Pantai Bhela’a, Potensi Pengembangan Wisata Pulau Binongko

Hakka, Binongko – Dalam sejarah, Binongko memang sudah menjadi daerah yang memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Dalam sistem pemerintahan Kesultanan Buton, Binongko merupakan pulau yang lebih pantas disebut sebagai pulau paling berdinamika. Berbagai surat sultan Buton ke gubernur Jenderal Belanda di Batavia atau Jakarta sekarang, tentang adanya rencana Binongko dan Patua untuk menyerang Wolio, hingga meladaknya perang antara Binongko dengan Wolio yang masing-masing di pimpin oleh Kapitan Waloindi dan pihak Kerajaan Buton di pimpin oleh Sapati Baluwu atau La Ode Rafani.

Kisah itu, menyimpan banyak kenangan bagi masyarakat Binongko dan juga masyarakat Buton secara umum, dan selama ini dijadikan sebagai rahasia yang tidak bisa lagi diketahui oleh generasi mendatang. Prespektif ini tentunya memiliki tujuan agar generasi mendatang diwariskan sebuah sejarah yang baik, dan jangan meninggalkan sejarah yang saling melukai. Tentunya tujauannya sangat baik, tetapi secara psikologi generasi Buton termasuk masyarakat Binongko hari ini kehilangan sejarah bangsanya, sehingga mereka tidak dapat belajar dari sejarah panjang negerinya.

Baca Juga Air Jatuh La Wele: Potensi Pengembangan Pariwisata Desa

Kalau Anda jalan-jalan ke bagian selatan pulau Binongko, khsusunya di daerah lampu mercusuar yang ada di sana, kisah misteri itu masih hidup sampai sekarang. Larangan untuk tidak menggunakan bahasa Wolio masih tetap hidup sampai sekarang di masyarakat Binongko. Mereka kehilangan makna histori, mengapa penggunaan bahasa itu dilarang, pada hal itu adalah bahasa kerajaan Buton. Dampaknya adalah mereka juga kehilangan kesempatan untuk belajar dari sejarah masa lalu yang ada di pulau Binongko. Pada hal, dalam berbagai kita suci di dunia, tetap menajdikan sejarah kelam masa lalu dan harapan masa depan menjadi tiga dimensi waktu yang tetap ada.

Baca Juga Produk Wisata Lanskap Sombu Daragunti: Dibangun dengan Model Padat Karya

Mungkin, dengan mengembangkan Binongko sebagai salah satu destinasi unggulan Wakatobi dan Indonesia, saatnya sejarah masa lalu itu dibuka, sekelam apapun, agar dapat dijadikan sebagai ruang pembelajaran generasi mendatang. Karena berbagai kisah peperangan itu, dibuka atau tidak dibuka, tetapi hidup dan beredar dari mulut ke mulut terutama masyarakat Binongko.

Yang perlu dilakukan adalah upaya menyampaikan makna dari setiap peristiwa masa lalu, sehingga generasi hari ini dapat membangun masa depan mereka yang lebih baik dan berkelanjutan. Untuk itu, dalam konteks pariwisata, pengembangan pantai Bhela’a harus dikemas sebagai salah satu situs peperangan yang terjadi antara Kapitan Waloindi dengan Sapati Baluwu. Ini akan memberikan pelajaran bagi generasi mendatang, perlunya saling menyayangi, memelihara, menghormati, dan saling menjaga kehormatan sebagai anak-anak manusia.

Namun, beberapa hal yang menjadi kendala pada pengembangan pantai yang ada di desa Hakka kecamataan Togo Binongko ini masih terkendala pada beberapa aspek infrastruktur dasar seperti Jalan yang belum teraspal, sehingga menjangkau wilayah pantai Bhela’a masih sangat susah, karena masih berbatu. Selain itu, infrastruktur lainnya, seperti listrik dan air bersih juga masih membutuhkan intervensi pemerintah baik kabupaten, provinsi dan pusat.

36064540_331340214067859_7446435455366594560_n
Kondisi Jalan dari desa Hakka menuju Pantai Bhela’a

Potensi pengembangan wisata pantai Bhela’a juga akan ditunjang oleh wisata budaya yaitu perkebunan pisang di atas batu cadas, benteng Hakka dan Benteng Waloindi. Di samping itu, pantai ini juga dapat dikoneksikan dengan Benteng Waloindi  sebagai salah satu bagian kekuatan wisata yang dapat dikemas dalam satu kemasan pantai Bhel’a. Sementara wilayah selatan pantai ini sekitar lima ratus meter ada mercusuar yang sekaligus wilayah laut dimana bahasa Wolio dilarang di daerah ini.

Ini tentunya berhubungan dengan kisah peperangan yang terjadi, dimana ketika Sapati Waolindi kalah, maka ia sempat mengatakan bahwa, “kau sudah kalahkan saya La Bhela, tetapi kau juga tidak akan dapat meninggalkan pulau Binongko”. Maka setelah pasukan Sapati Baluwu mau meninggalkan pulau Binongko, maka datanglah badai yang kemudian menenggelamkan kapal-kapal mereka di pantai itu (su001).

Baca Juga 

Cara Hebat Konservasi: Pantai Sousu di Sulap Menjadi Ruang Publik Wisata Desa

Lanskap Daragundi: Potensi Wisata Alam Po’okambua

Dua Pulau Tak Berpenghuni di Morowali Utara: Potensi Pengembangan Wisata

Harga Kelapa Terjun Bebas: Bagaimana Nasib Petani di Desa?

20 Tahun Tak Pernah di Aspal, Warga La Wele Tanam Pisang Demi Paru-Paru Anak-anak

6 thoughts on “Pantai Bhela’a, Potensi Pengembangan Wisata Pulau Binongko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *