Nyamuk Sombano dan Banjir Jakarta

Oleh: Saleh Hanan

Warga mengeluhkan nyamuk ketika musim barat di Desa Sombano. Banyak dan pedis gigitannya. Tahun 2005, 14 tahun lalu, tim kami yang datang ke desa itu terdiri dari tenaga kesehatan masyarakat dari pemerintah daerah, dan outreach officer dari salah satu NGO konservasi internasional.
Tentu tim ini bicara dari sudut pandang mereka. Tiba giliran saya bicara, saya hanya butuh masyarakat bercerita menjawab pertanyaan saya sebelum jadi kampung manusia, tempat itu tempat apa?
Kata warga dulu adalah hutan bakau. Sambil berharap warga tidak tersinggung, saya bicara diujung cerita warga tentang sejarah desanya, “Berarti kita yang tinggal di rumah nyamuk, bukan nyamuk yang datang bertamu.”
Para tenaga kesehatan bingung. Materi ‘competing claim’ habitat nyamuk atau manusia, tidak ada dalam modul-modul kesehatan. Konflik abadi ini diatasi dengan praktek pembersihan lingkungan, memasang poster bahaya nyamuk dan indahnya hidup bersih dll.
Desa Sombano berada di Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi. Ribuan kilometer dari Jakarta yang dikunjungi air. Banjir, bahasa konfliknya.
Jakarta, ya kami tahu Jakarta. Tempat seluruh orang pintar, berkuasa, ibukota seluruh uang. Tidak ada yang kurang kecuali satu: tak siap saat air berkunjung. Berkunjung? Kata ini dalam kamus berarti mendatangi suatu tempat. Secara sosial, pada mahluk hidup (fauna) kunjungan identik dengan tradisi migrasi musiman, area sosial, dll yang sifatnya teratur, reguler.
Lalu, banjir Jakarta ini kunjungan air?

Baca juga HIPMI Wakatobi Yogyakarta: Ruang Kekeluargaan yang Damai
Air bukanlah fauna yang punya feeling dan bisa bergerak teratur. Air adalah materi yang mengisi tempat kosong dan rendah. Jika begitu yang kurang di Jakarta adalah tempat jalan air.
Orang Jakarta memperbaiki tempat jalan manusia dan kendaraan mereka tiap tahun. Atas tanah, bawah tanah, dan layang. Belum dicoba, seluruh jalan yang ada saat ini dibawahnya dibuat jalan untuk tempat air ‘berjalan’.
Sombano atau Jakarta tidak sedang kedatangan tamu. Akan tetapi jangan-jangan merebut tempat ‘pihak’ lain. Nyamuk dan air.

Baca Juga Metode La Uge: Konsep Survival dalam Era Industri 4.0 (1)

Refleksi Atas Ekosistem

Tulisan Saleh Hanan, mengingatkan kita, betapa kita tidak bijak dalam bergaul dengan lingkungan dan atau alam semesta. Ketika banjir, semua kita baru kaget, bukankah kita tidak menyadari bahwa kadang kita bermukim di semak semak, yang sebenarnya adalah ekosistem air atau nyamuk.

Yogyakarta memiliki kearifan lokal dalam menghadapi nyamuk, saluran air diperbaiki, air mengalir dengan baik. Pemerintah daerah juga selalu menabur benih ikan di selokan, telaga dan pinggir pinggir sawah, untuk membangun keseimbangan nyamuk. Ikan memangsa jentik nyamuk, dan keseimbangan lingkungan terjaga, nyamuk ada tapi tak banyak.

Konsep Yogyakarta kami terapkan di Kendari, semua genangan air ada bibit ikan, kami hanya membangun komitmen bersama bahwa tidak boleh mengambil ikan dengan racun dan strom, sehingga ikan tetap ada di ikan, maka hasilnya luar biasa, nyamuk berkurang signifikan, dan bisa bersantai di luar rumah di malam hari.

Itu artinya, sebenarnya bisa berdamai dengan alam, asal tahu bahwa alam memiliki sifat sifat yang tak dapat dilawan, semacam Jakarta, perlunya pengembangan jalan yang dapat menyerap air yang banyak. Misalnya jalanan yang dibangun dengan sistem pasir yang banyak di bawah jalanan. Saya pernah melihat konstruksi jalan pafin blok yang dibangun di Belanda, khususnya di kota Leiden, di dalam di sampan pasir yang tebal, beberapa meter, sehingga tak ada air yang tergenang di atas, karena pasir berrongga, dan itu mungkin cara mereka mengatur air, di samping cara lain yang dapat dilakukan, sehingga air atau nyamuk bisa hidup berdampingan dengan manusia.

Penulis: Saleh Hanan

Editor dan Diskusi Sumiman Udu

Baca juga Ara Nobhae na Gendi: Nokoru Nawokirano (Kalau beringin itu masih berbuah, merpati mutiara akan banyak yang datang)

Algoritma La Morumoru (Bagian 1)

Hari Guru: Mengenang Guru-Guru Kita yang Hebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *