Perahu Karoro: Jejak Peradaban Maritim Wakatobi (bagian 2)

Sejak kecil, sampai dengan tahun 1990-an, anak-anak Wakatobi belum mengenal handphone dan berbagai game online. Mereka masih memainkan permainan yang sangat disukai oleh anak-anak terutama pada musim angin timur. Bagi anak-anak Wakatobi, awal musim angin timur atau sekitar Mei sampai dengan Agustus, permainan anak-anak akan terbagi pada beberapa alat. Di awal musim timur anak-anak Wakatobi akan memainkan layang-layang.

Setelah bosan bermain layang-layang di awal musim timur, anak-anak Wakatobi akan bermain perahu perahu layar di pantai. Ada juga yang bermain sampan dengan layar. Ada yang menggunakan sabut kelapa sebagai perahunya, ada juga yang menggunakan kayu sebagai perahunya. kita bisa menyaksikan berbagai jenis perahu tradisional yang dimainkan oleh anak-anak Wakatobi pada era tahun 90-an.

Walaupun tidak resmi, ada beberapa jenis lomba yang dipertandingkan antar kampung terutama di wilayah timur pulau Wangi-Wangi, ada lomba kecepatan perahu atau Bangka Bangka tenda, ada lomba dengan kategori perahu yang terbuat dari sabut kelapa, ada juga lomba dengan kategori perahu yang berbentuk layar sope-sope. Namun ada juga lomba yang mempertandingkan tentang keunikan perahu-perahu yang dibuat seperti kapal kapal pesiar. Semua diperlombakan tanpa dia, dan hadiahnya adalah ketenangan perahu ketika kembali ke sekolah besok nya. Menjadi perbincangan teman-teman. Pangkalan perang biasanya di bawah tebing, disimpan di sana. Ada anak-anak yang berusia perahu-perahu itu walau disimpan jauh dari rumah. pulang sekolah besok nya mereka akan ke laut lagi untuk bermain sepuas hatinya.

Pada perlombaan Bangka Bangka tenda, biasanya dilakukan pada waktu air meti, karena kecepatan perahu ini sangat luar biasa. Bahkan ada yang bergerak dari atas ombak ombak berikutnya, perahunya seperti terbang. Suatu waktu, saya memiliki pengalaman yang luar biasa terhadap perahu ini. Saya menjadi pemilik perahu yang tercepat selama 1 tahun. Tidak ada yang mampu menaklukan perahu, rahasianya hanya satu, posisi tiang. Seorang profesional yang selalu melayarkan sampannya dengan kecepatan yang luar biasa, memberikan saran agar tiang perahu-perahu ku dimiringkan ke belakang. Saran itu kemudian dia lakukan sendiri pada perahuku, akhirnya perahu itu dia mampu berlayar dengan kecepatan yang luar biasa. Jangan berpikir untuk melahirkan perahu itu pada waktu air naik. Yakin anda tidak akan mendapatkannya lagi.

Dari permainan perahu itulah tradisi maritim itu diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pengalaman memainkan perahu-perahu sejak kecil, akan berdampak pada keterampilan memainkan layar pada perang karoro di saat usia remaja. Bermain perahu perahu sama dengan memainkan layar dan angin. Pada tradisi lomba opaopala, kapal berlayar melawan arah angin, seorang pemain perahu-perahu akan memainkan layarnya dan kemudiannya. pada lomba ini perahu yang baik adalah perahu yang mampu lebih jauh menjangkau wilayah atau daerah dari arah angin. modal permainan perahu ini adalah modal yang kemudian digunakan sebagai kekuatan ketika menjadi sawi atau anak buah perahu pada perahu besar atau perahu Karoro.

Tidak cukup hanya bermain perahu perahu, langke-langke koli koli atau berselancar menggunakan sampan yang berlayar, merupakan permainan yang dilakukan oleh anak-anak remaja. Sampan yang digunakan untuk pergi memancing ikan tuna adalah sampan yang paling favorit pada zaman itu. Mengapa?Karena sampah jenis itu memiliki kecepatan yang luar biasa. Sampan kecil dengan layar 5 sampai 9 meter merupakan sampah yang sulit dikendalikan ketika dilayarkan. Jadi harus berdiri di atas pinggir sampan, tangan kiri memegang tali dari tiang layar, sementara tangan kanan harus memegang dayung sebagai pengendali. Ketika anda berpikir untuk memutar, dengan cepat Anda harus melompat untuk ke arah depan sampan, itu untuk menghindari sampan dengan sampai tenggelam. Jika kaki tergelincir pada saat melompat seperti ini, sasarannya adalah layar yang terbuat dari kertas yang akan robek. Tetapi jika Anda sukses, kapan akan berputar dengan cepat, Anda tinggal mengubah posisi tali layar untuk kemudian tangan kanan yang memegang tali dari tiang, kembali tangan kiri yang memegang daging sebagai pengendali. Permainan ini sangat luar biasa, hampir sama dengan permainan perahu layar yang digunakan oleh orang barat saat berselancar perahu layar.

Semua permainan perahu itu kini sudah tidak ada, anak-anak Wakatobi berubah cara bermainnya. Hari-harinya mereka hanya bermain game online atau gadget. Tidak ada aktivitas seperti ruang untuk mentransformasi kebudayaan maritim kepada generasi Wakatobi hari. Jangankan bermain perahu perahu, belajar melayarkan sampan, atau ditugaskan orang tua untuk menjaga perahu karoro yang sedang berlabuh, anak-anak Wakatobi hari ini telah kehilangan kebudayaan maritim.

Pada beberapa tahun yang lalu, tepatnya 2018 silam, tradisi permainan perahu-perahu tradisional ini menjadi salah satu atraksi yang menarik pada festival Kepulauan Tukang Besi yang dilaksanakan di pulau Binongko. Ini perlu dibuat secara khusus, karena permainan perahu-perahu ini memiliki ruang interaktif dengan para wisatawan dari berbagai belahan dunia. Berbagai jenis lomba juga dapat dibuat sebagaimana spek atau spesifikasi yang yang pernah dilakukan oleh anak-anak Wakatobi di era tahun 90-an.

Pemerintah kabupaten Wakatobi harus menyelenggarakan festival perahu perahu tradisional, sebagai ajang untuk memperkenalkan berbagai kearifan lokal kita terutama dalam hal menghidupkan kembali kebudayaan maritim Indonesia. Ini dapat menjadi salah satu muatan lokal yang dapat diselenggarakan di berbagai sekolah di Indonesia. Anak-anak dapat mengenal kebudayaan maritim kita sejak dini, kita juga bisa bebas dari gadget atau handphone untuk bermain game online. Mereka bisa kembali membangun solidaritas bersama untuk modal mereka ketika mereka besar. Karena perahu Karo bukan hanya, menjadi sebuah ruang untuk hidup, alat untuk mencari mata pencaharian atau alat transportasi. Perang karoro sebenarnya adalah ruang sosial, yang memiliki sistem yang luar biasa.

Dengan perang karo tradisional, misalnya dari sisi administrasi mereka memiliki 6 buku catatan dalam satu kali pelayaran. Sementara dari sisi pembangunan jaringan, perahu tradisional adalah simpul peradaban maritim Nusantara, dimana perang Karoro mampu menghubungkan, kawasan timur Indonesia (Papua, Maluku, Sulawesi, Nusa tenggara timur, negara barat Jawa, Bali, Lombok, Singapura, Tawau, Mindanao, pantai utara Australia. Perahu karoro adalah, salah satu ruang sosial yang mampu menghubungkan wilayah Asia Tenggara zaman dulu.

Saat ini, perahu Karoro tinggal cerita, ia akan pergi dengan semakin menuanya, marsada band juragan yang terakhir pada era tahun 80-an. Perahu Karoro masih bisa ditemukan di beberapa wilayah di Wakatobi, Binongko dan di Wangi-wangi.

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *