Paus Mati di Wakatobi: Alaram Ke Masyarakat Global tentang Sampah dan Masa depan Kehidupan

Kapota Wakatobi โ€“ Baru-baruini dunia dihebohkan oleh terdamparnya bangkai ikan paus sperma di pulau Kapota Wakatobi, memberikan alaram untuk keberlanjutan kehidupan di planet ini. Setelah diteliti melalui pembelahan yang dilakukan para pemerhati lingkungan, maka ditemukan 5,9 kg sampah plastic berbagai jenis di dalam perut ikan paus.Ini menunjukan bahwa krisis sampah plastic di planet ini sudah tidak dapat lagi diabaikan, marga dunia sudah mulai mengelola sampah dengan baik, mulai dari desa hingga ketingkat organisasi global seperti Unesco.

Menanggapi kematian paus sperma itu, Ketua Badan Promosi Pariwisata Kabupaten Wakatobi LM. Saleh Hanan mengatakan bahwa โ€œSampah plastic musuh manusia, berada di dalam perut paus, hewan kesayangaan manusia yang mati terdampar di Wakatobi. Itu adalah alam untuk dunia bahwa bahaya sampah plastic sudah sangat membahayakan keberlanjutan kehidupan manusia di planet bumi.โ€ Paus Mati di Wakatobi menggegerkan warga Wakatobi yang selama ini bekerja siang malam membersihkan Wakatobi dari sampah-sampah, namun keberadaan Wakatobi dijalur pelayaran global, yakni alki tiga memberikan warning kepada pemerintah, daerah, provinsi dan daerah untuk meningkatkan kesadaran kita dalam pengelolaan sampah dengan baik.

Baca Jugahttps://suaradesa01.wordpress.com/2018/07/27/festival-benteng-tindoi-meleko-mendorong-pariwisata-desa-dalam-merawat-alam/

Beberapa sumber sampah yang terdampar di laut, yang bersumber dari berbagai sumber, seperti sampah dari kapal-kapal yang lewat, sampah keluarga, membutuhkan kesadaran baru untuk menangani sampah, karena kematian paus sperma ini sudah harus dimaknai bahwa dunia sudah tidak nyaman. Usaha Wakatobi untuk melawan sampah dijalur alki tiga, yang menghubungkan benua di utara dan selatan, antara samudra Pasifik dan samudra Hindia.

Kesadaran akan bahaya sampah plastic ini sudah harus menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan desa-desa wisata yang ada di Wakatobi dan Sulawesi Tenggara, karena kesadaran untuk melahirkan desa wisatayang bersih, nyaman dan indah harus mampu memperhatikan keberlanjutan kehidupan. Kematian paus sperma itu, harus dapat dijadikan sebagai bunyi alaram kepada seluruh warga desa yang ada di dunia, bahwa sampah plastic merupakan musuh kehidupan.

Oleh karena itu, gerakan membangun desa wisata, harus memprioritaskan pengelolaan sampah sehingga dapat memilah sampah plastic dan sampah organic. Pemilahan sampah ini merupakan langkah awal dalam mambangun kesadaran disetiap warga desa. Tanpa kesadaran tentang kesadaran sampah, itu artinya kita sedang membiarkan kemusnahan kehidupan. Karena saat ini baru paus sperma yang mati di Wakatobi, di masa depan dunia akan kehilangan lebih banyak makhluk hidup sebagai dampak dari sampah plastic yang tidak terkontrol.  Untuk itu, LM Saleh Hanan menghimbau wargadunia bahwa kasus paus Mati di Wakatobi merupakan warning untuk dunia global, bahwa sampah plastic sudah harus dilawan, karena itu musuh kehidupanโ€.

Baca Jugahttps://suaradesa01.wordpress.com/2018/08/06/padat-karya-desa-wungka-meningkatkan-daya-beli-masyarakat/

One thought on “Paus Mati di Wakatobi: Alaram Ke Masyarakat Global tentang Sampah dan Masa depan Kehidupan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *