Pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan Sunah adalah Hikmah atau Karunia

Oleh: Sumiman Udu

Dalam beberapa tahun terakhir, Dunia akademik seperti terhipnotis oleh kehadiran Rocky Gerung. Logika dan kemampuannya dalam memahami fenomena alam disajikan dengan bahasa yang apik. Penjelasan penjelasannya sangat apik, sebagai sebuah logika yang berbasis filsafat membuat siapapun pasti terkesima mendengarnya. Penjelasannya, laksana sebuah embun yang menyejukkan. Dengan referensi yang cukup kuat membuat yakin siapapun akan logika yang dimainkannya.

Bahkan ketika menjelaskan tentang dasar berpikir kritis, Rocky Gerung malah menyebutย  Suratย  (Al-Baqarah):269ย  yang mengatakan bahwa “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”.

Al Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah, sama dengan ayat ayat Allah yang ada di langit dan di bumi, ayat ayat Allah dalam proses kejadian, ayat ayat Allah dalam proses kedirian, semuanya adalah teks teks yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang mendapatkan hikmah atau karunia dari Allah SWT.

Dalam konteks budaya Buton, dialetika pemikiran ini telah terjadi lebih dalam memahami berbagai fenomena ayat ayat Allah yang diturunkan dalam berbagai bentuknya. Bahkan dalam Budaya Buton, Al Quran dipahami dan harus terrefleksi dalam kehidupan sehari-hari, sebagai habitus (istlah Bourdieu) dalam tata kehidupan masyarakat.

Dalam sejarah peradaban manusia, telah tercatat orang-orang besar yang mendapatkan hikmah dari Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga mereka memiliki kesadaran yang kritis untuk menemukan berbagai makna dari ayat-ayat Tuhan yang telah diturunkan. Memahami fenomena ayat Allah dalam berbagai bentuk itu, membutuhkan daya nalar dan kritik yang tinggi. Orang-orang barat menyebutnya filsafat, sementara orang-orang Islam menyebutnya Al hikmah, atau lebih sederhananya disebut dengan berita yang diberi petunjuk oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Untuk memahami ayat-ayat dalam bentuk Wahyu semisal Alquran, dan kitab-kitab suci yang lain, dengan kebudayaan Buton dikenal empat kitab Wahyu, yaitu Alquran, Injil, Taurat dan Zabur. Yang kedua mereka mengenal kitab proses kejadian, yaitu fenomena terjadinya apa yang ada dilangit dan di bumi, yang berikutnya mereka mengenal kitab kedirian, yaitu sebuah rumah mana atau rahasia dari berbagai ciptaannya. Misalnya manusia dapat dibagi menjadi rasa, pikiran dan fisik. Yang ke empat adalah kitabullah dalam bentuk alam semesta.

Ini artinya bahwa, dibutuhkan sebuah kasaradan yang begitu dalam untuk dapat memahami sebuah ayat ayat Allah. Bukan hanya pada ayat itu, tetapi bagiamana ayat itu dalam konteks teks itu sendiri, sejarah teks itu diturunkan, lalu dihubungan dengan teks-teks yang lainnya. Di samping itu, kita juga harus melihat bagaimana sebuah teks itu menyatu dengan alam, diri manusia dan juga proses kedirian atau kejadian. Dalam kebudayaan Buton, itu tentunya harus dapat berterima dalam berbagai dimensinya. Ini artinya bahwa hikmah itu akan ditemukan pada siapa saya yang menggunakan alat berpikirnya untuk memikirkan apa yang ada di langit dan di bumi, dimana semua fenomena akan menjadi pelajaran bagi mereka yang berpikir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *