Pantai Nambo: Sebuah Kenangan dan Destinasi

Pantai Nambo merupakan salah satu destinasi wisata yang ada di kota Kendari. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Kendari, melalui Lapulu, Anda dapat menjangkau pantai Nambo dalam waktu 15 sampai 20 menit. Saat ini, pantai Nambo merupakan salah satu destinasi favorit masyarakat kota Kendari.

Sekitar tahun 1995, pantai ini masih sangat original. Masih banyak mangrove dan kelapa di pantai ini. Mahasiswa pada tahun 1995, masih menikmati pantai ini dengan segala keunikan dan naturalnya. Setelah 25 tahun kemudian, pantai Nambo, memberikan keunikan dan kekhasan bagi masyarakat kota Kendari. perbedaannya adalah banyak pohon pohon mangrove yang tumbuh di pantai ini tidak ada lagi. Generasi milenial telah kehilangan kesempatan untuk menyaksikan pohon pohon mangrove di pantai ini. saat ini mereka menemukan kondisi pantai yang indah dan rapi tetapi sudah menyatu dengan berbagai ketentuan pemerintah kota Kendari.

Beberapa masyarakat lokal juga dapat berjualan di Pantai ini. Setiap hari libur mereka datang ke jualan. Mereka menawarkan buah kelapa untuk para pengunjung, mereka juga menawarkan beberapa minuman, makanan ringan.

Untuk para pengunjung yang membutuhkan makanan dan minuman segar, Anda bisa memesan kelapa muda dengan harga yang sangat terjangkau. Satu buah kelapa muda Anda bisa membayarnya dengan harga Rp10.000. Ada juga yang sudah diolah dalam bentuk tes kelapa muda yang dicampur dengan gula kelapa.

Kalau ada jalan-jalan di pantai ini, sekitar 300 meter dari pantai anda dapat menyaksikan pelabuhan kapal peti kemas. Dan ketika anda memandang jauh ke depan, sekitar berapa mil Anda akan melihat pulau Bokori yang juga merupakan salah satu destinasi unggulan kota Kendari.

Pantai Nambo

Kalau Anda datang bersama tim atau rombongan, Anda bisa memesan ikan segar pada rumah terapung Pak Jaya. Saya masih teringat beberapa puluh tahun yang lalu, ketika seminar internasional pernaskahan Nusantara yang dilaksanakan di kota Bau-bau pulau Buton, beberapa tamu kami antar ke rumah terapung ini untuk memancing ikan dan memasaknya di sana. Sesuatu yang cukup menarik dan sangat alami.

Kenangan-kenangan itu, tentunya bukan hanya soal bakar ikan dan pohon mangrove yang ada di pantai ini. setiap generasi 90-an yang pernah datang ke pantai Nambo pasti memiliki kenangan tentang cinta di pantai ini. Maka berkunjung ke pantai ini adalah sama seperti masuk ke lorong waktu masa lalu, untuk mengenang berbagai kenangan terutama para mantan. Yah, tentunya siapa saja yang pernah ke pantai ini, dan ketika berkunjung sekarang mereka akan masuk ke lorong waktu itu.

Sama seperti di film Dilan, di mana warga kota Bandung akan mengenang masa-masa tahun 90-an melalui sebuah novel yang kemudian difilmkan. Bagi warga kota Kendari, kenangan-kenangan itu belum ter tuliskan dalam bentuk film dan novel, mereka masih tersimpan rapi dalam sejarah dan ruang ruang waktu yang kosong, yang hanya bisa dapat diakses kembali apabila anda berkunjung ke pantai ini. Maka berkunjunglah ke sini, anda akan diberikan kesempatan oleh Tuhan sebuah film yang panjang tentang masa lalu anda. Alurnya akan dimulai dengan memutar pantai Nambo, air laut yang surut, pasir putih, anak-anak yang berkejaran di pantai. lalu Anda akan masuk ke lorong lorong waktu sehingga Anda akan duduk di bawah pohon, di atas pasir putih pada saat Anda masih lugu nya di kota Kendari. anda akan menonton sebuah film dalam memori anda ketika anda berbaring di pantai bersama pacar anda. Bagian dari sekuen cerita dalam film yang ada dalam memori Anda juga akan terakses dengan cepat ketika anda melihat anak-anak di Nambo bermain ban. Segitiga film yang ada dalam memori anda akan terputar, terbayang perempuan cantik yang ternak Anda latih untuk berenang. Terbayang wajahnya dan senyumnya, terbayang pada kata-kata anda. kata-kata cinta yang saat ini entah ke mana arahnya setelah kalian tidak jadi. Film itu akan kembali terputar dalam memori anda ketika anda datang berkunjung ke pantai ini.

Itu bisa saja terjadi pada siapapun yang pernah datang ke pantai Nambo 25 tahun yang lalu. Tetapi bagi generasi milenial yang datang ke Nambo, mereka tidak diberi akses oleh Tuhan untuk memutar film itu. tetapi Tuhan akan memberi kesempatan kepada generasi milenial untuk membangun image masa depan yang juga berasal dari pantai ini.

Banyak generasi milenial yang datang bercinta di sini, dan memori derita akan memutar sebuah film masa depan yang berisi harapan harapan, dan juga berisi tentang kekhawatiran kekhawatiran. Itu semua Anda bisa menikmati ketika anda berada di pantai ini.

Bagi para ibu dan ayah, yang pernah hadir ke pantai ini 20 sampai 25 tahun yang lalu, kereta akan datang ke sini dan bercerita kepada anak-anak mereka, bahwa dulu pantai ini penuh dengan mangrove dan pasir putih. Belum ada pelabuhan itu, masih penuh dengan pohon pohon mangrove yang hijau, dan kalau imajinasinya lebih jauh, mereka akan bercerita bahwa di bawah pohon mangrove itu ada ribuan kehidupan yang selalu berkembang dari waktu ke waktu, ada jutaan bibit ikan, bibit kepiting, bibit udang yang tentunya tunggu di sana. Kini semuanya telah pergi, karena di tempat nongkrong itu sudah dibangun pelabuhan peti kemas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *