Perang di Jalur Rempah (Makassar vs Belanda)

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Perkembangan Makassar sebagai pelabuhan rempah yang terkemuka di Nusantara bagian timur membuat Belanda berupaya untuk menaklukkannya. Perang antara kedua belah pihak, tidak hanya terjadi di negeri rempah, tetapi juga di jalur rempah.

Perang di negeri rempah, terutama Maluku selatan, melahirkan Kampung Makassar di Kota Ambon, sedangkan perang di jalur rempah menciptakan Pulau Makassar (sekarang: Puma) di Buton.

Untuk mengamankan jalur rempah, Sultan Alauddin dan Karaeng Matowaya, kemudian Sultan Hasanuddin, berlayar menaklukkan Buton. Baik secara politik maupun ekonomi, Buton kurang penting, tetapi posisinya di jalur rempah sangat strategis menuju dan dari negeri rempah.

Hampir semua pelayaran menuju Maluku melewati perairan (kesultanan) Buton. Salah satu pulai di ujung timur Buton adalah Binongko, sebelum perang Makassar (1666-1669), di bawah kuasa Makassar. Pasca perang, pulau itu dikembalikan kepada Buton. Pulau ini berada di Laut Banda yang langsung menghubungkan negeri-negeri rempah.

Lima tahun setelah Sultan Hasanuddin ke Buton, datang Arung Palakka dan pengikutnya dari Bone. Kehadiran mereka disambut baik oleh Sultan Buton Malik Sirullah (1654-1664). Bahkan, Arung Palakka diberi posisi istimewa sebagai Lakina (pemimpin) di Kadie Holimombo. Setelah sekitar tiga tahun (1660-1663) di Buton, dia berangkat menuju Batavia.

Sikap Sultan Buton terhadap Arung Palakka, pelarian politik Gowa-Tallo, membuat marah Sultan Hasanuddin. Pada akhir tahun 1666, armada Gowa-Tallo (700 kapal membawa 20.000 laskar) yang dipimpin oleh Karaeng Bontomarannu bersama Datuk Luwu dan Sultan Bima berlayar untuk menaklukkan Buton. Tanggal 31 Desember, sebagian wilayah Buton telah diduduki oleh pasukan Makassar.

Berdasarkan sebuah Resolutie (Maret 1666), Batavia mengirim sejumlah amunisi (termasuk 20.000 ton dinamit) dan perbekalan ke Ambon untuk mendukung Kompeni melawan orang-orang Makassar (Zuhdi 2018).

Tanggal 24 November, armada Speelman yang terdiri atas 500 Belanda dan 300 pribumi (orang Bugis dibawah Arung Palakka dan orang Ambon dipimpin Kapten Jongker) bertolak dari Batavia ke Timur. Menjelang akhir Desember, armada tersebut tiba di perairan Makassar dengan tujuan Somba Opu, namun dihalau oleh pasukan Makassar sehingga putar haluan menuju Buton. Tiba pada 1 Januari 1667, armada tersebut tiba di Buton.

Pada 3 Januari, tiga pimpinan pasukan Makassar ditahan oleh Belanda, berikut pasukannya. Sekitar 5.500 orang Makassar ditawan di sebuah pulau, antara Buton dan Muna. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, sebagai tawanan perang. Banyak di antara mereka mati di pulau itu akibat kelaparan dan sakit. Karena itu, pulaunya dikenal sebagai Pekuburan Makassar (Makassarch Kerkhof), Belanda menyebutnya Pulau Pemenang, sedangkan masyarakat lokal menyebutnya Liwuto Makasu (tempat tawanan perang dari Makassar).

Selanjutnya lihat video berikut:
https://m.youtube.com/watch?v=qRtoZ63Iu3Y&feature=share

Disarikan dari bernagai sumber sejarah
Makassar, 14 Mei 2020 M/21 Ramadhan 1441 H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *