Perahu dagang Palari

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Perahu ini digunakan oleh para pelaut dari Sulawesi: Makassar, Bugis, dan Mandar dalam perdagangan maritim abad ke-20. Dalam beberapa catatan sering disebut dengan nama PRAHOE PALARI PENIS. Di antara berbagai jenis perahu dagang dari Nusantara yang mengunjungi Singapura, jenis ini (Palari) adalah yang paling banyak. Tak heran, gambar Palari kemudian digunakan pada mata uang Singapira 10 dollar. Dari jenis ini berkembang perahu PINISI.

Sebelum Palari, jenis perahu niaga yang paling terkenal dari Sulawesi adalah Padewakang. Kedua perahu itu dibangun dari dasar perahu lokal Sulawesi, yakni Pajala, yang ditinggikan dengan menambah susunan papan pada kedua belah sisinya. Yang membedakan, antara lain pada jenis layarnya. Padewakang masih menggunakan layar empat persegi panjang (sobal/sombal taja/tanja), sedangkan Palari seperti pada gambar ini. Keduanya sama2 menggunakan kemudi ganda pada kedua sisi buritan.

Sekitar tahun 1920-an atau 1930-an, peran Padewakang digantikan oleh Palari dalam perdagangan maritim. Pangkalan utama Palari adalah pelabuhan Makassar. Setiap tahun dari pelabuhan ini keluar tujuh sampai delapan ribu izin pelayaran untuk perahu layar, dan yang terbanyak adalah jenis Palari. Perahu2 tersebut datang dari sejumlah pangkalan/pelabuhan di kawasan Teluk Bone dan pantai barat Sulawesi. Palari biasanya bertahan selama lebih kurang sembilan bulan menjalankan aktivitasnya.

Pelayaran ke Singapura, sejauh 1.200 mil, ditempuh selama 8 atau 9 hari, dengan kecepatan tertinggi saat angin bertiup kencang 12 knot, atau 9-knot bila kecepatan angin sedang. Panjang perahu rata-rata yang tiba di Singapura 50-70 kaki, dengan daya muat 400 pikul. Dibawa oleh 7-8 orang awak, termasuk Nakhoda.

Perahu bertolak dari Makassar dengan angin musim barat ke kawasan timur Nusantara sampai di pulau-pulau dekat New Guinea (Papua), dan kembali dengan angin musim Timur ke Makassar, atau terus ke kawasan barat Nusantara (Jawa) dan terutama Singapura.

Situasi Makassar dilukiskan dengan baik oleh Hamka dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der WIJCK [edisi pertama terbit 1939] berikut:

“Matahari telah hampir masuk ke dalam peraduannya. [โ€ฆ] Di sana sini kelihatan layar perahu-perahu telah berkembang, putih dan sabar. Ke pantai kedengaran suara nyanyian “Iloho gading” atau “Sio sayang”, yang dinyanyikan oleh anak-anak perahu Mandar itu, ditingkah oleh suara geseran rebab dan kecapi.”

Di antara pengguna perahu Palari adalah orang Mandar. Dalam satu musim pelayaran, Palari dari Mandar dapat membawa muatan senilai 30 sampai 40 ribu gulden. Satu palari dibawa oleh 8-13 awak. Untuk menghidupkan tradisi perdagangan maritim, maka diadakan kursus dagang di kalangan anak2 Mandar.

Diolah dari berbagai sumber.
Note: Gambar perahu-perahu Palari dari Bulukumba (Collins, 1937).

Makassar, Sabtu 28 Maret 2020.

Baca Jugaย Hikayat Daduwali: Epos Benteng Bombonawulu

Membongkar Mitos Kuliah (9)

Novel BAJAK LAUT Sebuah Catatan

ย 

Membongkar Mitos Kuliah (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *