Padewakang dan Perdagangan Musiman Ke Kepulauan Maluku abad ke-19

Oleh: Abd. Rahman Hamid

Buku ini berisi kumpulan catatan perjalanan dari abad ke-16 sampai abad ke-20 yang disunting oleh George Miller (1996) diterbitkan Oxford University Press: Kuala Lumpur. Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan kembali oleh Komunitas Bambu, Depok (2012).

Judul buku: Indonesia Timur Tempo Doeloe. Wilayahnya mencakup Sulawesi, Kepulauan Sunda Kecil, Timor, Maluku, dan Irian Barat (Papua Barat).

  1. Pengantar
    Satu catatan dibuat oleh Letnan D.H. Koff, seorang perwira angkatan laut Belanda yang ditugaskan pada sebuah korvet [kapal perang berukuran kecil yang bertugas sebagai kapal pemburu]. Pada tahun 1825, dia berlayar dan tiba di Kepulauan Aru, terletak di Laut Arafura.

Pada 31 Agustus, Koff lepas sauh dari Wokam untuk berlayar menuju Dobo, sebuah desa yang terletak di sebuah tanjung: sebidang tanah berpasir sempit sepanjang 500 yard [=457 m] yang membentang dari timur-laut. Tanah itu dijadikan persinggahan perahu2 dagang yang berlabuh di bagian timur atau barat, tergantung kondisi angin musim yang berhembus kala itu. Sekitar 14 atau 15 pondok didirikan di pinggir pantai. Di sana perahu2 ditambatkan dan diperbaiki.

Tidak mudah memasuki pelabuhan Dobo. Di antara Wamar dan Wokam terdapat saluran sempit dan berkelok2 dengan karam2 tajam. Kedalaman air sekitar 8 sampai 10 depa (14 sampai 18 m).

  1. Kedatangan Padewakang
    Pada awal musim Barat (bulan Desember), sejumlah kapal padewakang (paduakan) dari Makassar bersama kapal-kapal lain dari daerah yang berbeda _ antara lain Kep. Kei dan Goram _ berlabuh di sana. Sebagian besar kapal2 itu ditarik ke pantai selama merapat dan terlindung karena dinaungi dengan atap. Para pedagang itu, dengan bantuan penduduk lokal, mendirikan rumah2 untuk tempat tinggal mereka dan penyimpanan barang. Senjata mereka ditaruh di sekeliling rumah.

Para pedagang tinggal sampai bulan Juni, ketika angin musim timur mulai berhembus ke barat. Antara musim barat dan timur, penduduk Dobo sangat padat. Ketika para pedagang tiba, mereka segera menyewa perahu2 dari penduduk lokal yang kemudian digunakan oleh sebagian awaknya ke pulau2 yang jauh di kawasan itu untuk membeli teripang, sarang burung, dan kulit kerang mutiara. Perdagangan ini dilakukan setiap hari. Bila ada konflik soal perbedaan harga, maka mereka minta bantuan Orang Kaya di sana untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Setiap nakhoda (komandan) kapal diwajibkan membayar bea berlabuh dan sewa tanah dengan sejumlah arak dan beberapa helai kain. Dari situlah sumber pemasukan penduduk lokal.

Begitu para pedagang tersebut pergi, maka Dobo menjadi sepi hingga sampai awal musim barat berikutnya. Selanjutnya, penduduk lokal membakar rumah2 yang ditinggalkan oleh para pedagang, dan mereka kembali bengun rumah baru pada tahun berikutnya.

  1. Perahu Lokal
    Perahu2 yang dibuat di sana sangat panjang, biasanya tidak kurang dari 70 kaki atau 21 meter, dengan lebar 10 kaki (3 meter). Badan perahu terbenam agak dalam ketika diapungkan di laut.

Mereka melihat sekitar 30 perahu tersebut bersandar di pantai. Dari hasil pengamatan tampak bahwa di tengah2 perahu terdapat sebuah panggung yang digunakan sebagai tempat memasak. Perahu itu berlayar kapan saja, dihiasi dengan sejumlah bendera yang dikibarkan di buritan dan lainnya di sepanjang sisi perahu. Benderanya berbentuk segi tiga dan berwarna-warni.

Perahu milik kepala suku lebih besar dari semua perahu di sana dan juga banyak bendera yang menghiasinya.

Penduduk di bagian barat Pulau Aru memesan perahu khsusu dari Pulau Kei, karena kualitasnya lebih baik (kuat) dan lebar dibandingkan produksi lokal (pandai perahu di pulau Aru bagian timur).

  1. Berlayar Lagi
    Pada 4 September, kapal yang membawa Letnan Koff dan rombongan lepas sauh dari Aru menuju Pulau Wadia. Mereka diberikan bahan makanan dan buah-buahan oleh penduduk lokal. Sejumlah perahu mengiring kapa tersebut hingga jarak yang cukup jauh, sementara penduduk di darat memainkan musik dengan gong dan lagu2 riang sebagai tanda persahabatan.
  2. Catatan akhir
    Informasi di atas menunjukkan hubungan saling membutuhkan antara para pelaut-pedagang dengan penduduk lokal, sehingga kedatangan perahu2 dari luar Aru selalu dinantikan. Kita bisa melihat bagaimana kerja sama di antara mereka. Para pelaut menghargai tokoh masyarakat setempat, misalnya Orang Kaya.

Perdagangan musiman, tidak hanya soal pertukaran barang yang bernilai ekonomis, tetapi juga perjumpaan budaya dari pihak-pihak yang berbeda suku, bahasa, dan agama. Penduduk lokal bisa mengenal budaya dari para pedagang yang datang, sekaligus menambah wawasan mereka soal dunia luar, termasuk dalam komoditas yang dibawa oleh para pelaut.

Hanya karena keterbukaan penduduk lokal, maka para pelaut dan pedagang dapat melanjutkan aktivitas musimannya. Sungguh, suatu hubungan yang indah, โ€ฆ jalan memahami keberagam masyarakat Nusantara di masa lalu. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kata Bung Karno.

Disarikan oleh Abd. Rahman Hamid
Makassar, 12 April 2020.
Stay at Home. Work from home.
Jangan lupa membaca dan menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *