Pengaktifan Pangan Lokal: Waspadai Resesi Global di Ujung Corona

Warga desa, work at home atau kerja dari rumah yang tenar di kalangan orang kota, adalah anjuran yang harus dikembalikan ke peradaban leluhur kita. Mereka melakukan pembatasan sosial dengan pergi bekerja di kebun atau di serong mereka. Mereka menghindari kumpul dengan orang dengan membawa anak anak mereka, ternak mereka ke kebun. Semua sibuk mengaktifkan pangan mereka. Demikian juga dengan nelayan, mereka membawa anak-anak mereka ke seroang, bergumul bekerja ada upaya untuk mempertahankan pangan.

Amerika baru saja melarang ekspor bahan bahan yang berhubungan dengan alat kesehatan. Tidak akan lama mereka juga bisa menghentikan ekspor pangan, sebagai upaya untuk melindungi kebutuhan pangan dalam negeri mereka. Kebijakan itu, akan diikuti oleh berapa negara produsen pangan global. Mereka akan menghentikan ekspor pangan untuk melindungi kebutuhan dalam negeri mereka. Ini adalah sebuah tindakan yang bisa saja terjadi. Negara negara produsen pangan dapat saja menghentikan ekspor untuk kepentingan dalam negeri, ketika hal ini terjadi, ketika bahan pangan menjadi langka di berbagai belahan dunia. Semua kita harus siap menghadapinya.

Kita harus kembali mengaktifkan pangan lokal kita. Pada krisis ekonomi 1997, saya terlibat dalam penelitian pangan lokal di Wakatobi yang melihat sumber karbohidrat, rupanya banyak sekali sumber karbohidrat lokal kita di luar beras. 2015 saya terlibat pada penelitian pangan Tolaki, hasilnya adalah sangat luar biasa. Kebijakan mengkonversi lahan sagu menjadi lahan kelapa sawit harus ditinjau ulang, karena pangan ini sangat penting. Hasil riset itu perlu diaktifkan kembali

Seluruh potensi pangan lokal harus kembali diaktifkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri terutama di masa-masa sulit yang akan terjadi di ujung pandemi Corona, semoga saja ini tidak terjadi. tetapi kita harus mampu menyiapkan diri untuk menghadapi seluruh kemungkinan terburuk ketika terjadi resesi di ujung pandemi ini. Kebun kebun yang selama ini kita tinggalkan, harus diaktifkan mulai dari sekarang. Agar kita bisa kuat di bidang pangan.

Dana desa sudah diarahkan untuk membangun pangan. Berikan perhatian pada penguatan pangan di setiap desa. Karena ketika bahan makanan tidak ada, baru kita akan sadar bahwa uang tidak bisa dimakan. Orang kota sudah harus kembali mengaktifkan kebun mereka di desa, sebagai upaya pembatasan sosial.

Sawah sawah harus kembali ditanam, agar ketersediaan pangan dasar ini (kita dibiasakan untuk makan nasi) sehingga bahan pangan ini tetap stabil. Semuanya terpenuhi, demikian juga dengan dunia peternakan, gerakan untuk beternak bagi warga desa harus digalakkan.

Bagi nelayan, aktif di laut akan lebih aman dari pada di rumah. Kita harus tetap produktif di tengah pandemi, sehingga kita bisa lewati tanpa resesi. Tapi rupanya resesi adalah hal nyata yang harus kita hadapi. Kebun kebun singkong, ubi jalar, pisang, pelaya, sagu, sawah, kelapa, sayur, semua harus aktif, dan ini harus dilakukan di setiap desa secara masif di seluruh Indonesia.

Pangan adalah pertahanan utama kita dalam menghadapi ujung pandemi Corona, tanpa pangan akan kacau, kriminal akan meningkat, pencurian, perampokan akan meningkat.

Mari kita persiapkan, aktifkan semua potensi bahan pangan kita. Semua dana desa agar diarahkan untuk mendukung pemerintah dalam membangun pertahanan pangan. Tanpa peran kita semua, kita akan kewalahan dalam menghadapi masalah pangan sebagai ujung pandemi ini, resesi global. Saatnya kita bersatu padu mengamankan pangan dalam tiga sampai enam bulan ke depan. Caranya dengan mengaktifkan kembali seluruh potensi pangan lokal kita. Karena ketika dunia resesi jangan mengharapkan bisa mengimpor bahan pangan dari negara lain, karena mereka juga akan memprioritaskan kebutuhan dalam negeri mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *