Perahu Karoro: Jejak Peradaban Maritim Wakatobi (Bagian 3)

Bagi anak anak Wakatobi yang lahir hingga tahun 1980-an mereka masih dapat menyaksikan betapa hebatnya kejayaan perahu karoro di beberapa pelabuhan di Wakatobi. Di Pulau Wangi-wangi, hampir seluruh pantai adalah pelabuhan di musim teduh. Tapi perahu akan selalu berlabuh di pelabuhan Patuno (ou laro patuno), Waha, dan Pelabuhan Wilayah Togo atau Wanci jika di musim teduh, yaitu September hingga Pertengahan April. Pada era itu, yang banyak menjaga perahu yang sedang berlabuh adalah anak anak laki laki.

Ada asyiknya kalau menjaga perahu karoro di pelabuhan Patuno, karena teduh, tidak mabuk laut. Tahun tahun 1980-an, Pelabuhan Patuno masih dalam airnya, karena sedimen dan pergerakan kerak bumi, semakin tahun semakin dangkal, sehingga saat ini sudah tidak dapat lagi di tempati perahu.

Kalau Anda ikut menjaga perahu, terutama yang pulang dari Jawa, biasanya banyak makanan, banyak beras untuk di masak. Lauknya gampang, bawa tali pancing atau panah panah. Kita lemparkan tali pancing dari perahu, pasti sudah bisa dapat lauk. Sebuah kehidupan yang masih dapat di tanggung oleh alam. Di perahu juga banyak oleh oleh dari Jawa. Para sawi termasuk koki juga ikut turun, terutama di waktu siang.

Menariknya, ada yang juga hilang saat ini, tidak mungkin diketahui oleh anak anak milenium, sebuah panorama yang menurut saya sangat lucu adalah adanya diskusi sepanjang subuh di pantai Patuno. Laki perempuan duduk di pantai dengan sarung turun menyentuh pasir putih. Ada yang menutup kepalanya, ada juga yang tidak. Ada yang bawa obor, ada yang bawa senter. Semua ke pantai untuk membuang hajat subuh subuh. Benar benar pemandangan yang luar biasa. Sepanjang pantai, semua orang duduk buang hajat. Mereka menggali pasir dan buang hajat. Pemandangan dari perahu, mulai menghitung, jangan pakai jari, karena tak cukup. Sepanjang pantai yang panjang nya hampir 2 km.

Pantai waktu itu, adalah panorama yang sangat luar biasa. Dimana mana ada kotoran manusia. Ayam akan turun memainkan cakarnya menambah aroma pantai tak karuan. Semakin terang, semakin habis penikmat pantai sehabis subuh. Satu satu ayam menyusur dan mencakar, seperti daerah peternakan yang ada di sepanjang pantai. Suasana sunyi pantai, pelan pelan dan satu satu aktivitas tukang perahu mulai bunyi. Tukang yang baru tiba dari rumah mulai memperbaiki perahu sudah mulai terdengar. Kadang harus menanam bekas hajat tadi subuh, biar pangkalan perahu bebas dari aroma tak sedap.

Saat itu juga anak anak Wakatobi ikut belajar bagaimana cara memasang papan perahu yang rusak. Memasang baru, atau alat yang digunakan untuk menutupi sela sela papan. Anak anak diperbolehkan megang alat, yaitu kayu yang dibuat lancip, agak lebar ujungnya, sehingga bisa pas di sela sela papan. Biasanya ada dua, yang paling tipis dan agak tebal dan satunya lagi yang agak kuat. Hasil pekerjaan anak anak, biasanya akan ditest ulang oleh para tukang. Teorinya sederhana, kalau Anda memasang baru dan bunyinya sudah melenting maka itu sudah benar. Semua pertemuan papan harus dicari. Setelah semua, dilakukan gala gala atau semacam getah kayu yang diberikan kepada celah papan perahu.

Setelah semua papan dibaru dan digala gala, perahu akan dilepa, yaitu memberikan kapur yang ditumbuk dengan miyak kelapa goreng. Kapur karang itu disimpan di dalam lesung, lalu disiram dengan minyak kelapa goreng yang masih mendidih. Lalu ditumbuk sampai betul betul menjadi adonan. Setelah itu, dilengketkan pada badan perahu, sehingga baru tadi bisa tahan, dan juga papan tahan dari tembelu atau semacam serangan poipoi, yaitu hewan laut yang akan menempel di badan perahu. Oleh karena itu, lepa juga menjaga agar papan tidak cepat dimakan oleh hewan perusak papan tersebut. Bagian perahu yang dilepa adalah wilayah perahu yang bersentuhan dengan air laut.

Ada tradisi yang menarik saat lepa, kadang juga datang dengan gadis gadis ikut menyaksikan tradisi tumbuk lepa. Mereka memegang peran memasak. Gotong royong juga masih jalan. Gadis gadis tunangan juga hadir. Di sini menarik, karena cinta dan semangat akan tumbuh di sini. Menjadikan perahu sebagai ruang rindu, dan pantai sebagai ruang menanti.

Konon kabarnya, kedigdayaan juragan atau calon juragan terjadi di sini, ada banyak permainan dilakukan. Sepak pali atau takraw melingkar, hingga lomba kekuatan lainnya. Hingga suatu waktu, di hadapan para gadis, calon mertua konon pernah terjadi uji kesaktian. Sehingga ada seorang pemuda yang menusuk badannya dengan pisau, tidak mempan di tubuhnya. Wow, semua tepuk tangan. Ada juga yang memperagakan kekuatannya dengan menggenggam anak lesung hingga patah. Kayu loponi yang kuat dan berat, patah ditangan seorang juragan atau calon juragan. Ruang atraksi yang luar biasa.

Setelah semua selesai, waktunya untuk mencat perahu dengan kapur, sebagai cat bagian bawah. Sementara zat pewarna dari pabrikan sudah banyak dijangkau oleh pemilik kapal. Kapal akan cantik, layar sudah diperbaiki, perkakas sudah disiapkan. Gadis gadis kembali ke kampung masing-masing.

Anak anak desa akan kembali melepas ayah mereka di pantai. Menatap kepergian sang ayah naik ke atas perahu yang di dayung oleh koki. Di kejauhan perahu, sudah mulai menarik tali temali, sebagian mengikat, sebagian menarik layar. Koki masih mengurus jangkar di karang sana, sementara juragan akan memegang rekui atau kendali. Tempatnya di dek belakang.

Di pantai ibu ibu akan menatap suami mereka. Entah berapa lama mereka akan kembali. Satu pengharapan mereka, ayah akan kembali dengan membawa hasil. Seketika mereka berubah menjadi orang yang bertanggung jawab atas keselamatan keluarga. Mereka pulang ke rumah dan selalu berdoa untuk keselamatan suami. Mereka meyakini bahwa keselamatan suami akan tergantung dari sikap dan tindakan ibu di dalam rumah. Demikian juga dengan para suami di perahu, ia menitipkan anak dan istrinya dengan doa dan keluarga. sesuatu yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana bisa membawa hasil yang lebih baik untuk keluarga. Bagaimana bisa mereka akan anak-anak mereka? sekali layar terkembang tentukan waktu sampai 6 bulan belum pulang ke rumah.

Yang menarik adalah sebuah kerinduan yang ada pada anak-anak gadis yang ditinggal pergi oleh kekasih. Kerinduan dan harapan selalu di hati. Doa dan keselamatan selalu di hati. Saat keberangkatan seperti ini, keluarga akan membawa berbagai makanan untuk sang kekasih yang akan berlayar. Namanya heparambaku. Dan ketika pulang dari Jawa, sertifikasi akan di belikan oleh-oleh yang banyak. Bahkan ketika pulang dari Maluku, banyak gadis-gadis atau tunangan itu perahu ke Jawa. Ini adalah tradisi yang banyak dijumpai hingga akhir tahun 1980-an.

Bersambung …..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *