Narasi Sejarah: Softstruktur Potensi Wisata Sejarah Benteng Buton (1)

Beberapa tahun lalu, saya mendapatkan tugas untuk mendesain bagaimana memasarkan benteng Buton dari sudut pariwisata. Banyak potensi wisata sejarah yang ada di dalam benteng itu, dan itu salah satu kekuatan destinasi wisata sejarah ini. Memang aspek manajemen pariwisata ini perlu dilakukan secara professional sesuai dengan tuntutan zaman, yang ada di era industri 4.0. Semua potensi wisata sudah harus dideskripsikan dalam bentuk digital, sehingga pengunjung tertarik untuk berkunjung ke Bentang ini. Sebuah musem Anne Frank di Amsterdam dapat dikunjungi oleh wisawatan manca negara karena menceritakan peristiwa kekejaman Nazi. Museum dapat menjadi salah satu sumber devisa bagi negara Belanda.
Untuk kasus benteng Buton, banyak potensi harus dijelaskan melalui tulisan yang indah, sehingga mengajak orang untuk berkunjung ke situsnya, karena pemasaran pariwisata harus mampu menarasikan semua potensi budaya, baik dalam bentuk narasi gaya sastra atau gaya sejarah. Ini sangat penting untuk membangun Benteng Buton sebagai salah satu destinasi wisata yang luar biasa. Dan kita berharap dapat menjadi kekuatan pariwisata Buton yang dapat menghasilkan devisa terutama bagi pemerintah kota Baubau.

Dalam hasrat untuk membangun narasi-narasi mengenai potensi benteng Buton itu, pagi ini saya membaca sebuah narasi yang menarik untuk mengajak pengujung untuk melihat kuburan Karaeng Tunipasulu yang ada di Benteng Keraton Buton yang ditulis oleh La Yusri. Tentunya ini akan memberikan informasi penting untuk situs ini, terutama bagi wisatawan yang memiliki minat khusus, sejarah Buton, atau anak cucunya yang berasal dari tanah Gowa, Makassar. Tulisan itu, diuraikan sebagai berikut di laman facebook La Yusri dengan judul โ€œKaraeng Tunipasulu: Raja Gowa ke-13 Mangkat di Butonโ€.

Narasi penting ini dimulai oleh La Yusri dengan kalimat.

“Jika sampai waktu mangkatku, makamkanlah jasadku dimana saya bisa dengan lapang memandangi Gowa: negeri leluhur dan asal datangku…”

(Wasiat Karaeng Tunipasulu kepada Sara Kesultanan Buton)

***

SESUDAH penyerbuan yang gagal ke Wajo dalam tahun 1590, Karaeng Gowa ke-12 I Manggarai Dg Mammeta Karaeng Bontolangkasa, gugur dalam perjalanan pulangnya.

Diberitakan, ia diamuk oleh sahayanya sendiri yang adalah juga saudara tetek sesusuannya: I Lolo Tamakkana.

Seseorang yang diam-diam telah menaruh amarah dan memendam dendam terhadapnya.

Kesumatnya tersulut naik menjadi amuk liar yang tak terkendali, tandas ia menusuk dari belakang, raja yang seharusnya dilindunginya itu.

Karaeng tersungkur bersimbah darah, raganya meregang melepas nyawanya naik ke langit. Ia gugur di ujung badik abdinya sendiri.

Dengannya ia mendapatlah gelar anumerta sebagai Karaeng Tunijalloa, kira-kira berarti: “Karaeng atau Raja yang diamuk”.

Naiklah kemudian anak sulung lelakinya, menggantikan kedudukannya sebagai Karaeng Gowa ke-13, usianya masih belia betul; lima belas tahun.

Pendiriannya tegas dan bahkan keras, sikap itu dibawanya sebagai waspada, awas terhadap segala kemungkinan terburuk.

Ia trauma dan khawatir, petaka pada ayahnya bakal jatuh menimpanya juga. Maka ia memerintah dengan keras, bahkan sebagian menyebutnya kejam

Sekalipun senasab, ia tak mau senasib ayahnya: mati memalukan diujung badik sahayanya sendiri, mangkat ditikam abdi sendiri. Tak hanya sebenarnya itu memalukan, tetapi sekaligus juga memilukan.

Memakai “tangan besi” ia menjalankan kuasanya, yang berseberangan diberangusnya. Yang tak disukainya disempalnya, yang Melawannya dibunuhnya tanpa diberi belas kasih.

Karena sikap awasnya yang besar itu, Ia dapat mengendus sesiapa saja, bauannya tajam serupa endus bauan anjing pemburu.

Sebab ia tak mau celaka sebagaimana ayahnya celaka, mati ditikam oleh sahaya yang seharusnya melindunginya, maka ia tak mempercayai siapapun.

Ia menitah, bahkan terhadap saudara tua/kakak sekalipun tak memerlukan dihormati, jangan melepas curiga terhadap siapapun saja.

Sikapnya yang terlalu keras itu dianggap membahayakan kerajaan, ia disebut telah berlaku sewenang-wenang, menyalahgunakan kuasa dan kewenangannya.

Dengan begitu ia dianggap telah menempatkan kerajaan dalam bahaya yang besar.

Maka ia diturunkan dari tahtanya secara paksa dalam sebuah gerak pemakzulan paling dramatis: ibunya sendiri, mantan Raja Tallo kelima dan Imalinkaang Raja Tallo keenam yang juga adalah pamannya memintanya melepas tahtanya, dan ia menurut

tetapi tak hanya Ia dilepaskan dari kuasanya, bahkan “dikeluarkan” pula dari tanah Gowa: Selamanya!

Menghindari amuk, adik lelakinya yang kemudian tersohor sebagai Sultan Alauddin didorong naik menggantikannya, juga dalam usianya yg masih belia: tujuh belas tahun.

Dalam situasi yang racau, untuk menghindari konflik merembes keluar istana, Raja Luwu turun tangan menolongnya, memberi suaka untuk sementara tinggal di Luwu sebelum ke pengasingannya di sebuah tempat yang disebut sebagai pulau terjauh dan tiada “berkehidupan”: pulau Buton.

***

Narasi Sejarah: Softstruktur Potensi Wisata Sejarah Benteng Buton (2)

Desa Wisata Posalu: Bergegas Menuju Penetapan desa Wisata

Tiga Tempat yang Paling Dirindukan Mantan di Wakatobi

Resto Desa Berbasis Hutan Adat Kadhia WanseMakan Sutan Gowa Ma Maja

2 thoughts on “Narasi Sejarah: Softstruktur Potensi Wisata Sejarah Benteng Buton (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *