Perahu di Tengah Badai Bhanti-Bhanti

Timbangi La Bhonto Timbangi
Timbangi La Bhonto Timbangi
Te Togo No, te togo nolingka-lingkamo
Te Togo No, te togo nolingka-lingkamo

Wangi-WangiImage result for perahu wakatobi Dalam tradisi masyarakat Wakatobi Buton, kita mengenal ruang-ruang kritik kultural melalui kesenian. Bhanti-bhanti merupakan media kultural yang selama ini dijadikan masyarakat adat dalam melakukan kritik kepada sara (pemerintah) yang menurut anggapan mereka sudah berada di tengah badai, sehingga perahu menjadi oleh. Mereka menghimbau kepada sara (pemerintah) untuk berhati-hati dalam menjalankan perahu. Sebab jika tidak hati-hati, perahu bisa saja terbalik di tengah badai. Dampaknya adalah masyarakat atau sawi yang ada di dalam perahu.

Baca Juga Bhangka atau perahu sebagai filosofi Hidup Orang Wakatobi

                Ada beberapa kasus yang membuat perahu berada di dalam badai yaitu dimuat di dalam konsep Pobhinci-Bhinci Kuli yang mengatakan bahwa ada beberapa hal yang dapat membinasakan kapal (kampung) yaitu :

  1. Sabaragau (merampas hak orang lain dengan menghalalkan segala cara), hak bersama dimiliki dan dikuasai oleh seseorang.
  2. Lempagi (melanggar, berhianat atau melangkahi ha-hak orang lain)
  3. Pulu Mosala Tee Mingku Mosala, Pulu Mosala artinya mengeluarkan perkataan yang bersifat menyalahi aturan atau menghina orang lain di muka umum. Sedangkan Mingku Mosala yaitu gerak gerik yang menunjukkan ketinggian hati atau keangkuhan, sehingga berpakaian yang tidak selaras dengan kedudukannya, gila pangkat, gila harta dan mabuk ketinggian derajat sehingga melakukan kejahatan maupun pelanggaran.
  4. Pebula maksudnya:
  • Melakukan Perzinaan dalam kampung
  • Penipuan dan pemerasan terhadap rakyat dengan maksud untuk kepentingan atau keuntungan pribadi.
  • Penyalahgunaan Pangkat dan Jabatan
  • Menggelapkan uang negara (korupsi)

Empat konteks itulah yang memungkinkan harus dijaga oleh seorang pimpinan sehingga perahu tidak oleng. Berbagai tindakan itu, dapat berdampak pada kehidupan masyarakat. Untuk menjaga keseimbangan pemerintahan, kritik selalu disuarakan oleh masyarakat melalui seni.

            Dalam masyarakat adat Wakatobi, mereka melakukan kritik dengan mondar-mandir di halaman pejabat sambil melantunkan teks bhanti-bhanti. Di zaman dahulu, pejabat yang mendapatkan kritikan melalui seni itu, akan melakukan intropeksi diri dan berusaha untuk memperbaiki seluruh kesalahannya. Namun, dalam tradisi welia yang di dalam masyarakat adat kadhia Liya, pemimpin yang tidak mampu menjalankan tugasnya, dapat diberhentikan. Dengan mengucapkan banyak terima kasih atas berbagai jasanya selama memikul tanggung jawab.

Baca Juga Kenta-Kenta: Drama Tradisional Masyarakat Wakatobi

            Di budaya maritim, perahu harus tetap dijaga jangan sampai terbalik di dalam lautan. Mereka akan selalu berupaya agar perahu tetap kembali ke tempatnya dibuat. Oleh karena itu, teks bhanti-bhanti di atas, merupakan pembelajaran kultural bagi masyarakat Wakatobi untuk tetap hati-hati dalam menjalani hidupnya, baik sebagai pemimpin, maupun sebagai manusia biasa. Karena tiap-tiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan mempertanggung jawabkan kepemimpinannya (su001)

Baca Juga Pemilihan Kepala Desa Longa: Kembang Setaman

Ikan Asar menjadi salah satu Oleh-Oleh Khas Raja Ampat

Legenda Cinta Sedarah, Kampung yang Tenggelam

Tradisi Bhanti-bhanti sebagai Kekuatan Budaya dalam Pengembangan Desa Wisata Wakatobi

One thought on “Perahu di Tengah Badai Bhanti-Bhanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *