Perpustakaan Desa: Pintu Menuju Pembangunan Peradaban

      

Peradaban bangsa dimanapun dan kapanpun, selalu dipengaruhi oleh faktor pengetahuan masyarakatnya. Karena hakikat dari pembangunan sesungguhnya adalah pembangunan sumber daya manusia[1]. Kondisi inilah yang menyebabkan tingkat kemajuan suatu bangsa akan berbeda dengan bangsa lainnya. Bangsa-bangsa besar seperti China, India, bangsa-bangsa Arab, Latin (Eropa) memiliki warisan budaya dalam bentuk lisan dan tulisan. Namun, hanya bangsa-bangsa yang mengawetkan pengetahuan mereka melalui tulisanlah yang kemudian jauh lebih maju peradabannya.

Di sisi yang lain, bangsa-bangsa yang tidak memiliki sistem pengawetan pengetahaun yang baik, atau mereka tidak memiliki tulisan, akan berdampak pada proses pewarisan pengetahuan pada generasi mereka. Mereka hanya akan mengandalkan memori kolektif mereka yang tersimpan di dalam berbagai tradisi lisan itu. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan pada kebudayaan-kebudayaan yang melek huruf akan sangat rawan untuk terjadinya perubahan atas memori pengetahuan yang mereka miliki[2]. Di sini, terkadang kematian seorang tokoh sekaligus menjadi kematian ilmu pengetahuan sebagai sumber literasi bagi masyarakat. Aspek lain yag menghambat pengetahuan masyarakat luas dalam kebudayaan lisan adalah tidak semua orang dapat mengakses ilmu pengetahuan tersebut. Ini disebabkan karena banyaknya aspek-aspek kepercayaan dan persoalan hubungan kekerabatan yang menjadi penentu terkases atau tidaknya suatu ilmu oleh seseorang.

Baca Juga TUJUH TEMPAT WISATA DI MUNA YANG PALING MENAKJUBKAN

Perbedaan akses ke sumber-sumber ilmu pengetahuan tersebut, sekaligus membuat manusia berbeda kemampuannya dalam menjalani kehidupannya. Di dalam masyarakat manapun, masalah literasi menjadi sangat kursial, terutama dalam menentukan kualitas turunan[3]. Masyarakat Buton misalnya, akan selalu berpikir untuk mencari keturunan tertentu, sesungguhnya yang menjadi persoalan adalah pada aspek literasi yang tersimpan di dalam suatu keluarga. Karena di masa lalu, ilmu yang beredar di dalam kelas bangsawan (kaomu[4] dan walaka[5]), tidak diajarkan pada keluarga maradhika[6] dan bhatua[7], demikian juga ilmu para keluarga pengusaha, akan menjadi rahasia mereka, dan tidak akan diajarkan kepada sembarang orang terutama yang bukan satu klan dengan mereka.

Kondisi keterbatasan akses ini, kemudian melahirkan adanya kesenjangan pengetahuan di dalam masyarakat Buton masa lalu. Implikasinya kemudian adalah terjadinya perbedaan perilaku sebagai modal kulutral mereka dalam hidup, baik dalam konteks rumah tangga maupun dalam konteks bernegara. Mereka yang berasal dari kalangan kaomu dan walaka, mendapatkan akses yang luas terhadap literasi, baik lisan maupun tulisan, maka mereka lebih survife dalam menjalani kehidupan, karena mereka mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai pembentuk peradaban mereka yang diwariskan dari keluarga masing-masing. Ini sangat merugikan masyarakat Buton kebanyakan. Inilah yang disinyalir oleh UNESCO bahwa literasi adalah hak setiap individu[8] yang harus dilindungi (su001).

Bagian 1

Baca Juga Desa Wungka Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Budidaya Pegagan: Membangun Apotik Hidup Berbasis Desa

Paus Mati di Wakatobi: Alaram Ke Masyarakat Global tentang Sampah dan Masa depan Kehidupan

 


[1] Menurut Inayatullah (dalam Agus Suryono, 2001: 1), pembangunan adalah perubahan menuju pola-pola masyarakat yang memungkinkan realisasi yang lebih baik dari nilai-nilai kemanusiaan yang memungkinkan suatu masyarakat mempunyai control yang lebih besar terhadap lingkungannya dan terhadap tujuan politiknya, dan yang memungkinkan warganya memperoleh control yang lebih terhadap diri mereka sendiri.

[2] Bambang Purwanto menyebutkan bahwa Jan Vansinna mengakui tentang keterbatasan keterbatasan memori untuk meneruskan keberlangsungan tradisi lisan (Vanssina: 2014: xxvii). Ini menunjukan bahwa salah satu kelemahan tradisi lisan adalah terbatasnya memori yang menyimpan sebuah ingatan.

[3] Nabi Muhammad memberikan penekanan pada aspek kualitas iman, atau agama dalam memilih jodoh, dimana agama memuat ilmu pengetahuan atau salah satu sumber literasi yang dapat memperngaruhi akhlak seorang manusia (liht, Hadis Riwayat Bukhari Muslim) dapat juga diakses pada https://www.slideshare.net/chandramarwanto/kupinang-engkau-dengan-al-quran diakses pada tanggal 18 April 2017.

[4] Kaomu  dan walaka merupakan salah satu bangsawan Buton yang keturunannya dari para pendiri kerajaan Buton. Merekalah yang berhak untuk mendapatkan jabatan sebagai raja atau sultan di zaman kesultanan.

[5] Walaka adalah kalangan bangsawan Buton yang juga sama-sama berhak untuk menduduki jabatan tertentu.

[6] Maradhika adalah kalangan orang kebanyakan yang sifatnya merdeka

[7] Bhatua adalah mereka yang atas tindakan dan perbuatan yang menurunkan harka dan martabat mereka, sehingga mereka harus menjadi budak, misalnya mereka berutang dan tidak mampu membayarnya, maka ia harus bekerja sama si pemberi utang, hingga habis utangnya.

[8] http://www.wikipendidikan.com/2016/03/pengertian-definisi-makna-literasi.html di akses pada tanggal 16 April 2017

2 thoughts on “Perpustakaan Desa: Pintu Menuju Pembangunan Peradaban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *