Baitul Hikmah, tetapi energi sejarah yang mencintai rakyatnya adalah sebuah alur sejarah yang bisa saja menemui pemimpin di manapun. Ia menyadari pentingnya membanguna pusat peradaban di desanya. Ia juga menyadari bahwa perintah agama manapun, termasuk di dalam Islam perintah pertama dari Allah adalah membaca, maka untuk membangun Sumber daya manusia desa wisata Sombu, harus dimulai dengan membangun perpustakaan untuk masyarakat”, katanya saat kunjungan saya untuk melihat perpusatakaan itu.

Bersambung…

Baca Juga

Perpustakaan Desa Sombu: Tautan Warga dengan Dunia Luar (Bagian 2)

 Pinang: Tanaman yang Jangka Panjang yang Bernilai Ekonomis

Kepercayaan Rakyat: Aspek Penting dalam Kepemimpinan

Transformasi Mitos ke Konsep Konservasi Modern: Bank Ikan pada Desa Wisata Kulati (bagian 1)

Transformasi Mitos ke Konsep Konservasi Modern: Bank Ikan pada Desa Wisata Kulati (bagian 2)

Watu Towengka atau Sombu Dive Icon Desa Wisata Sombu

6 thoughts on “Perpustakaan Desa Sombu: Kunci Menuju Peradaban Modern (Bagian 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *