Perempuan yang Terbungkam untuk Menutup Aib Bersama

Selama beberapa bulan terakhir, banyak teks teks yang dibangun oleh mereka yang bisa berpikir merdeka. Berbagai upaya untuk menyadarkan publik akan selalu ditulis oleh mereka yang masih memiliki merdekaan dan kebebasan. Lalu teks-teks itu kemudian disambut dan dibagikan dalam berbagai media sosial oleh mereka yang terbungkam oleh berbagai realitas dalam kehidupan yang sebenarnya hati kecil mereka sudah lama memberontak. Tetapi kesadaran mereka tertekan oleh sebuah realitas dengan yang membuat ketakutan dalam pikiran mereka sendiri. Sebuah kebenaran terbungkam oleh keberpihakan media dan tekanan kaum oligarki.

Tulisan-tulisan seperti tulisan Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakari merupakan tulisan-tulisan yang dalam analisis psikoanalisis Sigmund Freud masuk dalam kategori Id. Upaya pembebasan perlu dilakukan untuk membebaskan kesadaran publik kita yang selama ini bungkam karena ketakutan dan kenyamanan. Di satu sisi, ego masih tetap memainkan perannya untuk menekan berbagai kesadaran murni yang ada dalam pikiran manusia. Berupaya untuk dibungkam oleh super ego yang mengontrol ketakutan manusia. Kenyamanan, ditinggalkan, sunyi akan menjadi tekanan luar biasa sehingga mampu membuat pikiran publik lumpuh. Id atau gagasan gagasan murni atau hasrat atau suara hati kita dibungkam, karena ketakutan pada imajinasi yang kita buat sendiri, atau media lakukan.

Kalau kita melihat tulisan itu, sebenarnya sangat sederhana, tetapi membangun kesadaran yang cukup luar biasa, sebagai buah dari kritik yang tajam atas realitas kehidupan kita. Kekuasaan disimbolkan dengan seorang tentara musuh yang masuk ke sebuah desa. Perempuan diperkosa semua dan dipukul, kesuciannya direnggut. Tetapi pada tokoh perempuan yang berusaha untuk mempertahankan kesuciannya, tokoh perempuan itu tadinya dipuji, tetapi akhirnya harus dibungkam dengan cara dibunuh, agar tidak membuat aib terbongkar.

Demikian kisah itu ditulis.

BERAMAI RAMAI MEMBUNUH KEBENARAN, AGAR BERSAMA -SAMA HIDUP DALAM AIB !

Oleh: Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri
(tokoh militer Indonesia).

TENTARA musuh memasuki sebuah desa. Mereka menodai kehormatan seluruh wanita di desa itu, kecuali seorang wanita yang selamat dari penodaan. Dia melawan, membunuh dan kemudian memenggal kepala tentara yang akan menodainya.

Ketika seluruh tentara sudah pergi meninggalkan desa itu, para wanita malang semuanya ke luar dengan busana compang-camping, meraung, menangis dan meratap, kecuali satu orang wanita tadi.

Dia ke luar dari rumahnya dengan busana rapat dan bersimbah darah sambil menenteng kepala tentara itu dengan tangan kirinya.

Para wanita bertanya: “Bagaimana engkau bisa melakukan hal itu dan selamat dari bencana ini.?”

Ia menjawab: “Bagiku hanya ada satu jalan keluar. Berjuang membela diri atau mati dalam menjaga kehormatan.”

Para wanita mengaguminya, namun kemudian rasa was-was merambat dalam benak mereka. Bagaimana nanti jika para suami menyalahkan mereka gara-gara tahu ada contoh wanita pemberani ini.

Mereka kawatir sang suami akan bertanya, “Mengapa kalian tidak membela diri seperti wanita itu, bukankah lebih baik mati dari pada ternoda..?”

Kekaguman pun berubah menjadi ketakutan yang memuncak. Bawah sadar ketakutan para wanita itu seperti mendapat komando.

Mereka beramai-ramai menyerang wanita pemberani itu dan akhirnya membunuhnya. Ya, membunuh kebenaran agar mereka dapat bertahan hidup dalam aib, dalam kelemahan, dalam fatamorgana bersama.

Beginilah keadaan kita saat ini, orang-orang yang terlanjur rusak. Mereka mencela, mengucilkan, menyerang dan bahkan membunuh eksistensi orang-orang yang masih konsisten menegakkan kebenaran, agar kehidupan mereka tetap terlihat berjalan baik.

Walau sesungguhnya penuh aib, dosa, kepalsuan, pengkhianatan, ketidakberdayaan, dan menuju pada kehancuran yang nyata.

Sebelum terlambat, pastikan berani berpihak kepada KEBENARAN.***

Catatan Kritis

Tulisan di atas sudah banyak beredar di berbagai media sosial, tetapi saya ingin mengulas tulisan itu. Jika teks adalah sebuah refleksi atas sebuah realitas yang ditangkap oleh penulis, maka teks di atas menjadi sebuah refleksi yang tinggi atas realitas kebangsaan kita hari ini. Media mulai menutup mata atas realitas sesungguhnya, dan membangun realitas yang diinginkan oleh sekelompok manusia yang mau menciptakan pencitraan. Menguasai media untuk sebuah oligarki politik yang membuat kehidupan berbangsa dan bernegara kita menjadi tidak sehat. Undang-undang diciptakan untuk sebuah maksud tertentu, dan semuanya hanya bisa bungkam, kemerdekaan diberangus.

Mereka yang berani melawan akan ramai ramai dibully atau bahkan dikriminalisasi atau bahkan dibungkam. Akhirnya mematikan seluruh potensi pikiran cerdas perempuan yang mempertahankan kesucian sebagai lambang dari mereka yang masih menjunjung tinggi nilai nilai kebenaran harus dibunuh, hanya untuk menutup aib bersama. Jika sang tokoh perempuan tidak dibunuh, maka itu akan menyadarkan banyak orang untuk sebuah realitas sesungguhnya. Maka jejak makna yang dilakonkan oleh si perempuan itu harus dilenyapkan, sangat berbahaya kalau pada akhirnya ada realitas yang menjadi pembanding dari realitas yang menjadi aib bersama.

Tokoh-tokoh perempuan yang rela kesuciannya diperkosa mewakili banyaknya orang yang ketakutan dan menyerah walau harus menderita. Mereka dibungkam dalam ketakutan hingga tidak punya ideologi untuk melawan dan mengungkapkan gagasan orisinalnya yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. Mereka kehilangan kesadaran dan harapan hidup. Mereka menerima sebuah kenyataan yang sebenarnya mereka sedang tersakiti. Bagaimana mereka bisa menerima sebuah perlakuan yang mengoyak selangkangan mereka dengan melukai tubuh dan moral mereka. Tetapi ketakutan dan cuci otak oleh media, telah membuat mereka menerima realitas palsu itu dengan sebuah upaya untuk nyaman dalam sebuah kepalsuan.

Di tengah ketakutan itu, tiba tiba seorang tokoh perempuan yang berani tampil, semua kagum, tetapi harus dibunuh. Ini adalah bentuk ketakutan yang ada di dalam kehidupan nyata bangsa ini. Mereka yang sadar harus dibungkam, kagum di dalam hati, dan mengakui kebenaran yang diungkapkan, tetapi harus dibungkam demi menutupi aib bersama.

Realitas kehidupan ini banyak ditemukan dalam berbagai ruang politik kita. Seolah kita berbahagia dalam sebuah ruang yang sebenarnya kita berpura-pura, bahwa kita dalam keadaan nyaman. Hati kecil kita banyak yang memahami kesadaran akan kebenaran itu, tetapi ketakutan akan hilangnya ruang kerja, dipecat, tidak dapat proyek berbagai ketergantungan antar komunitas besar yang berkuasa, siapa pun harus tunduk dan takluk pada perutnya sendiri. Mereka tidak memiliki independensi dan kemerdekaan untuk berpikir dan melihat sebuah kebenaran.

Padahal yang dibutuhkan oleh bangsa ini adalah sebuah cita-cita luhur yang diinginkan oleh pendiri bangsa ini, yaitu kemerdekaan. Kemerdekaan berpikir merupakan pilar utama dari sebuah demokrasi. Kemerdekaan berpikir merupakan akar dari inovasi dan kreativitas, yang tentunya sangat dibutuhkan bangsa ini untuk menuju negara maju. Kemerdekaan menjadi aspek penting yang dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tokoh perempuan yang berupaya untuk membela dirinya, adalah representasi kemerdekaan ada dalam teks di atas. Mereka yang memiliki kemerdekaan, akan berpotensi untuk menciptakan berbagai inovasi dan kreativitas. Tetapi mereka yang ketakutan, karena sudah menikmati eksklusivitas dan kenyamanan atom terbungkam dirinya sendiri. Mereka akan selalu ketakutan pada diri mereka sendiri, takut jangan sampai kehilangan dari kenyamanan selama ini mereka nikmati, walaupun sebenarnya mereja dalam aib dan kesakitan yang mereka sembunyikan selama berhari-hari berbulan-bulan dan bertahun-tahun.

Kalau dari prespektif dekontruksi Jaques Derrida perempuan pemberani merupakan jejak kesadaran lain yang dapat diambil untuk sebuah tafsir kehidupan yang memilih bungkam dalam aib. Ada jejak kesadaran yang ditawarkan oleh teks di atas, jejak kesadaran yang sebenarnya ada di setiap hati manusia. Perempuan yang ternoda kesuciannya merupakan representasi dari banyaknya orang yang menderita, tetapi hanya bisa bungkam, kesadaran dan iradatnya akan kebenaran harus dikalahkan oleh wacana malu dan kenyamanan yang dinikmatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *