Para Perawat Benih

Oleh: Saleh Hanan

// Tulisan cinta untuk para perawat benih kacang merah di Desa Longa, Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi //

Telah tiba musim tanam. Mula-mula kilat mencoret langit utara sore hari. Laron bermunculan, dan buah-buahan di hutan mengkal, juga sarang anai-anai itu, yang memotong jalan setapak tanah bagai garis dari ujung jari telunjuk itu, seluruhnya melaporkan tanda pergantian musim.
Kabarnya, para petani sudah lebih dulu membakar lahan, cara turun temurun yang sulit ditemukan uraiannya di perpustakaan.
Lalu hujan, setiap tetes pada atap, daun dan tanah, mengabarkan kehidupan di pulau-pulau kecil ini. Pilihan mata pencaharian kini ada di daratan.
Para nelayan, yang melihat kode cahaya di langit sore, segera pulang dari karang atol ke pulau. Para pelaut memutuskan dok perahu, memperbaiki papan, mengencangkan temali, menguatkan pasak.
Benih jagung, opa dan kano, bawang merah, tomat, terung, mentimun, kacang panjang, kacang merah, kunyit, paria, telah usai bermandi batata. Mantra agar benih tersembunyi dari hama dan dewi kesuburan memeluknya.
Adegan itu di rumah-rumah petani, dalam gelap yang hening.

Kita? Ayolah, berhenti sekejap. Matikan laptop, berpaling dulu dari memuja para artis, atau kesibukan menyusun kertas-kertas kerja.
Mari melihat para perawat benih ini: jauh sebelum terbentuk departemen pertanian, benih-benih itu selalu ada. Tersedia di desa tiap tahun.
Apa artinya itu?
Siapakah mereka, yang menyimpannya, yang merawat benih itu? Bahkan bagaimana perasaan mereka turut tercurah untuk itu?
Dimulai ketika panen, hasil yang akan dimakan dipisahkan.
Biji pilihan untuk benih tetap dibiarkan utuh dalam bungkusan kulitnya.
Siang hari, biji-biji pilihan itu ditaruh di atas batu, pagar, atau dalam tikar daun yang hangat, di halaman. Sinar matahari mengeringkannya.
Lepas dari itu, benih-benih dikumpul, diikat, digantung di bawah loteng dapur.
Asap dan hawan api dari kayu bakar di tungku menjangkaunya tiap waktu. Jamur dan kutu-kutu menjauh.
Tangan-tangan perawat benih, mengarah padanya macam mengajaknya bicara. Senantiasa.
Sampai tibalah hari ini, waktu menanam.

Jelaslah, bukan saja keterampilan memilah polong, biji, dan isi yang terlihat. Namun, ada melodi dalam tangan dan indra para perawat benih.
Melodi luruh dalam gelombang menembus inti benih. Menguak tegmen hingga sampai lembaga biji, embrio.
Perlakuan yang melebihi perintah perut. Pertunjukkan cara merawat substansi.

Benar, tak akan ada kuah hangat sup di atas meja makan presiden, tanpa rempah yang telah menempuh perjalanan jauh.
Dari kebun, ke atas timbangan, ke dalam karung, lalu terhempas ke bak mobil, yang membawanya meninggalkan desa.
Dari pelabuhan ke palka kapal, mengarungi laut, melewati pulau-pulau.
Dari pasar ke dalam tas belanja, sebelum berakhir di dapur istana, dan siap sedia di depan mata pisau, disisi api atau dalam mesin blender, atau alat tumbuk yang menghancurkannya.
Hidangan, adalah adalah akhir siklus yang bermula dari benih.
Adapun melodi tadi, ketukan halus buatan para perawat benih itu. Nilai rasa yang menghanyutkan melodi paling ditunggu, yaitu kesetiaan macam para petawat benih pada substansi.
Itu artinya!

Maka sekarang, panggil para perawat benih dengan Yang Mulia.
(bukan lagi, cuma untuk para raja dan profesor).

CeritakanWakatobi

Desa Longa, 3 Desember 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *