Perjuangan Kesetaraan: Jejak dan Mimpi Haliana

Oleh: Sarjono Amsan

Lebih kurang 25 tahun silam, anak muda yang hanya berkaos dalam itu, memakai sarung, sedang memeriksa hasil ujian kawan-kawannya di Fakultas Ekonomi UHO. Dia, masih mahasiswa, tapi beberapa dosennya memintanya untuk membantu memeriksa dan menilai hasil ujian teman yang juga mengambil mata kuliah yang sama.

Saya penasaran dengan anak muda ini, karena sehari-hari dia masih belanja di pasar, memasak dan mencuci sekeranjang cucian setiap paginya. Untuk makan sehari-harinya tidak jarang dia masih dikirim ikan sebelanga atau soami dari kampung oleh orang tuanya. Orang tuanya hanya pekebun biasa dan menggembala beberapa ekor kambing di bawah rumahnya.

Di tengah keterbatasan itu, anak muda itu mampu menorehkan kurang lebih IPK 3,7, diakhir kelulusannya dari FE UHO. Hanya beberapa hari setelah lulus langsung diterima bekerja di Bank Danamon. Padahal, ijazah belum diterimanya. Karena kecemerlangannya, dia merupakan perwakilan karyawan yang diutus mengikuti pelatihan Pusdiklat Bank Danamon di Bogor. Padahal, belum sebulan diterima. Selanjutnya, karirnya di Danamon moncer dan meroket hanya dalam hitungan tahun.

Bergelut di Bank Swasta dengan prestasi moncer ternyata hanya menyerap Ilmunya. “Paling tidak saya paham mekanisme usaha dan keuangan dan bagaimana sektor keuangan memandang sektor riil dan mendorong percepatan pengembangan usaha dengan mekanisme finansial,” ujarnya saat ia mulai mengambil keputusan meninggalkan Bank Danamon pada puncak karir.

Tapi ada hal yang saya pelajari, bahwa kemiskinan itu “bukan pilihan”. Karena tidak ada orang yang memilih untuk miskin. Kemiskinan itu dipengaruhi oleh struktur sosial kita. “Karena itu, perjuangan saya adalah perjuangan untuk kesetaraan struktur sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Penyetaraan struktur sosial, maka tidak boleh ada yang diperlakukan “miskin”. Kesempatan untuk akses pembiayaan, pasar dan informasi harus setara. Itu baru perjuangan keadilan. Di bidang pendidikan pun tidak boleh ada yang diperlakukan sebagai orang “bodoh”. Karena tidak ada orang bodoh, yang ada adalah orang belum mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan bakatnya. Kesempatan yang setarahlah harus kita ciptakan.

Kerap kali karena struktur sosial yang tidak setara, maka justru pendidikan menciptakan pembodohan. Pendidikan yang mengajarkan kesetaraan yang nanti kita harus hidupkan. Setara sejak alam pikiran guru dan murid termasuk struktur pengelolaan pendidikan dan fasilitasnya.

Berbincang dengan anak muda yang 25 tahun lalu saya temui itu memang mengasikkan. Belajar dari pengalaman dirinya yg melebur dengan kemiskinan, lalu menyaksikan bagaimana struktur sosial bisa menindas masyarakat yang paling bawah, menguatkan tekadnya untuk berjuang menyetarakan struktur yang timpang. Haliana nama anak muda itu, tidak sedang menghayal, karena dia bisa membuktikan bahwa struktur sosial pula yang mengangkatnya sekarang sebagai Pengusaha Sukses.

Maka tidak heran, kalau Haliana dulu pernah menawarkan menanam bawang merah secara masal. Program yg dianggap remeh oleh kubu “maritim” itu sebenarnya bisa memastikan kepemilikan alat produksi bagi rakyat. “Tugas pemerintah membantu dan memastikan kepemilikan alat produksi rakyat, memastikan pasar dan harga yang menguntungkan petani,” ujarnya. Organisasi petani yg kita pastikan dikelola bersama dan kepemilikan saham bisa bekerjasama dengan Perusda.

“Saya belajar secara substansi ideologi Marhaen, dimana konsentrasi kepemilikan alat produksi rakyat menjadi perhatian. Tinggal mendayagunakan alat produksi itu, kekuatannya dikumpulkan semua. Penjualan atau Pembelian bersama. Itu yang disebut Bung Karno sebagai Gotong Royong, lalu Hatta menyebutnya koperasi.” Itu berlaku bagi petani, nelayan, perajin, dan kelompok profesi apapun.

Selanjutnya, transparansi informasi. “Era ini harus dipastikan semua orang harus setara dalam akses informasi. Substansi industri 4.0 dan sekarang adalah industri 5.0 kesetaraan dan kepemilikan informasi khususnya pada rakyat kecil menjadi penting.” Masa informasi pengadaan gardus kue di Pemda hanya dimiliki oleh keluarga penguasa? Harus dipastikan semua boleh berkompetisi secara sehat. Atau biar informasi itu dikelola oleh kelompok Ibu-ibu yg mempunyai hubungan pengadaan riil dg pekerjaan semacam itu, tutup Haliana. Tidak terasa bangku di Kalibata City malam itu sudah kosong. Perbincangan menarik dengan “Pejuang Kesetaraan” ini.

Catatan kecil ini akan menarik, jika seluruh calon pemimpin di Wakatobi ditulis trac record-nya sehingga rakyat dapat memilih. Semoga ada yang bisa menuliskan seluruh catatan sejarah perjalanan hidup calon lainnya. Kita berharap pilkada di Indonesia yang dijual adalah gagasan, bukan semata mata menjual kekuatan ekonomi yang bisa saja membuat rakyat tidak memiliki informasi yang cukup dalam memilih.

Referensi seperti ini sabgat penting untuk warga masyarakat dalam menjatuhkan pilihan politiknya. Kita bisa berharap, calon Bupati atau pemimpin di masa depan memiliki catatan baik berupa catatan perjalanan hidupnya, maupun harapan harapan yang akan dilakukannya ketika ia memimpin.

#menunggu catatan untuk calon bupati selanjutnya. Persaingan gagasan akan membuat pilkada berkualitas

Editor: Sumiman Udu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *