Perampok di Tengah Badai Corona

Tidak banyak orang yang bisa memanfaatkan setiap badai. Hanya burung elang yang bisa melakukan liukan liukan indah di tengah badai. Ia bisa terbang dan meliuk di tengah badai sambil menyambar ikan ikan yang menjadi targetnya. Seolah badai baginya adalah sebuah rahmat. Sebuah peluang, semua makhluk kalang kabut, dan terjadi kekacauan dimana mana, kepanikan, keputusasaan, kelaparan dan berakhir dengan chaos. Saat chaos itu, perampok sudah bisa tampil sebagai malaikat. Mereka bisa meminjamkan sesuatu laksana pahlawan, dan ikan kecil harus membayar hingga ke anak cucunya. Mereka memujanya.

Suasana badai itu sudah menjadi nyata dalam dunia saat ini. Badai Corona, badai yang memang dibutuhkan, untuk terjadinya lock down. Semua sudah harus ditutup aksesnya. Berbagai kekuatan global menyarankan agar Indonesia lock down, presiden tak mau. Tetapi para elit yang tak paham target dibalik lock down sangat berbahaya. Negara akan menghentikan berbagai aktivitas warga, kantor kantor tutup, perusahaan tutup, semua berhenti, lalu pengangguran, terjadi. Negara harus menjual sun yang bernama bon global, yang jumlahnya lebih 500 triliun dan kita harus membayarnya dalam jangka waktu 50 tahun ke depan atau sekitar 2070 mendatang. Suatu yang luar biasa.

Dampak dari lock down akan berakhir pada berkurangnya pasokan pangan global, kelaparan akan menjadi ancaman negara manapun di dunia. Semua negara akan memprioritaskan negaranya sendiri, Amerika akan mementingkan rakyatnya, dan semua negara akan ikut mementingkan Negara masing-masing, lalu pada negara yang miskin sumber daya akan menjerit. Atau Negara yang memiliki sumberdaya tetapi tidak siap akan kewalahan. Selama ini negara yang hanya mengandalkan impor pangan akan kewalahan, mereka baru tahu bahwa selama ini pembangunan infrastruktur pangan sangat lemah. Pengembangan teknologi yang bisa mendukung infrastruktur pangan bukan menjadi prioritas, nanti badai korona dapat membuka mata kita semua. Memberi kita kesempatan untuk melihat betapa lemahnya sistem pangan kita.

Apa yang harus kita lakukan ke depan agar skenario di balik badai ini dapat kita minimalisir? Kita yang ada desa akan menjawab itu. Dalam peradaban tradisional, hampir semua suku bangsa di seluruh Indonesia memiliki cara untuk menghadapi sebuah wabah. Kalau seruan global menginginkan kita untuk lockdown di dalam rumah, dan itu adalah jalan menuju terbukanya pengangguran dan tertutupnya produksi, nenek moyang kita dulu sudah menawarkan tentang cara pembatasan sosial yang sangat produktif. Di zaman dahulu, kalau terjadi wabah seperti ini, orang orang tua kita tidak tinggal di rumah, mereka membawa anak-anak mereka ke kebun, mereka membawa anak-anak mereka ke laut, selama berbulan-bulan sampai wabah menghilang.

Apa yang mereka akukan ketika ada di kebun dan laut? Mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka, berita menanam tanaman seperti padi, singkong, ubi jalar, dan berbagai jenis tanaman lainnya yang dapat mendukung pangan. mereka semua melakukan pembatasan sosial di kebun sambil bekerja, karena di kebun memang tidak mungkin berpapasan dengan orang tuanya atau keturunan orang banyak. Demikian pula dengan mereka yang pergi ke laut, keluarga mereka diarahkan untuk bekerja, kita dapat melakukan budidaya dan perikanan tangkap itu kemudian hasilnya dijual, tetap menjaga ketersediaan pangan. Orang-orang yang sedang naik daun tidak hilang bahan pangan, kekacauan sebagai ujung atau akhir dari pada badai korona tidak akan terjadi pada bangsa ini.

Kita bisa belajar, dana desa yang beredar hari ini diarahkan untuk melakukan pembatasan sosial jangan di dalam rumah, tapi harus melakukan pembatasan sosial seperti nenek moyang kita yang dulu. Mereka bisa menghasilkan uang dari hasil panen mereka. Ini perlu kita lakukan bersama di seluruh Indonesia, agar seluruh warga desa tempat seluruh populasi terbesar di Indonesia harus tetap menjaga pangan kita agar orang-orang tetap maka dari hasil pangan yang kita hasilkan.

Dengan ketersediaan pangan yang terus-menerus terjadi, kita telah membantu pemerintah untuk tetap bertahan dalam kebijakan kebijakannya selama terjadi wabah ini. Lockdown di dalam rumah hanya cocok untuk orang-orang kota, itupun kalau orang-orang kota yang tidak punya lahan atau tidak punya kebun di luar kota. Kalau memang kalau mereka memiliki lahan atau kebun di luar kota, sebaiknya seluruh kekuatan kita hari ini kita harus arahkan untuk membangun sumber daya pangan kita.

Bangsa ini harus diselamatkan dengan cara kita melakukan pembatasan sosial, dengan cara ke kebun atau ke laut, agar pangan kita tetap terjaga dalam beberapa bulan ke depan. Petani di desa dapat menjadi pahlawan untuk bangsa dalam hal pangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *